
Suara deburan ombak, begitu keras menepa pantai. Dara terbangun ketika cahaya matahari pagi menembus kaca langsung menuju matanya.
Refleks matanya memicing dan meletakkan punggung tangannya menghalangi matanya.
Kemudian dia tersadar mereka berada di salah satu kamar hotel dengan view terbaik pinggir pantai di tanah Bali, Nusa Dua.
Saat matanya terbuka, yang terpampang adalah laut dari kejauhan dari balik dinding kaca.
Windu bergerak sedikit, tapi tampaknya dia terlelap. Wajah tampannya tampak segar merona. Terlihat pias kelelahan. Mereka berdua benar-benar tak ingin melewatkan waktu. Dara memberikan pelayanan terbaik pada suaminya itu hampir sepanjang malam.
Andai dia tidak sedang hamil, maka dia akan sanggup terjaga untuk membuat Windu bertekuk lutut di kakinya.
Dara mengangkat tangannya ke atas kepala. Menggeliat sambil melemaskan otot-otot tubuhnya.
Badan Dara masih terasa pegal luar biasa, sebenarnya itu membuatnya enggan bergerak. Windu telah membuatnya hampir-hampir tak punya waktu memejamkan mata, dia seakan benar-benar mewujudkan malam honeymoon impiannya.
Dara beringsut melepaskan diri dari pelukan Windu dan berbaring miring, tubuh mereka berdua hanya di tutupi oleh selimut tebal.
Senyumnya mengambang melihat suaminya terlelap dengan begitu nyamannya.
Dengan iseng di sentuhnya hidung Windu. Laki-laki itu menggeliat seperti ulat yang begitu malas tanpa membuka matanya.
"Uhmmm..." Suaranya seperti dengung, tapi tangannya lengket di pinggang Dara. Dara meringis melihat tingkah Windu yang seperti anak kecil itu.
Sepanjang malam, dia membuat Dara tak kalah kewalahannya. Si dingin yang sok ini ternyata sangat perkasa saat dibakar gairah. Windu
benar-benar suami yang sempurna untuk Dara.
Dara meringis lagi, bukan karena dia sedang senang mempermainkan Windu yang sedang tidur tetapi karena perutnya yang keroncongan.
"Kak..." Dara menggoyang-goyangkan bahu Windu.
Tapi orang yang di goyangkannya itu tak bergeming sama sekali.
"Kak Win..." Dara memanggil dengan suara lebih keras.
"Hm..." Windu akhirnya bersuara meskipun dia tidak membuka matanya.
__ADS_1
"Kak, bangun..."
"Ha..." Windu membuka matanya sedikit dan buru-buru menutupnya karena silau dengan cahaya yang sampai di matanya.
"Selamat pagi, cinta..." Ucap Windu setengah meracau antara sadar dan tidak.
"Kak Win, bangunlah."
"Kenapa? Aku masih mengantuk, sayang. Aku masih ingin tidur." Windu menyahut dengan suara malas.
"Aku lapar..." Dara berucap dengan suara memelas.
Windu akhirnya membuka kedua matanya, sesaat wajah saling memandang, sementara Windu selerti sedang mengumpulkan separuh dari nyawanya yan masih melayang-layang.
"Lapar?" Windu mengulang, lalu menyadari mereka tidak sedang berada di rumah.
"Istriku ini kelaparan, ya...? "Windu membuka matanya besar-besat dan menyentuh pipi Dara dengan lembut.
"Iya. Bukan hanya aku yang lapar tetapi anakmu juga lapar." Kata Dara setengah menggoda Windu.
"Sekarang jam berapa?"
"Hampir jam tujuh." Dara melirik je arah jam tangannya yang ada di meja samping kepalanya.
"Kita sebaiknya sarapan kalau begitu." Windu bangun dan menegakkan tubuhnya.
"Kamu mau sarapan di kamar atau kita ke resto hotel?"
"Aku mau keluar saja, kita sarapan di resto hotel sambil menghirup udara pagi yang segar ini." Dara menurunkan kakinya lalu mengambil piyama handuk yang tergeletak di lantai.
"Aku akan mandi dulu, setelah itu kita keluar." Ujarnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Windu hanya nyengir menatap punggung sang istri. Betapa menyenangkan saat dia terbangun dan ada seseorang yang sangat di cintainya berada di sampingnya
"Tidak perlu mengagumiku seperti itu..."Celetuk Dara tanpa menoleh, menirukan kalimat yang sering di ucapkan Windu saat sedang menggodanya.
"Kamu tidak mandi sayang?" Tanya Dara menggoda ketika sampai di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Aku boleh mandi bersamamu?" Tanya Windu dengan mimik lucu.
"Kemarilah, aku akan memandikanmu." Sahut Dara dengan raut seperti emak-emak yang sedang nerayu anaknya mandi.
Windu tanpa fikir panjang langsung melompat dari atas tempat tidur sambil bergegas menyusul Dara masuk ke kamar mandi.
Sebucin itu Windu pada istrinya itu.
***
Dara dan Wundu berjalan bergandengan ke arah resto hotel dengan pemandangan pantai di pagi hari yang begitu segar.
Laut biru menghampar, mengantarkan pemandangan indah yang menyenangkan.
"Papa sudah turun atau belum, ya?" Tanya Dara sambil celingukan, tetapi tak menemukan sang ayah di antara beberapa tamu yang sedang duduk menikmati sarapan pagi.
"Papa jarang mau sarapan pagi di luar, biasanya dia menggunakan jasa room service menu." Sahut Windu.
"Mbak Parmi dan Fitri mana, ya?" Dara masih penasaran dengan orang-orang bersamanya dalam rangka mendatangi suaminya itu.
Dua orang pengawal Sarah tampak membukuk dari sebuah meja di ujung, memberi hormat kepada boss mereka. Windu hanya menganggukkan kepalanya dan mberi isyarat mereka melanjutkan makannya.
Saat mereka hendak mengambil sebuah meja, tanpa sengaja mata mereka bersirobok pandang dengan Fuji yang tampaknya baru selesai sarapan di meja sebelah di mana mereka akan duduk. Dia sudah rapi, dengan stelan lengkap, layaknya seorang sekretaris yang siap bekerja.
"Selamat pagi pak, bu..." Ucapnya dengan senyum tanpa dosa.
"Saya sudah menyiapkan materi yang akan di sampaikan pak Windu pagi ini, saya akan menunggu di ruang meeting." Lanjutnya, membuat Dara dan Windu saling pandang, melongo melihat bagaimana Fuji mengucapkan kalimat itu seolah dia amnesia dengan apa yang dilakukannya tadi malam di kamar Windu.
(Yeaaaay....tunai crazy UPnya, ya untuk malam ini. Selamat tidur semua readers kesayangan🤗 Jangan terpengaruh dengan Fuji, ya...Dara akan mengatasinya besok🤣)
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
__ADS_1