
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lamanya, sampailah ia di rumah besar milik keluarganya.
Pak satpam sudah nangkring di depan pintu pagar rumah dan membukakan pintu untuk anak majikannya tersebut. "Pagi Den Kenzo!" sapa pak satpam sopan.
"Pagi, Pak Joko!" Kenzo mengangguk sedikit sebelum bertanya kepada pria paruh baya itu. "Oh iya, Pak. Mommy udah berangkat kerja belom?" tanya Kenzo setelah memarkirkan motor sportnya di halaman rumah besar, lebih tepatnya di dekat pos satpam.
Pak Joko mengangguk. "Nyonya Mommy sudah berangkat ke Rumah Sakit, Den, kalau Nona Khanza baru saja keluar!" sahut pak satpam lalu melanjutkan perkataannya hingga menghentikan langkah Kenzo. "Itu ... anu, Den. Tuan Daddy akan pulang hari ini, jadi Nyonya Mommy berpesan agar Den Kenzo tidak ke mana-mana!"
Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Kenzo. Sepertinya ia tidak senang atas kedatangan sang ayah. "Nyesel gue balik," gumamnya masih bisa didengar pak satpam. Langkah kakinya melebar, memasuki rumah besar itu setelah mengangguk lemah kepada pak satpam.
Pak Joko hanya menggelengkan kepalanya melihat anak majikannya itu. "Hemh, kasihan pemuda itu harus selalu tertekan. Pria paruh baya itu tahu bagaimana Kenzo selalu ditekan ayah dan kakeknya yang terus menuntutnya sempurna dalam segala hal.
Sebagai calon pewaris Alberto grup, Kenzo dituntut untuk serba bisa dalam semua bidang. Beruntung otaknya yang cerdas mampu menangkap semua yang dipelajarinya secara dadakan hingga Kenzo pun bisa menangani ujian apapun yang diberikan mereka.
Padahal Kelly selalu was-was akan keadaan putra bungsunya itu karena selalu mendapatkan tekanan fisik maupun batinnya. Namun, tetap saja dirinya tidak berdaya menghadapi ayah mertua dan suaminya yang selalu mengekang serta memaksakan kehendak terhadap sang putra.
Langkah kaki menaiki tangga menuju lantai dua rumah besar itu. Wajah Kenzo terlihat kusut saat ini. Padahal tadi, ia sangat ceria dan juga bahagia bisa bersama dengan gadis galaknya, Markonah.
Kejadian-kejadian lucu yang dialaminya bersama Kayla menjadi obat penenang untuk jiwanya saat ini. Kenzo benar-benar membutuhkan hiburan dan dukungan dari orang terdekat.
Setelah sampai di kamarnya. ia bergegas mandi karena akan berangkat ke sekolah karena hari ini dirinya akan mengikuti ujian susulan sebab terhambat keberangkatannya kemarin.
Walaupun ayahnya meminta ujian online kepada pihak sekolah untuk putranya itu, tapi Kenzo menolak dengan alasan tidak ingin dianggap curang. Jika mengisi soal di rumah, nanti dikira nyontek, ujarnya waktu itu.
__ADS_1
Makanya, dia meminta ibunya untuk membatalkan ujian online kepada pihak sekolah dan meminta waktu untuk ikut ujian susulan. Biarlah ujian sendiri di ruang Guru, dari pada harus melakukannya secara online.
Setelah siap dengan seragam dan sepatunya, Kenzo bergegas turun dan berangkat ke sekolah. Mbok Dar menyiapkan sarapan untuk anak majikannya itu sesuai pesan Nyonya Mommy tadi sebelum berangkat.
"Makasih, Mbok! Aku minum susu sama roti aja," ujarnya seraya menyambar gelas berisikan susu dan selembar roti selai coklat kesukaannya.
"Jadi, Den Kenzo tidak makan toh! Lah nanti kalau Nyonya Mommy tanga, si Mbok jawab apa?" Mbok Dar kebingungan sembari menggaruk kepalanya tak gatal.
Kenzo terkekeh melihat tingkah lucu pelayan rumahnya tersebut. "Mommy udah tau kok kesukaan aku. Jadi, Mbok nggak usah khawatir!" sahutnya menenangkan mbok Dar.
Wanita tua itu tersenyum senang. "Beneran lho ya, Den Kenzo. Nyonya Mommy nggak akan marah," Kenzo hanya mengangguk sebagai jawaban.
•
•
Semenjak Kayla ke luar dari rumah, ia pun menjadi sangat sibuk karena harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Padahal selama ini Kayla lah yang mengerjakan semuanya sendiri saat dirinya masih berada di rumah itu.
Makanan di rumah tak ada yang menyiapkan, baju tidak ada yang mencucikan, pekerjaan rumah tidak ada yang mengerjakan, dan satu lagi yang terpenting yaitu duit untuk bekal dan ongkos ke sekolah.
Selama ini Kayla yang mencukupi kebutuhan Rania dan pamannya dengan cara bekerja menjadi tukang ojek dan juga waiters di cafe . Walaupun penghasilannya tak seberapa, tapi Kayla bekerja dengan keras dari sore sampai malam hanya untuk mencukupi segala kebutuhan.
"Aku nyesel ngusir dia dari rumah. Kenapa waktu itu aku malah terpancing emosi dan tidak mendengarkan ucapan ayah?" ujar Rania menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Herman berdiri. "Makanya itu, Ran. Ayah kan selalu bilang kalau kamu harus bersabar untuk sikap kasar Kayla. Kita bisa memanfaatkan segalanya dari anak itu," desisnya menasehati sebelum berkata lagi. "Sekarang kamu harus masak buat makan siang kita. Cepat, karena ayah sudah lapar!" lanjutnya memerintah.
Rania cemberut karena disuruh memasak yang padahal tidak pernah ia lakukan. Dia juga terlihat kesal mengingat harus mengerjakan semua pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya seorang diri.
Perkataan ayahnya memang benar. Kenapa Rania tidak bisa menahan emosinya? Repot sendiri 'kan akhirnya.
Selesai memasak, mereka makan bersama dengan diselingi obrolan jahat.
"Ayah. Bagaimana pun caranya si pembokat itu harus balik lagi ke rumah ini," ujar Rania dengan nada penuh kekesalan di hati.
Herman terkekeh. "Kenapa? Bukankah kamu nyaman jika kita tinggal berdua?" ledek ayahnya kemudian.
"Nggak usah meledek aku lah, Yah. Aku capek harus mengerjakan semuanya sendirian. Walaupun rumah ini tidak besar, tapi tetep aja sangat melelahkan!" gerutu Rania mengingat jika dirinya sekarang tidak pernah bisa bermain bersama teman-temannya jika terus mengurus pekerjaan rumah.
"Salah sendiri pake ngusir Kayla segala," cibir Herman.
Rania cemberut kesal karena ayahnya terus mengejek perbuatannya yang sudah mengusir sepupunya itu walaupun memang ada benarnya juga.
Melihat putrinya diam tak bersuara sembari cemberut kesal, Suherman terkekeh geli sambil berkata. "Baiklah. Tapi, Ayah yakin dia akan menolak untuk balik lagi ke rumah," cetusnya membuat Rania menoleh.
Mendengar pernyataan ayahnya, seketika senyum Rania pun mengembang. Gadis itu berpikir sejenak, lalu tersenyum penuh arti sambil menjentikkan jarinya. "Aha. Aku punya ide, Ayah. Gimana kalau kita mengancam dia untuk menjual rumahnya ini? Pasti dia bakal balik dengan sendirinya." tawa jahat diakhir kalimat begitu terlihat menyeringai diikuti sang ayah yang berpikiran sama.
"Kamu benar, Ran! Kayla pasti takluk jika mendengar rumahnya akan dijual oleh kita," ujar Herman membenarkan. "Eh tapi, sertifikat rumah dibawa Kayla pergi. Gimana caranya buat kita jual?" keduanya pun kembali berpikir.
__ADS_1
Rumah adalah peninggalan satu-satunya dari orang tua Kayla, hingga kedua pasangan ayah dan anak itu berpikir untuk menjual rumah ini agar Kayla kembali. Tapi, mereka kembali kebingungan sebab sertifikat yang berada di tangan Kayla. Padahal sertifikat itu tidak pernah Kayla bawa, melainkan disimpan di tempat yang aman.
...Bersambung ......