
Jenny menatap benda yang ada di atas nampan yang dibawa oleh Teresa.
Boneka bayi perempuan dengan dot di mulutnya, yang Jenny sangat ingat kalau itu boneka yang dibelikan Bradd untuknya saat ia kecil dulu.
Ada sekuntum mawar merah muda yang masih segar, dan Jenny yakin bunga itu dipetik dari taman di samping rumah, bunga yang ia tanam dengan dibantu Simon, dan Teresa beberapa waktu lalu.
Yang terakhir, sebuah amplop merah muda, dengan gambar dua hati di atasnya. Jenny juga ingat, dia merengek pada Bradd untuk membelikannya amplop itu saat mereka berbelanja keperluan sekolahnya, saat ia ingin masuk sekolah dulu.
Jenny tidak menyangka, Bradd masih menyimpan boneka, dan amplop miliknya.
"Buka amplopnya Nona, pasti ada surat dari Tuan untuk Nona," suara Teresa membangunkan Jenny dari rasa terpukaunya.
Jenny mengambil amplop di atas nampan, lalu membukanya perlahan.
Jenny
Maaf jika semalam aku sudah membuatmu merasakan sakit.
Tapi, sekarang aku percaya, kamu bukan lagi bocah kecil, tapi sudah menjadi wanita dewasa, yang aku percaya, suatu hari nanti akan bisa memberi bocah-bocah kecil untukku, yang akan lahir dari rahimmu.
Jenny
Terimakasih, sudah memberiku malam paling indah dalam hidupku. Semoga kamu tidak akan pernah menyesalinya.
Love
Bradd
Jenny menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca, akhirnya bulir air mata jatuh, dan menganak sungai di pipinya.
__ADS_1
Kata-kata Bradd sungguh melambungkan jiwanya, membawanya pada harapan yang seakan sudah ia genggam.
"Nona," Teresa menatap Jenny, wajah Jenny memang terlihat pucat, dan letih. Namun sorot matanya, terlihat jelas memancarkan kebahagiaan, meskipun kini basah oleh air mata.
Jenny meraih boneka, lalu mendekap erat ke dadanya. Diambilnya mawar merah muda, ia dekatkan ke hidungnya.
"Nona bahagia?" tanya Teresa meyakinkan dirinya. Jenny menganggukan kepala dengan kuat.
"Sebaiknya, sekarang Nona mandi, sementara saya membersihkan kamar, dan mengganti sprei tempat tidur. Setelah mandi, Nona bisa sarapan." Teresa meletakan nampan di atas meja.
"Aku ingin menelpon daddy dulu, Teresa," ucap Jenny sambil meletakan boneka, bunga, dan surat Bradd di atas meja.
"Ya Nona," Teresa tersenyum pada Jenny, ia mendekati ranjang, bibirnya kembali tersenyum, melihat noda-noda yang mengotori sprei.
'Tuan sudah mendidik, dan menjaga nona dengan baik, sehingga nona Jenny, tidak mengikuti sikap buruk ibunya'
"Hallo," Teresa menoleh saat mendengar suara Jenny.
🌼🌼🍍🌼🌼
Bradd yang baru saja menerima telpon dari Jenny tersenyum. Ia tidak sempat bicara, setelah mengatakan 'i love you' Jenny langsung mematikan ponselnya. Bradd menyandarkan punggung ke sandaran kursi kerjanya, dilonggarkan dasi di lehernya, ia buka dua kancing kemejanya yang paling atas, apa yang terjadi semalam berkelebat di benaknya, itu membuat tubuhnya terasa panas, meski hari masih pagi, dan AC di ruangan sudah menyala sejak tadi. Sesungguhnya masih ada rasa bimbang di dalam hatinya, juga ada rasa takut, kalau Jenny suatu saat nanti akan menyesali apa yang terjadi di antara mereka.
Namun, Bradd tidak bisa mengabaikan perasaannya sendiri, ada rasa ingin memilik Jenny untuk selamanya, bukan sebagai putrinya, tapi sebagai wanita yang akan menjadi ibu bagi anak-anaknya.
"I love you too Jenny.... " gumam Bradd sambil mengulum senyumnya. Bradd tersentak mendengar ucapan yang meluncur dari sela bibirnya. Mungkin sudah jutaan kali ia mengatakan kalimat itu pada Jenny, tapi Bradd sadar, kali ini kalimat itu tidak lagi sama baginya, meski tetap sama artinya.
Suara ketukan di pintu mengagetkan Bradd. Bradd mempersilahkan masuk.
"Selamat pagi Bradd, apa aku mengganggu?" Mary muncul di ambang pintu. Bradd berdiri dari duduknya, kedua telapak tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Namun, ia berusaha menahan rasa marahnya, ia harus bersandiwara untuk tahu apa tujuan Mary sesungguhnya.
__ADS_1
"Selamat pagi Mary, ada apa?"
Mary melangkah mendekati meja kerja Bradd.
"Aku ingin mengucapkan terimakasih atas bantuanmu semalam, meskipun kamu tidak datang sendiri untuk membantuku."
"Tidak perlu berterimakasih Mary," sahut Bradd berusaha sedatar mungkin. Mary menatap Bradd dengan lekat, jarak mereka memang terhalang oleh meja kerja Bradd, tapi hal itu tidak menghalangi pandangan Mary ke bagian leher dan dada Bradd.
"Apa telponku sudah mengganggumu semalam, Bradd?"
"Tidak juga, Mary. Emhhh, aku kira sekarang sudah masuk jam kerja, sebaiknya kamu berada di tempatmu, karena aku sendiri juga sedang banyak pekerjaan," Bradd mengusir Mary dengan halus.
"Owhh, tentu saja Bradd, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, itu saja. Aku pergi Bradd, selamat pagi," pamit Mary.
"Selamat pagi, Mary." Bradd menganggukan kepala pada Mary. Ditatapnya punggung Mary, rasa penasaran tentang niat Mary cukup mengganggunya. Namun Bradd berusaha ia tahan, sampai ia mendapat informasi dari Teresa.
🌼🌼🍍🌼🌼
Siang ini Bradd pulang ke rumah, ia ingin mengagetkan Jenny dengan kedatangannya. Satu paper bag ia bawa bersamanya, hadiah untuk Jenny tentunya. Bradd teringat saat Jenny kecil dulu, ia seringkali membelikan mainan, dan pakaian untuk Jenny. Biasanya Jenny menerima hadiah darinya, dengan mata berbinar bahagia, dan menghujani wajahnya dengan kecupan, dan ucapan terimakasih. Sejak Jenny beranjak dewasa, ia memang tidak pernah lagi membelikan apa-apa, karena ia tahu, Jenny sudah bisa memilih, dan membeli sendiri apa yang ia inginkan, atau butuhkan. Kecuali gaun-gaun, yang sebenarnya Jenny tidak suka mengenakannya. Bradd yang harus membelikannya, karena Jenny tidak akan membeli untuknya sendiri.
Bradd mengetuk pintu kamar Jenny, namun tidak ada tanggapan dari dalam sana. Bradd mengulangi ketukan, dan panggilannya, tapi tetap sama, tidak ada respon dari dalam. Perlahan Bradd membuka pintu kamar, terlihat Jenny tertidur di atas ranjang, hanya mengenakan bra, dan celana dalam saja. Tanpa baju, celana, ataupun selimut.
Bradd menutup, dan mengunci pintu, ia letakan paper bag hadiah untuk Jenny di atas meja. Di dekati ranjang, ditatap tubuh Jenny, bibirnya tersenyum, saat melihat bercak merah di atas putihnya kulit Jenny. Bercak yang berasal dari bekas kecupannya, yang seperti singa lapar semalam, melahap Jenny dengan sangat rakusnya. Ketidak pengalaman Jenny justru membuat gairahnya menyala luar biasa, membakar dirinya, menghanguskan keyakinan kalau baginya, Jenny adalah putrinya. Menghempaskan wacana pernikahan sandiwara, karena Jenny sudah berteriak saat ia mengoyak keperawanannya. Jenny sudah mengerang, melenguh, mendesah, dan mendesis, di bawah kuasa dirinya.
Jenny, bukan lagi putrinya, tapi sudah menjadi istri yang akan menjadi ibu bagi anak-anaknya.
Bradd merasa, pernikahan ini bukan lagi untuk menyelamatkan Jenny dari Angelica, tapi sudah menjadi sesuatu yang membuat ia menemukan kebahagian sesungguhnya di dalam hidupnya.
"I love you, Jenny" Bradd membungkuk, dikecupnya kening Jenny dengan lembut. Ia tidak berniat Membangunkan Jenny dari tidur lelapnya, ia tahu Jenny kelelahan karena keganasannya semalam.
__ADS_1
🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼