
Kayla dan Nayla hanya melongo tak mengerti apa yang di katakan ibunya.
Nadia terlihat begitu bersemangat dan menikmati peran sebagai ibu teladan di panggung itu. Tak henti hentinya dia memamerkan senyumnya.
Sangat berbanding dengan perasaan seorang gadis yang sedang berdiri di belakang panggung.
Zahra merasa sangat malu oleh ulah Nadia di panggung. Namun dia berusaha bersikap setenang mungkin di hadapan Pras dan Nadia.
"Saya minta maaf atas kejadian tadi." Pras menangkupkan kedua tanganya memohon maaf kepada Zahra.
belum sempat Zahra menjawabnya Nadia sudah nyeletuk.
"Eeh Mas, suka sekali melebih lebihkan sesuatu. Kita salah apa, kenapa harus minta maaf?" kilahnya
"Dik, kau tidak pantas berkata begitu.
Jelaslah Zahra merasa malu. Kau datang tiba tiba dan mengambil tempatnya."
"Mengambil tempatnya? nggak salah? yang aku dengar panitia memanggil orang tua dari Kayla dan Nayla." jawabnya cuek
Zahra merasa tidak enak karna pasangan itu berdebat karna dirinya
"Teru siapa yang sudah minta tolong padanya untuk datang kesini?" tanya Pras kesal.
"Memang aku, tapi itu bukan berarti dia bisa menjadi ibunya anak anak disini." ucapnya enteng. baru kali ini Pras merasa benar benar jengkel oleh sikap istrinya.
"Sudah Mas, mbak Nadia benar. tak sepantasnya saya mengambil tempatnya tadi. saya yang salah."
"Tuh Zahra saja tau dirinya salah, kok Mas Pras yang nyolot." gerutu Nadia.
Pras tak menjawab lagi, karna dia tau Nadia tidak akan mau mengalah.
Diam diam Pras memperhatikan Zahra. Gadis itu sangat dewasa dan sangat lapang dada. dia tidak mau memperpanjang masalah walaupun jelas jelas dialah yang di rugikan.
"Zahra, terimakasih ya, karna kau sudah bersedia datang untuk menemani anak anak ku." ucap Nadia seolah tidak pernah terjadi apa apa di antara mereka.
"Iya mbak, sama sama." jawab Zahra sopan.
Meteka duduk di sebuah bangku kayu.
"Sekarang kerja dimana?" tanya Nadia berbasa basi memulai percakapan.
"Bergabung di sebuah LSM mbak."
"Oowh.. LSM." ulang Nadia dengan nada yang merendahkan.
Pras hanya jadi pendengar yang baik sambil mengawasi anak anaknya.
"Kerja disitu berapa siih sebulan, paling cuma cukup buat beli bensin saja iya, kan?cari saja kerjaan lain yang lebih menjanjikan.
contohnya aku, Sebenarnya gaji mas Pras SofiaSofiasudah lumayan, tapi aku masih berniat buka bisnis lain." ucap Nadia angkuh.
Zahra hanya tersenyum menanggapinya.
"Bukannya saya munafik tidak perlu uang mbak, tapi tidak semua hal harus di ukur dengan uang, kan? Saya nyaman kok disitu."
Untuk ukuran orang yang cerdas kata kata Zahra sangatlah menusuk. Tapi tidak pada Nadia. dia semakin membanggakan dirinya yang mulai merintis bisnis
__ADS_1
"Owh ya sudah. sebenarnya aku cuman mau ngingetin saja."
"Terimakasih mbak, sudah mau ngingetin saya."
Justru Pras lah yang merasa tertampar oleh sindiran Zahra.
"Oh, ya Dik, kenapa kau bisa sampai di sini, katanya tidak bisa datang?"
Pras mengalihkan percakapan kedua wanita itu.
"Itu? tadinya aku dan Susi sudah datang kesalon melihat lihat dan semacamnya. Aku pikir masih ada waktu untuk kesini. Ya sudah aku minta Susi mengantarkui."
"Tau begitu tidak usah ngerepotin Zahra." sungut Pras.
"Tidak apa apa Mas. Saya senang bisa menemani Kayla dan Nayla." ucap Zahra.
"Baguslah.. Berarti lain kali aku bisa minta tolong jagain mereka lagi dong!" ucapan Nadia membuat Pras dan Zahra terhenyak di tempat.
"Bercanda... jangan terlalu serius Mas." ucapnya sambil tertawa renyah.
Akhirnya setelah si kembar capek bermain, merekapun mengajak pulang.
Pras hanya bisa menarik nafas panjang atas sikap konyol Nadia.
****
"Mungkin ini karma buatku karna telah berniat buruk padamu Mas." ucap Sofia terisak lewat telpon.
"Apa kata Hendra?"
"Dia bilang tidak mau bertanggung jawab.
" Kamu tenang dulu Sof, saya akan coba bantu ngomong baik baik dulu. Kalau tidak bisa juga, saya ancam balik dia dengan melaporkan kasus ini ke polisi."
"Sampai kapan aku menunggu. perutku akan semakin membesar, kalau memang dia tidak mau bertanggung jawab, lebih baik laporkan saja mas. Biar sekalian saja semua orang tau. aku tidak mau malu sendiri." kata Sofia mengahiri percakapan lewat tolpon itu.
Sesuai perjanjian usai jam kantor Pras bergegas keluar sambil menelpon Arif.
"Rif bisa temani saya dan Sofia menemui pak Hendra?"
Arif menyanggupinya dan beberapa menit kemudian mereka sudah berada di jalan.
"Setahuku Hendra sering mangkal di tempat bilyard." kata Sofia.
"Iya, stapnya juga mengeluh dia jarang masuk kantor ahir ahir ini." timpal Pras.
Sofia yang duduk sendiri di belakang terlihat mengusap perutnya.
Bagaimanapun jahatnya kelakuan Sofia pada keluarganya namun Pras tetap merasa iba. Apalagi karna kasusnya ini dia di buang oleh pamanya.
"Terus apa rencana bu Sofia kalau seandainya pak Hendra tetap menolak?"
"Kita gertak dia bahwa Sofia akan menuntutnya lewat jalur hukum." Pras yang menjawabnya.
"Kita sudah sampai Rif, sebaiknya cari tempat parkir yang agak tersermbunyi." saran Pras.
Benar saja baru lima menit nereka menunggu di dalam mobil Hendra datang dengn mobil hitamnya.
__ADS_1
"Itu itu dia datang." pekik Sofia tertahan.
"Sebaiknya kau sendiri dulu yang menemuinya. kami awasi dari sini." kata Pras .
Sofia mengangguk dan berjalan pelan kearah Hendra yang memarkir mobilnya .
Sesekali Sofia menoleh kebelakang.
"Mas Hendra." panggilnya lirih.
Hendra terkesiap melihat keberadaan Sofia disana.
"Kau? Kenapa ada disini?" tanyanya dengan gugup.
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa kau menghindariku, aku telpon tidak bisa!"
"Ayolah Sof, aku ingin bukti kalau anak yang kau kandung adalah anakku. Dan itu bisa di buktikan hanya dengan tes DNA." terang Hendra dengan ketus.
"Dan itu artinya kau menunggu anak ini lahir dulu Mas?"
"Apa boleh buat.." jawabnya enteng.
Sofia menjadi gelap mata. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
Melihat gekagat yang kurang enak membuat Pras dan Arif berlari memeganginya.
"Sof, tenang. Jangan memancing keributan ini nanya kriminal." kata Pras sambil membujuk Sofia untuk melepaskan pisaunya.
"B****gan ini sudah meragukan anakku Mas,
biar aku melahirkan di penjara juga tidak apa apa."
"Ayolah... Kasihan ankmu. Lepaskan pisaunya yuk."
Hendra semakin ketakutan karna Sofia mengacungkn sebilah pisau padanya.
Untungnya pengunjung tempat bilyard itu masih sepi.
Kini Sofia menempelkan pisau yang bekilat itu keeher Hendra.
"Sof, jagan main main dengan pisau. Kau akan hidip di penjara." suara Hendra bergetar.
"Itu akan lebih baik ketimbang disini aku menanggung malu."
Sofia memberi isyarat pada Arif untuk metekam..
"Hey awas ya! Jangan main rekam begitu."
Sergah Hendra.
"Iya pak Hendra, saya mewakili Sofia untuk minta pertanggung jawaban bapak. Karna Sofia terlanjur hamil.
"Ow karna dia kau berani bertigkah sekarang?" telunjuk Hendra mengarah pafa Pras.
"Atau jangan jangan dia punya bagian di situ?" Hendra menunjuk perut Sofia.
"Jangan bawa bawa mas Pras, dia orang suci. Dia tidak bejat sepertimu!" Sofia membela Pras.
__ADS_1
❤ Mana like dan komentnya bunda bunda?
Saya tunggu dukunganya!!