Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 30


__ADS_3

"Ais.. Ais, coba lihat kakak bawa siapa?"


Al memanggil manggil adiknya Aisyah.


"Ada apa sih kak, heboh banget," seru Aisyah sambil mendekati kakaknya.


Aisyah ternganga.


"Siapa mereka kak? lucunya.. Eit, jangan bilang, diam diam kakak udah nikah dan punya anak," todong Aisyah memicingkan matanya.


"Enak saja. Boro-boro anak, kekasih saja belum punya. Tidak ada gadis yang mau sama kakakmu ini," canda Al menggoda adiknya.


"Lha, terus mereka siapa?" tanya Aisyah dengan mimik curiga.


"Begini ceritanya..." Lalu Al menceritakan duduk perkaranya.. Kayla dan Nayla hanya tersenyum-senyum menyaksikan keseruan kakak beradik itu. Mereka tidak tau kalau orang rumah tengah panik mencari mereka.


"Kalian betul tidak tau alamat rumah?" tanya Aisyah, sambil berjongkok di depan si kembar.


"Tidak," jawab mereka kompak.


"Ya, sudah kita tampug dulu semenntara. kalau tidak ada yang datang mencarinya, kita lapor polisi saja."


Al memberi solusi.


Aisyah hanya mengangguk angguk. Ia menghayal seandainya kakaknya sudah menikah, pasti sudah punya anak yang lucu kayak anak -anak di depanya.


Aisyah mengajak si kembar untuk makan, setelah itu mereka bermain- main di dalam kamar.


"Dimana Ummi dan Abah?" Al bertanya dari depan pintu kamar.


"Sst! Jangan berisik, Mereka sedang tidur.."


Aisyah menarik tangan kakaknya keruang tamu.


"Meraka sedang pergi mengisi pengajian," kata Aisyah.


"Padahal kakak mau bicara penting pada mereka." Aisyah tak memperhatikan kata kata kakaknya.


"Kak, cepetan nikah dong, Ais pingin punya ponakan," celetuknya tiba-tiba, membuat Al terkejut.


"Hus! Anak kecil tau apa tentang nikah." Al menepuk jidat adiknya.


" Berhenti bilang aku anak kecil, aku sudah tujuh belas tahun lo," sungutnya sambil manyun.


Al jadi gemas melihat tingkah adik perempuan satu -satunya itu.


"Sebenarnya, kakak juga ingin segera menikah, punya anak dan keluarga yang lengkap...


Tapi calonnya belum ada," ucap Al di telinga Aisyah.


"Bagaimana dengan kak Zahra?" tanya Aisyah spontan.


"Zahra...? Hmm.. dia memang cantik, baik, sopan pula. Yang jadi masalah, dia suka enggak sama kakak?"


"Belom juga di coba, sudah pesimis duluan," ledek Aisyah.


"Memangnya Zahra belum punya calon gitu? atau teman dekat lah apa namanya," tanya Al antusias.


" Mana Ais tau, usaha sendiri dong kak, masa ngandelin aku terus." ucap Aisyah. lalu meninggalkan kakaknya sendirian.

__ADS_1


Aisyah minta ijin untuk kewarung depan sebentar.


"Jangan lama- lama. Nanti mereka nyariin!" seru Al padanya.


Sepeninggal Aisyah, Al termenung memikirkan ucapan sang adik.


"Zahra khairunnisa... nama yang indah, seindah pribadinya," gumam Al tersenyum sendiri. Abah dan Umminya sudah sering mendesaknya untuk segera menikah. Dengan alasan ingin cepat menimang cucu. Tapi ia selalu menjawab dengan alasan yang sama. Yaitu, belum ada yang cocok.


Tapi dengan Zahra, ia merasa ada yang beda.


"Assalamualaiqum!" sebuah salam membuyarkan lamunan Al.


"Waalaiqum salam." Al membukakan pintu untuk tamunya.


Al menjadi gugup saat mengetahui sosok yang berdiri di depan pintu.


"Zahra..." ucapnya pelan.


Zahra mengangguk dan tersenyum kepadanya.


"Ummi dan Abah ada di rumah kak?" tanya Zahra dengan sopan.


"Eeng.. Ah iya.." Al jadi salah tingkah di depan Zahra. Bisa- bisanya gadis yang di lamunkanya tiba tiba muncul di depan mata.


"Kenapa kak? mereka tidak ada ya..?" ucap Zahra dengan nada kecewa.


ia tidak menyadari kalau Al sedang gugup oleh kehadiran dirinya.


"Terus Aisyahnya ada kak?"


Ketika Al hendak menjawab, ponsel Zahra berbunyi.


"Bentar ya kak..." ucapnya, sambil beringsut agak menjauh.


Al hanya mendengar sedikit percakapan Zahra dengan si penelpon.


"Hah hilang? maksud ibu, di jemput sama mas Toni begitu?"


Wajah Zahra terlihat berubah cemas setelah menerima telpon itu.


"Kak, maaf ya. Saya pulang dulu, ada urusan mendadak." setelah mengucapkan salam. Zahra pergi dengan tergesa. Meninggalkan Al dengan seribu pertanyaan.


"Ada apa denganya?" Al hanya bisa menatap kepergian Zahra dengan heran.


Padahal Al ada niat menceritakan bahwa ia menemukan anak kembar, dan saat ini mereka sedang tidur di kamar Aisyah.


Zahra merasa tidak tenang. perjalanan menuju rumah bu Laila di rasakanya begitu lama. kabar dari bu Laila tentang menghilangnya si kembar sangat menganggu pikiranya. Ia merasa ada sebuah ikatan bathin dengan kedua anak Pras itu.


"Bagaimana kejadianya bu? Kenapa mereka bisa menghilang. Apakah mungkin di culik? Lalu siapa dan untuk apa?" tanya Zahra beruntun.


"Tenang nak Zahra, Pras sedang mencarinya."


"Tapi Bu, siapa sih yang tega menculik mereka? Mudahan mereka baik baik saja,"


Tanpa di sadarinya, tetes tetes bening meluncur begitu saja.


"Saya menangis?" tanyanya pada diri sendiri. Ia tak percaya, sebegitu sedihnya ia mendengar anak kembar itu menghilang.


"Berdoa saja, semoga mereka segera kembali dengan selamat. ibu juga sama sedihnya sepertimu. Tapi tidak ada guna hanya meratapinya." ucap bu Laila menghibur Zahra.

__ADS_1


"Saya juga sama bingungnya sama kamu nak Zahra." ucap bu Laila lagi.


"Coba ibu telpon mas Pras lagi, siapa tau sudah ada kabar." desak Zahra. Yang di iyakan oleh bu Laila.


"Ponselnya sibuk. Tidak tersambung nak."


Zahra terdiam. Pukranya melayang pada kelucuan kedua anak itu. Kebersamaan yang terjadi selama beberapa hari, telah menjalin ikatan batin yang cukup kuat.


Sementara itu di rumah Pras. Semua sedang bersedih dengan menghilangnya si kembar.


Kali ini Pras merasa benar benar hilang kesabaran menghadapi kelakuan istrinya.


"Kau lihat akibatnya? inilah yang mas maksud jangan lalai!" ucap Pras dengan wajah merah padam.


Nadia menangis sesenggukan.


ia menyesal kenapa sampai lalai menjemput anak-anak hanya karna mengikuti kata hatinya.


Kali ini ia juga tidak membantah saat Pras menghakiminya. Coba kalau ia tidak tergiur oleh iming iming menggandakan uang?


Nadia terus menangis sambil memukuli lengan Toni.


"Ini semua gara gara kamu! Kau teledor, kau lalai," racaunya sambil menangis.


"Aku salah Mbak, silahkan saja lampiaskan kekesalanmu padaku," ucap Toni psarah. Rosti merasa kasihan melihat Toni yang jadi sasaran Nadia. Lalu berkata,


"Mbak, jangan pukuli suamiku seperti ini."


rengekan Rosti malah membuat Nadia membentaknya.


"Diam kamu! Suamimu ini telah menghilangkan anak saya!"


"Tidak ada gunanya terus menangis dan menyalahkan Toni. Itu tidak akan membuat ana-anak kembali," ucap Pras dengan mata basah.


"Ayo Ton! kita cari di sekitar tempat kejadian."


"Aku ikut mas!" ucap Nadia bergegas bangkit.


"Sebaiknya jangan, kau di rumah, dan coba hubungi teman-temanmu yang sesama wali murid. Siapa tau ada yang melihat anak -anak."


Mendengar titah suaminya, Nadia tidak berani membantah seperti biasanya.


Bu Warsih hanya diam. Kali ini ia tidak bisa membela Toni di depan Pras, seperti yang selama ini dia lakukan.


"Nak Pras, apa tidak sebaiknya kita lapor polisi?" tanya bu Warsih hati-hati.


"Polisi tidak akan menanggapi laporan kehilangan, sebelum duapuluh empat jam," jawab Pras singkat.


Pras dan Toni berangkat ke lokasi kejadian.


Masih di mobil saat ia menerima panggilan Ibunya.


"Iya, Bu. Pras sedang di lokasi kejadian. Mencoba mencari informasi atau petunjuk."


Jawab Pras pada ibunya di sebrang.


Zahra tidak sabar dan mengambil alih ponsel bu Laila.


"Halo mas, saya Zahra. Bisa kirim alamat lokasi kejadianya? Saya mau kesana."

__ADS_1


"Oh, Zahra? Terimakasih ya... Saya akan share lokasinya." jawab Pras. Lalu panggilan di matikan.


💖Mana jempolnya?? Biar penulis rajin updatenya🙏


__ADS_2