
Happy reading
đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•
Apa yang kamu mau bicarakan denganku?” tanya Laura sembari meneguk sampanye di gelasnya.
Jonathan menyunggingkan sudut bibirnya, lalu duduk di sebelah Laura dan menuang sampanye ke gelasnya. “Sebenarnya apa yang kamu rencanakan?” tanyanya tanpa menatap Laura. Mereka sedang berada di ruang VIP sebuah kelab malam.
Laura tersenyum sinis. “Memangnya aku akan merencanakan apa?” Meneguk sampanye hingga tandas, lalu menuang kembali ke gelasnya.
“Sudahlah Laura aku sangat tau bagaimana dirimu.” Jonathan memicingkan mata ke arah Laura, kemudian tersenyum mencibir.
“Benarkah?" tanya Laura dengan tatapan menantang. “Apa saja yang kau ketahui tentang diriku? Sifatku atau tubuhku?”
Jonathan menautkan kedua alisnya menatap Laura. “Apa maksudmu?”
“Hahaahaa.” Laura tertawa sinis. “Dasar munafik!” umpatnya.
“Kita sudah sepakat melupakan itu,” desis Jonathan. Dia mendengkus saat menyadari ke mana arah pembicaraan Laura.
“Benarkah kamu sudah melupakan kejadian malam itu? Benarkah kamu sudah melupakanku?” tanya Laura mencibir.
“Malam itu aku sedang mabuk, itu hanya kecelakaan.” Jonathan meletakkan gelasnya dengan kasar. Dia melonggarkan dasi yang tiba-tiba terasa mencekik lehernya.
“Kecelakaan?” Laura menaruh gelas dan bangkit dari duduknya. “Lalu bagaimana dengan malam ini ....” Dengan gesit Laura duduk di pangkuan Jonathan dan tanpa diduga dia menyambar bibir pria itu dengan kasar.
Jonathan yang kaget dengan tindakan tiba-tiba Laura seketika mencengkram lengan Laura dan mendorong tubuh Laura hingga terduduk kembali di sofa.
__ADS_1
“Hentikan Laura!” bentaknya dengan mata melotot.
“Kenapa?” Laura tersenyum miring. “Bukankah ini yang kau inginkan.”
Jonathan memejamkan mata. “Aku sudah melupakanmu,” akunya.
“Ciihhhh! Kau pikir aku percaya padamu.”
“Aku sudah melupakanmu sejak kamu lebih memilih Tuan Reyhan dibanding diriku.” Jonathan menghela napas berat. Tanpa dia sadari, ucapan dia barusan telah membuka luka lamanya sendiri.
“Kau munafik, Jonathan.” umpat Laura.
“Aku serius Laura,” jawab Jonathan tegas dan lugas. Dia menatap tajam Laura, meyakinkan wanita itu akan kesungguhan ucapannya.
“Jika kau sudah melupakanku, kenapa kau masih sendiri sampai saat ini? Bukankah karena kau masih berharap padaku?”
Laura meraih tangan Jonathan, menggenggam jemarinya, dan meletakkannya di depan dagu. “Benarkah?” Laura tersenyum penuh harap. “Kamu masih ingin melihatku bahagia, 'kan? Kamu tau apa yang membuatku bahagia, 'kan? Maka dari itu bantu aku mendapatkan kembali kebahagianku, Jo.” Laura menatap Jonathan penuh permohonan.
Jonathan segera memalingkan wajahnya, enggan lama-lama beradu pandang dengan Laura. Mata itu, mata yang selalu mampu meluluhkan hati Jonathan, mata yang membuat pendiriannya mudah goyah. “Maaf Laura, kali ini aku tidak bisa menuruti keinginanmu.”
“Kenapa? Bukankah tadi kau bilang ingin melihatku bahagia?” bujuk Laura seperti biasa.
“Namun, tidak dengan cara seperti ini.” Jonathan mati-matian melawan gejolak perasaannya.
“Lalu dengan cara seperti apa?”
“Kembalilah ke LN, jalani hidupmu seperti yang kau jalani selama lima tahun ini di sana,” ujar Jonathan lembut. “Mimpimu sangat berarti bagimu, bukankah itu yang membuatmu bahagia?”
__ADS_1
“Tidak! Sekarang aku tidak membutuhkan semua itu lagi. Yang aku butuhkan Rangga dan Reyhan. Hanya mereka," ucap Laura lirih. Air mata merembes dari kedua mata indahnya.
“Kau yang sudah memilih meninggalkan mereka dulu demi mengejar mimpi.”
“Ya, aku tau itu kesalahan terbesarku. Aku ingin memperbaikinya. Maka dari itu kumohon bantu aku, hanya kamu yang bisa aku andalkan.” Menggenggam jemari Jonathan kembali. Ditatapnya Jonathan dengan penuh harap.
Lagi-lagi mata itu ....
Jonathan menarik tangannya, dia segera bangkit untuk menghindari tatapan Laura. “Maaf Laura, aku tidak bisa membantumu. Aku tidak ingin menghianati Tuan Reyhan lagi," jawab Jonathan tegas.
"Apa?" Laura terhenyak mendengar jawaban Jonathan yang di luar dugaannya. Selama ini, dia tahu Jonathan sangat mencintainya, dan lelaki itu selalu menuruti keinginan Laura.
"Aku ke sini hanya ingin memperingatkanmu untuk menghentikan rencanamu apa pun itu, termasuk niatmu mengambil alih hak asuh Tuan Rangga.”
“Rangga itu putraku. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, dan aku yang bertaruh nyawa saat melahirkannya. Jadi, aku yang paling berhak atas dirinya,” jawab Laura berapi-api.
Jonathan tersenyum tipis. “Kau memang ibu yang melahirkannya, tapi kau juga yang sudah meninggalkannya. Kau yang sudah menyiakan kesempatan itu.”
“Aku pergi juga untuk Rangga, untuk masa depannya.” Laura bangkit dari duduknya dan menatap tajam Jonathan.
“Masa depan seperti apa yang ingin kau berikan untuk Tuan Rangga? Tuan Reyhan sudah memberinya masa depan yang melimpah.” Jonathan memicingkan mata. “Menurutku, itu hanyalah alasanmu saja, Laura. Termasuk hari ini, kau memakai alasan hak asuh Tuan Rangga agar bisa menjerat Tuan Reyhan untuk kembali padamu,” kecam Jonathan, “kumohon hentikan, Laura. Sadarlah, kalau semua yang kau lakukan ini percuma. Karena aku tidak akan membiarkan semuanya terjadi. Aku yang akan menjadi penghalangmu.”
Plaakkk!
Sebuah tamparan keras melayang ke pipi Jonathan. “Aku membencimu. Aku tau kau sengaja melakukan ini untuk membalasku," geram Laura. Asal kau tau Sekretaris Jonathan, aku tidak takut dengan ancamanmu.”
Laura memberi tatapan menantang. Dengan kasar dia mengambil tasnya lalu meninggalkan Jonathan yang masih mematung. Laura menutup pintu ruangan itu dengan kasar, sedangkan Jonathan memegang pipi yang ditampar tadi. Dia terduduk di sofa kembali, menengadah menghadap langit-langit ruangan itu. Pikirannya menerawang, mengingat masa-masa SMA bersama Laura.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️