Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 103. MENYUSUL KARENA CINTA


__ADS_3

"Sayang, aku tidak akan sudi ditiduri oleh serigala..." Windu tertawa, berusaha mencairkan suasana yang mendadak terasa canggung itu. Kejadian barusan benar-benar membuat Windu merasa bersalah dan serba salah.


"Tapi dia bilang, dia suka rela menjadi kelinci kak Win?" Dara berbalik menghadap Windu, wajah itu benar-benar sedang kesal dan marah sementara matanya yang berbinar itu tampak berkaca-kaca.


"Kamu sudah mengatakan sendiri, dia sebangsa serigala, ular-ularan dan kelinci. Dan percayalah sayangku, aku tak berselera dengan binatang." Windu terkekeh, biar bagaimanapun dia merasa sangat lega melihat wajah istrinya itu meski penampilannya tampak kacau. Sepanjang setengah hari ini, dia hanya memcemaskan sang istrinya dan tahu jika sang istri baik-baik saja itu lebih dari cukup baginya.


"Kalau aku tidak datang, bisa saja kak Win tergoda untuk..."


"Hush...aku bukan orang yang seperti itu, jika kamu bertahan lebih lama saja di belakang pintu itu, mungkin kamu akan melihat aku melemparnya keluar dari kamarku." Windu mengelus-elus rambut Dara, berusaha menenangkan perempuan yang kini sedang berusaha menahan tangisnya.


"Tapi tadi kak Win tidak melemparnya?"


"Aku hanya sempat bingung, bagaimana sebaiknya caraku melemparnya, itu yang membuatku terlambat melakukannya," Windu menjawab sambil nyengir.


"Seharusnya kak Windu membentaknya tadi, biar dia tahu kalau kak Windu tidak menyukainya." Tukas Dara dengan mulut meruncing, sehingga wajah polosnya itu terlihat lucu.


"Kan' sudah ada kamu yang menceramahinya panjang dan lebar, sepertinya aku tidak perlu turun tangan karena kamu telah lebih dulu membasminya dengan cara yang elegan." Sahut Windu sambil melingkarkan tangannya di pinggang Dara

__ADS_1


"Aku tahu, kak Win tak akan berbuat hal yang serendah itu..." Akhirnya Dara balas memeluk Windu tetapi tetap saja dia tak bisa menahan tangisnya yang tumpah.


Rasa takut, kesal dan amarah itu menyatu membuat hatinya mendung dan tak ada yang bisa dilakukannya kecuali melampiaskannya dalam isakan di dalam pelukan sang suami.


"Ayolah, sayang...kenapa kamu menangis? bukankah kamu yang mengirimnya untuk bersamaku kemari. Jangan membuatku menjadi merasa semakin bersalah begini." Windu menciumi ubun-ubun sang istri kemudian membimbingnya dan mendudukkannya di tempat tidur dengan perlahan.


"Aku hanya kesal..." Sahut Dara sambil mengusap airmatanya sendiri.


"Tak ada yang bisa menggantikanmu, sayang. Fuji bahkan seribu kali tak sebanding dengan dirimu bagiku, aku tak akan mengijinkan diriku membuat satu kesalahan apapun yang membuatku kehilanganmu lagi." Windu memeluk tubuh Dara yang terasa dingin karena diterpa oleh angin yang berhembus lewat pintu kaca yang terbuka lebar ke arah pantai.


"Tentu saja, aku tidak pandai berbohong, kamu tahu itu..." Windu terkekeh, dia merasa senang berhasil membuat Dara mempercayainya.


"Kak Win benar tidak tertarik dengan Fuji?"


"Astaga, sayang...Kalau aku tertarik dengannya aku sudah melakukannya dari pertama kali dia muncul di hadapanku. Tapi...aku tidak melakukannya, kan?" Windu terkekeh.


Dara menyusup ke dada bidang suaminya lebih dalam lagi, sekarang dia benar-benar tenang.

__ADS_1


"Kamu belum menjawabku, bagaimana bisa kamu tiba-tiba berada di sini?" Windu beryanya dengan penasaran yang tidak di buat-buat. Sebenarnya dia masih merasa surprise, dengan kedatangan Dara yang di luar dugaannya itu.


"Aku bersama papa naik jet ke sini." Jawab Dara malu-malu.


"Bersama papa?" Windu melotot pada istrinya itu.


"Tadi malam, aku sengaja menyuruhmu berangkat dengan Fuji hanya sekedar ingin membuktikan apakah dia benar-benar profesional atau tidak. Jika ternyat dia mengecewakan harapanku, maka aku punya alasan kuat untuk memintamu memecatnya, jadi aku tidak memberhentikan seseorang tanpa alasan atau hanya berdasarlan kecemburuanku semata." Dara menceritakannya dengan tersipu sambil memainkan jemarinya di atas dada bidang Windu.


" Astaga, sayang...Jadi...kamu sudah merencanakannya?" Windu melotot pada Dara.


"Aku tahu papa akan berangkat sore ini ke Bali karena dia mempunyai urusan penting, di luar acara yang kak Win hadiri. Tapi papa bilang beliau tak mungkin menahanmu untuk berangkat bersamanya, karena acara ini di buka lebih awal, sementara papa pagi ada janji temu dengan supplier dari Korea. Karena itu aku menyuruh kak Windu berangkat dengan Fuji saja, sementara aku ke dokter dulu paginya untuk memeriksakan kandungan sekaligus minta surat ijin untuk terbang." Dara tersipu malu.


Windu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you allā¤ļø...

__ADS_1


__ADS_2