
Happy reading
💕💕💕💕💕
Mentari pagi telah bersinar dengan cerahnya. Hujan tadi malam membuat pagi ini terasa lebih segar. Ya, cuaca hari terlihat sangat cerah. Terlihat awan putih yang menggantung indah di atas langit. Burung-burung pun terdengar berkicau merdu, saling bersahutan, lalu melompat di antara ranting-ranting pohon.
Diana membuka jendela kamar, dia hirup udara segar dalam-dalam hingga memenuhi rongga perutnya. "Hm, segarnya," gumam Diana tersenyum cerah. Secerah sinar mentari pagi. Tentu saja, hari ini adalah hari kepulangan Reyhan setelah seminggu pria itu meninggalkannya ke Jerman. Itu artinya lusa mereka akan berangkat ke Bali untuk berbulan madu sesuai janji Reyhan.
Diana tersenyum bahagia membayangkan bagaimana serunya bulan madu mereka nanti. Dia sudah membrowsing tempat-tempat indah di sana dan menyusun jadwal mana saja tempat yang akan mereka kunjungi. Rasanya dia sudah tidak sabar menunjukkan semuanya pada Reyhan. Reyhan, betapa Diana sangat merindukan suaminya itu. Biasanya setiap pagi dia akan terbangun dalam pelukan Reyhan, lalu dengan gemas dia akan mencium bibir Reyhan yang biasa setengah terbuka saat tidur. Namun, semingu ini dia merasa hampa. Malamnya terasa sunyi dan paginya terasa tidak bersemangat.
Suara ponsel terdengar berdering keras di atas nakas, membuyarkan lamunan Diana. Segera Diana menghampiri nakas setelah melihat Rangga yang masih tidur menggeliat gelisah. Sepertinya bocah itu terganggu dengan dering ponsel Diana.
Diana mengusap paha Rangga supaya bocah itu kembali tidur tenang. Baru mengangkat telepon dari Reyhan. "Iya, By."
"Kau di mana?" tanya Reyhan dengan nada mengintimidasi seperti biasa. Dia akan selalu menelepon Diana di pagi hari hanya untuk menanyakan Diana di mana dan juga melarangnya keluar rumah menemui siapa pun.
"Aku di rumah, memangnya di mana lagi, baru juga bangun," sewot Diana.
"Kenapa suaramu ketus begitu? Apa tidak suka aku menelepon?"
"Bukan tidak suka kau menelepon, aku hanya bosan mendengar kata yang kau ucapkan setiap meneleponku. Memangnya tidak kata-kata lain apa?"
"Memangnya kau ingin aku bilang apa?"
"Apa kek yang romantis. Kita sudah tidak bertemu seminggu, apa kau tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu, By," terang Diana dengan suara manja membuat yang di seberang mengerang menahan gejolak jiwanya.
"Di mana Rangga?" tanya Reyhan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Masih tidur," jawab Diana singkat. Reyhan suami yang menyebalkan, bukan? Oke, Rangga memang penting, tetapi setidaknya dia membalas ucapan cinta Diana juga, dong.
"Oh, baiklah. Aku hanya ingin bilang padamu, aku tidak jadi berangkat pulang. Pekerjaanku belum selesai, mungkin seminggu lagi. Aku ...."
"Apa? Seminggu lagi?" Diana memekik tak percaya.
"Iya," jawab Reyhan santai, seolah tidak ada beban meninggalkan Diana yang sudah diliputi kerinduan memuncak.
"Hah? Tidak usah pulang aja sekalian!" Diana membentak saking kesalnya.
"Kau berani membentakku?"
"Bodo amat!"
"Hei!" Reyhan tak kalah kesal. Beberapa detik tidak ada yang bersuara. Hanya helaan napas panjang yang terdengar dari Reyhan. "Sudahlah, di sini baru jam dua pagi. Aku lelah, ingin istirahat."
Tutttt ... tuuttt ... tuutttt.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️
__ADS_1
"Pagi semua," sapa Diana lesu. Dia duduk di sebelah Rangga yang disuapi Lala.
"Pagi Sayang," balas Soraya. Dia dan Tuan Wijaya mengernyit melihat Diana yang tidak secerah biasanya.
"Sini La, biar aku saja." Diana mengambil alih piring makanan untuk Rangga dan mulai menyuapi bocah itu. "Aaak, Sayang!" perintahnya pada Rangga. Rangga menurut. "Enak?"
"Ya, Bu. Ga cuka cocis. Anyakin cocisnya ya Bu," pinta Rangga dengan suara cadelnya yang menggemaskan.
"Oh, gitu ya?" tanya Diana dengan wajah imut dibuat-buat.
"Ho—oh Bu,"
"Baiklah Tuan Muda, ibu sudah banyakin sosisnya, sekarang maem yang banyak, ya." Diana tersenyum sembari menyodorkan sesendok makanan ke mulut Rangga.
Rangga menurut, bocah itu makan dengan lahap setiap disuapi Diana.
"Kamu kenapa, Di?" tanya Soraya setelah terdiam cukup lama.
"Gak apa-apa, Ma," bohong Diana. Dia tersenyum tipis ke arah Soraya sebelum menyuapi Rangga lagi. "Aaaaakk lagi, Sayang." Rangga kembali mengikuti instruksi Diana. "Pinter ya anak ibu, cepet gede dah habis ini." Diana terkekeh senang.
"Reyhan bagaimana, Diana? Jadi, tiba di rumah hari ini?" tanya Tuan Wijaya di sela-sela mengunyah makanannya.
Seketika wajah Diana muram kembali. "Sepertinya tidak Pa, katanya diundur lagi seminggu."
Sontak Tuan Wijaya dan Soraya menoleh Diana. "Kenapa gitu?" tanya Soraya heran.
Diana mendesah pelan. "Entahlah Ma, Reyhan bilang pekerjaannya di sana belum selesai. Jadi, mungkin nunggu seminggu lagi." Dia menerawang sendu, sedangkan Soraya dan Tuan Wijaya saling tatap, lalu melempar senyum meledek.
__ADS_1
"Jadi, karena itu wajahmu muram pagi-pagi." Soraya terkekeh geli melihat Diana yang mengerucutkan bibir.
❤️❤️❤️❤️❤️