
"Grandpa!" seru Jenny riang, saat melihat kedatangan Bill ke rumah mereka. Jenny menghambur, ia membungkuk, dan memeluk Bill dengan kuat. Bill tersenyum, diusap lembut punggung Jenny yang tengah memeluknya.
"Apa kabar, Sayangku?"
"Aku baik Grandpa, Grandpa bagaimana?"
"Tentu saja aku baik, Sayang. Kalau tidak, bagaimana aku bisa ada di sini, iyakan?" Bill menepuk pipi Jenny lembut, setelah gadis itu melepaskan pelukannya.
"Grandpa, benar juga."
"Hallo, Bill. Apa kabar?" Bradd menyalami Bill.
"Hallo Bradd, terima kasih sudah menjaga cucuku ini dengan baik." Bill menunjuk Jenny, Bradd tersenyum saja sebagai jawabnya.
"Sebaiknya kita langsung makan malam saja." Ucap Bradd.
"Biar aku dorong kursi roda Grandpa," Jenny mendorong kursi roda Bill menuju ruang makan. Bradd berjalan di sebelahnya.
"Kamu semakin besar saja, dari terakhir kali aku melihatmu, Jenny"
"Grandpa, kita baru, ehmmm mungkin baru tiga bulan kita tidak bertemu"
"Benarkah? Aku lupa, Sayang. Maklum usiaku sudah semakin senja." Bill terkekeh, diiringi tawa Jenny. Sedang Bradd tampak sulit untuk terlihat santai, ada ketegangan di dalam dirinya.
Mereka makan malam, diiringi dengan obrolan santai saja. Bill, dan Jenny yang lebih banyak bicara, sedang Bradd lebih banyak hanya menimpali saja.
Setelah acara makan selesai, mereka duduk di ruang santai.
"Jenny"
"Ya Grandpa"
"Bagaimana hubunganmu dengan Jason, apa ada perkembangan?"
__ADS_1
Jenny menolehkan kepala pada Bradd yang duduk di sebelahnya.
"Aku tidak ingin menikah dengannya, Grandpa."
"Kenapa? Aku kira Jason itu pria yang tampan, gagah, pintar, dan pekerja keras seperti ayahnya. Lalu apa yang membuatmu menolaknya, Jenny?"
Jenny mengangkat bahunya.
"Aku tidak punya alasan yang bisa aku sampaikan Grandpa. Tapi, hatiku yang menolaknya, mungkin dia sebaik yang Grandpa katakan, tapi aku tidak ingin mendustai hatiku sendiri."
"Hmmm, apa kamu memiliki pilihanmu sendiri?" Bill menatap mata Jenny.
Jenny kembali menolehkan kepala pada Bradd. Bradd juga menatapnya.
"Kenapa kamu menatap Daddy? Kamu yang ditanya, jawablah, Jenny" ujar Bradd sambil menggenggam jemari Jenny. Genggaman yang menyentuh perasaan Jenny, meski itu bukan pertama kali ini jemarinya digenggam Bradd tentunya.
Bill sendiri, mengerutkan kening, dan menyipitkan matanya, saat melihat tatapan Jenny yang ditujukan pada Bradd. Ia merasa, itu bukan tatapan seorang anak kepada ayahnya. Tapi, tatapan memuja seorang gadis, kepada lawan jenisnya. Bill bisa menilai hal itu, karena ia sendiri mantan playboy, yang bergaul dengan banyak wanita di masa mudanya.
"Jenny, apa kamu punya pilihan sendiri?" Bill kembali mengulang pertanyaan, karena Jenny tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Jenny mengalihkan pandangan dari Bradd kepada Bill. Kepalanya menggeleng perlahan.
"Kamu harus segera menikah Jenny, agar ada seseorang yang bisa menjagamu," ucap Bill.
"Daddy sudah menjagaku," Jenny memeluk lengan Bradd, dan menyandarkan kepala dibagian atas lengan daddynya itu. Sekali lagi Bill merasakan perasaan yang tadi. Bradd mengusap kepala Jenny dengan tangannya yang bebas.
"Tapi, kamu harus segera menikah Jenny. Ini demi kebaikanmu."
"Kenapa harus Grandpa?"
"Jenny, aku dan Bradd sudah bicara tentang kedatangan ibumu kembali ke kota ini. Ada kekhawatiran dari kami berdua, kalau dia datang untuk merebut apa yang sudah kakekmu wariskan padamu,"
"Apa hubungannya pernikahanku, dengan hal itu Grandpa?"
"Bradd tidak akan bisa menolongmu dalam hal ini, Angelica putri kakekmu, dan kamu adalah putrinya. Dia bisa saja melakukan upaya hukum untuk merebut semuanya darimu, Jenny."
__ADS_1
"Kenapa Daddy tidak bisa menolongku?"
Bradd, dan Bill saling pandang. Mereka lupa kalau Jenny bukan gadis kecil lagi, Jenny sudah dewasa dengan segala pemikirannya. Harus ada penjelasan atas apapun yang mereka sampaikan.
"Aku tidak bisa menjelaskan tentang itu Jenny. Tapi, aku yakin pernikahanmu akan mampu menjagamu dari niat jahat Angelica."
"Kenapa Grandpa tidak bisa menjelaskan? Apa karena Daddy bukan Daddy kandungku?" Jenny menatap Bradd, dan Bill bergantian.
Bradd dan Bill sama-sama terkesiap mendengar ucapan Jenny.
"Apa yang kamu katakan, Jenny!?" Bradd menatap Jenny dengan rasa terkejut, sekaligus rasa marah di dalam hatinya.
"Daddy, aku sudah cukup dewasa untuk tahu semuanya. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa terus-terusan dibohongi!"
"Jenny," suara Bradd bergetar, tatapannya lekat ke mata Jenny. Bradd merasa belum siap rahasia ini terungkap sekarang. Ia belum siap kehilangan putrinya tersayang. Ia tidak siap jika Jenny membencinya.
"Daddy, aku sudah tahu semuanya sejak beberapa tahun lalu, nannyku yang menceritakan semuanya, sebelum dia meninggal. Tapi aku menyimpannya, karena aku tidak ingin merubah hubungan di antara kita. Tapi, aku kira sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya. Daddy bukan Daddy kandungku, bahkan bukan pula Daddy tiriku. Daddy tidak pernah menikah dengan wanita itu, aku benarkan Daddy!? Aku benarkan Grandpa?"
Jenny menatap kedua orang pria yang bersamanya secara bergantian. Tubuh Bradd terasa lemas, punggungnya terhempas di sandaran sofa. Ia mengusap wajah dengan telapak kedua tangannya. Begitu rapat ia berusaha menyimpan rahasia, tapi ternyata Jenny sudah tahu sejak lama. Keheningan tercipta di antara mereka. Sampai akhirnya, Bill yang pertama membuka suara.
"Kamu benar Jenny, karena itulah, Bradd tidak bisa menjagamu dan warisan kakekmu dari Angelica. Dia tidak mempunyai hubungan apapun denganmu, meski kakekmu sudah menunjuknya sebagai walimu. Berbeda dengan Angelica, semua orang tahu dia putri kakekmu, dan semua orang tahu dia ibu kandungmu, dia mempunyai hak atas dirimu." Bill terlihat tetap tenang, meski sempat terkejut sesaat tadi.
"Lalu kenapa aku harus menikah untuk melindungi diriku, dan warisan kakek dari wanita itu?"
"Kalau kamu menikah, artinya kamu sudah cukup dewasa untuk bisa mengelola sendiri hartamu, Jenny. Karena itulah yang dituliskan kakekmu dalam surat wasiatnya."
Jenny terdiam, ditolehkan kepalanya ke arah Bradd yang tampak masih shock karena pengakuan, kalau ia sudah tahu rahasia siapa Bradd sebenarnya.
'Apa aku harus membuat Daddy shock sekali lagi, dengan mengatakan kalau aku ingin dialah yang menjadi suamiku. Apa Daddy akan bersedia memenuhi keinginanku. Apa itu tidak akan merusak hubungan di antara kami. Bagaimana kalau Daddy tidak bersedia menikah denganku, bagaimana kalau Daddy justru memilih meninggalkan aku, bagaimana.... '
"Jenny.... " suara Bill menarik Jenny dari lamunannya. Jenny Menatap Bill.
"Kita tidak punya banyak waktu Jenny. Kamu harus segera memutuskan, pria mana yang kamu ingin menikah dengannya. Demi dirimu, demi apa yang sudah diwariskan kakekmu. Kamu harus tahu, tidak mudah bagi kakekmu, untuk mendapatkan semua itu. Kamu harus mnenjaganya, karena aku yakin, Angelica akan sulit untuk bisa mempertahankannya, jika perusahaan, dan semua aset kakekmu jatuh ke tangannya."
__ADS_1
Ucap Bill pada Jenny, agar Jenny memahami alasan kenapa Jenny harus segera menikah.
🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼