
Sembari tersenyum, Kenzo melanjutkan pernyataannya. "Sejak deket sama elu, gue udah nggak pernah berhubungan dengan para gadis lain. Rasanya jijik banget kalo tangan mereka menyentuh kulit gue," cetusnya sembari bergidik geli.
Kayla mendengus sebal. "Tapi, bagaimana dengan aku? Kamu selalu mendekatiku walaupun aku selalu ketus sama kamu!" Kayla penasaran dengan jawaban Kenzo.
"Elu itu beda, Onah. Nggak tahu kenapa kalo elu menyentuh gue, ada rasa aneh di dalam dada yang bergejolak." desisnya membuat Kayla tersipu.
"Gombal," desis Kayla sembari melengos namun tersenyum.
Kenzo menarik wajah Kayla agar kembali menghadapnya. "Serius, Onah. Rasanya, gue pengen deket terus sama elu walaupun elu itu suka judes, galak dan ketus. Tapi, itulah yang bikin gue penasaran karena di saat para gadis ingin deket sama gue, elu milih menjauh dan terlihat biasa aja tanpa ada rasa terpukau atau terkagum padahal gue kan ganteng pake banget!"
Mendengar ucapan terakhir Kenzo, Kayla melotot sambil berdecih sebal. "Cih, narsis!"
Kenzo terkekeh. "Tapi bener 'kan kalau gue itu ganteng. Makanya elu jadi suka sama gue," kerlingan mata Kenzo tertuju ke arah Kayla membuat gadis itu semakin sebal.
"Ya elah kamu, udah narsis sok tahu lagi!" celetuk Kayla kesal.
Pemuda itu semakin terkekeh. "Tapi elu cinta 'kan sama gue? Hehehe!"
"Iiih, kata siapa? Jangan ngada-ngada deh!" Kayla memukul lengan Kenzo berulang.
Kenzo tertawa menahan pukulan Kayla tapi tidak menghindar. "Tadi gue denger dengan jelas Onah, kalau elu itu mencintai gue. Devian sama Bagas juga denger kok!" Ia terus menggoda Kayla dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Melihat itu, Kayla semakin kesal dibuatnya. "Kenzo ... berhenti menggodaku!" teriak Kayla kesal karena Ken terus menjahilinya. Kayla terus melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah Kenzo yang masih tertawa terbahak.
Wajah pucat itu sudah berganti dengan wajah sumringah karena kedatangan gadis galaknya, Markonah. Tangan Kenzo seketika menangkap tangan yang terus melayangkan pukulan ke arahnya.
Grep
Dengan sekali sentak saja, tubuh Kayla langsung berada di dalam dekapan Kenzo membuat gadis itu salah tingkah. Mata mereka saling beradu dengan jarak yang cukup dekat.
Sedetik ... dua detik ... tiga detik ...
Wajah Kenzo perlahan maju semakin mengikis jarak mendekati wajah Kayla. Matanya menatap lurus bibir merah gadis itu yang melambai-lambai seperti memanggil untuk menyentuhnya.
Jantung keduanya saat ini sedang bertabuh riang. Mereka merasakan detaknya yang cukup cepat seakan mau meledak.
__ADS_1
Tangan Kenzo terulur perlahan menyentuh wajah cantik Kayla dan mengusap bibirnya dengan jari membuat gadis itu merasa geli.
Tanpa menunggu lama, bibir merah ranum itu dilumat olehnya dengan perlahan tapi pasti. Kayla tersentak dengan apa yang dilakukan Kenzo namun ia tidak bisa menolaknya.
Awalnya hanya menempelkan saja, namun karena mereka terbawa suasana yang romantis ditambah dinginnya malam, Kenzo pun memperdalam kecupan itu dengan menekan tengkuk Kayla .Kecupan itu terhenti karena mereka harus mengatur nafas yang memburu.
Kenzo tersenyum melihat wajah Kayla yang semakin merona ditambah bibir yang sedikit bengkak dan basah akibat ulahnya.
"Onah ku sayang, wajah lu itu merah kayak tomat busuk!" bisik Kenzo di telinga Kayla.
Mendengar perkataan Kenzo, sontak Kayla melotot dan melayangkan pukulan lagi, namun Kenzo segera menahan tangannya sambil tertawa.
"Hahaha ... enggak dong, Onah. Gue cuma bercanda. Tapi bener sih, wajah lu merah kayak ..." tatapan tajam Kayla membuatnya selalu ingin tertawa. "Kayak ... apa ya? Mmm ... gue pikirin dulu deh!" Ia melipat satu tangan di dada dan yang satunya di dagu sambil mengetuk bibir dengan jari terlihat seperti sedang berpikir. "Mmm ... elu maunya kayak apa, Onah?" Dia balik bertanya.
Kayla yang kesal pun melengos dengan wajah cemberutnya. "Tahu ah!" Kenzo semakin tertawa dibuatnya. Wajahnya kembali mendekat membuat Kayla gusar. "Kkk ... Ken ... minggir sana!" tangan Kayla menahan tubuh Kenzo yang terus mendekat sampai ia terpaksa mundur dan punggungnya menabrak sandaran sofa.
Wajahnya terus mendekat dan semakin mendekat hanya berjarak satu senti meter saja dengan wajah Kayla. Namun, aksinya harus terhenti karena teguran dari seseorang yang masuk ke dalam rumah secara tiba-tiba.
"Kalian lagi ngapain?" suara seseorang menginterupsi hingga mengejutkan keduanya.
Posisi Kayla yang berada di bawah kungkungan Kenzo membuat semua orang salah paham.
Dua orang yang baru datang itu sedang berdiri menatap mereka dengan menautkan alis.
Melihat ada orang menatapnya, Kayla langsung mendorong tubuh Kenzo sampai terjungkal ke bawah sofa.
"Whoooaaaa!" Kenzo terjatuh berguling di bawah sofa sampai kepalanya terbentur ujung meja. "Aduuuhh!" tangannya memegangi kening yang sedikit mengeluarkan darah.
"Kenzo!"
Mereka langsung berhamburan mendekati karena melihat darah segar keluar dari goresan di dahinya.
Devian dan Bagas berlari dari arah dapur menuju ruang tamu setelah mendengar teriakan dari Kayla. "Ada apa?" serempak keduanya bertanya sembari memperhatikan temannya yang berada di bawah sofa. "Elu berdarah, Ken!"
Kenzo tidak mengatakan apapun dan hanya mengaduh kesakitan. "Uuhh ... sstttt!"
__ADS_1
"Ayo kita duduk di sofa, Ken!" Nenek memapah Kenzo dan menyuruhnya duduk di sofa. "Periksa dia, Dok!" pinta Nenek kepada Dokter yang dibawanya tadi.
Dokter langsung memeriksa keadaan Kenzo dengan mengeluarkan stetoskopnya. Dia memeriksa Kenzo dengan teliti.
"Dia tadi mengeluh pusing, badannya menggigil, perutnya sakit, tubuhnya ngilu semua. Suhu tubuhnya juga tinggi, Dok!" penjelasan Nenek disimak oleh Dokter.
Dokter mengangguk paham sembari terus memeriksa kondisi Kenzo. "Mendengar penuturan Nenek, dia sepertinya demam tadi. Tapi sekarang suhu tubuhnya sudah turun." mereka lega mendengarnya. "Namun, tekanan darahnya sangat rendah dan asam lambungnya naik." lanjut dokter membuat mereka cemas.
"Itu lukanya gimana, Dok?" Bagas menunjuk dahi Kenzo yang berdarah.
"Oh, ini nggak parah kok! Hanya tergores saja," Tangan dokter dengan cekatan meneteskan obat luka di dahi Kenzo kemudian menutupnya dengan kapas serta plester.
"Tapi, sepertinya dia kesakitan itu!" Kayla melirik ke arah Devian yang menunjuk Kenzo.
"Mungkin karena efek benturan yang cukup keras. Tapi tenang saja, dia baik-baik saja kok!" Jelas dokter tersenyum ke arah mereka.
Kayla jadi merasa bersalah melihat Kenzo yang terlihat menahan sakit. "Maafin aku ya, Ken!" wajahnya terlihat sedih.
Sementara Kenzo terlihat memejamkan mata karena sedang merasakan kepalanya seperti berputar akibat benturan itu.
Pemuda itu merasakan kepalanya sangat berat juga berputar, padahal tadi tidak merasa kesakitan seperti saat ini. Mungkin akibat jatuh berguling dan juga terbentur meja, maka rasa sakit itu datang juga.
Melihat Kayla sedih, Nenek Arimbi mendekat. "Jangan menyalahkan diri sendiri, Neng! Kamu dengar 'kan apa kata Dokter, kalau dia nggak kenapa-napa." Nenek mengelus lembut lengan Kayla.
"Tapi ...!" Sebelum Kayla menyelesaikan ucapannya, ketukan di pintu terdengar sehingga mereka sontak menoleh.
Tok tok tok ...
"Ada tamu," Nenek beranjak hendak melangkahkan kaki untuk membukakan pintu bagi tamunya, namun Kayla segera menghentikan.
Gadis itu berdiri lalu melangkahkan kaki menuju pintu. "Biar Kay aja yang buka," cetusnya sembari melangkah. Tangannya terulur menarik handle pintu secara perlahan sampai pintu terbuka lebar, namun sesaat kemudian mata Kayla terbelalak saat melihat siapa tamu yang datang itu.
"Kamu!" keduanya saling menunjuk satu sama lain ketika mata mereka saling beradu hingga menatap terkejut.
...Bersambung ......
__ADS_1