Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 141


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Pagi ini Diana terbangun tanpa Reyhan di sampingnya. Dia menoleh ke sebelah ranjang dan melihat Reyhan sudah tidak ada di sana. "Tumben dia sudah bangun," gumamnya pelan. Hari masih sangat pagi, awan gelap pun belum sepenuhnya menghilang.


Diana bangkit dan mencepol rambutnya asal, lalu menuju ke balkon kamar yang pintunya sudah terbuka. Dia bersandar di dinding, senyumnya mengembang melihat wajah Reyhan yang serius menekuni layar laptopnya. "Apa kau sesibuk itu?"


Reyhan menoleh, lalu menghentikan aktivitasnya. Dengan tersenyum dia menarik lembut lengan Diana hingga duduk di pangkuannya. "Apa tidurmu nyenyak?" Mengecup pipi Diana sekilas.


Diana mengusap wajah Reyhan. "Harusnya aku yang bertanya padamu," cibirnya. Jelas sekali jika wajah Reyhan terlihat kurang tidur.


Reyhan memejamkan mata, menikmati usapan lembut tangan Diana di wajahnya. "Aku harus berangkat ke Jerman sore ini," cetus Reyhan yang membuat Diana terkesiap hingga menjauhkan tangannya.


"Harus sore ini?"


"Hm, kenapa wajahmu sedih begitu?" tanya Reyhan setelah membuka matanya.


"Kenapa mendadak sekali? Bukankah kau tidak ada agenda pergi ke luar negeri bulan ini."


Reyhan menghela napas berat. "Aku harus mengantar Alice ke sana dan memastikan dia benar-benar aman. Aku tidak ingin dia merasa dibuang lagi."


"Apa Alice sudah dikeluarkan dari penjara?"


"Hm, nanti siang Jonathan yang menjemputnya. Sebenarnya dua minggu bagiku belum cukup memberi dia pelajaran, tapi dia sudah aku anggap seperti adikku, aku tidak ingin masa depannya hancur. Dia sudah cukup hancur dengan kehilangan kedua orang tuanya dan itu karena aku. Anggap saja sekarang kami impas. "


Diana mengangguk lemah.


"Menurutmu bagaimana? Apa kau belum ikhlas? Apa kau ingin hukuman Alice ditambah?"


Diana tersenyum tipis. "Tidak Rey, aku sudah ikhlas menerima kepergian putri kita dan aku sudah memaafkan Alice. Dia masih sangat muda, masih labil, aku bisa ngerti."

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang." Reyhan memeluk erat Diana.


"Lalu, bagaimana dengan pria bertopeng itu?"


"Dia tetap di penjara. Kenapa? Wajahmu terlihat mengkhawatirkannya."


"Bukan begitu, aku hanya kasihan saja padanya."


"Kasihan? Hei, dia sudah menyakitimu, menyakiti putri kita, dia juga sudah menusukku, tapi kau masih kasihan. Kau itu terlalu polos, Diana."


Diana menghela napas panjang. "Aku kasian karena dia masih muda. Dia melakukan itu demi cintanya pada Alice, so sweet. Aku jadi iri pada Alice. Ada pria yang begitu mencintainya sampai rela melakukan hal ekstrim demi membuatnya bahagia." Wajah Diana menerawang kagum, tidak menyadari jika Reyhan menatapnya kesal.


"Apa aku perlu membunuhnya karena kau berani mengagumi pria itu di depanku? Hah!"


Diana segera menatap Reyhan dengan cengiran bodohnya. "Eh, bukan begitu maksudku. Aku hanya terkesan, hehe."


Reyhan mendengkus, lalu kembali fokus pada layar laptopnya.


"Jangan mengada-ada, kau tahu itu mustahil."


"Haha, suamiku sangat sensitif, sangat posesif, angkuh, dan arogan, tapi aku sangat mencintainya karena sifatnya itu," rayu Diana yang sudah menangkup kedua rahang Reyhan, lalu mengecupi seluruh wajahnya.


"Jangan merayuku, aku tidak ingin lepas kontrol. Kau tau, 'kan, aku sudah puasa hampir dua minggu."


Diana segera menghentikan aksinya, sedangkan Reyhan kembali fokus pada layar laptopnya.


"Rey, memangnya harus hari ini berangkatnya? Apa tidak boleh besok?" tanya Diana kembali ke topik awal.


Reyhan terkekeh geli lalu mengecup bibir Diana sekilas. "Lebih cepat lebih baik, Sayang. Aku janji hanya seminggu." Reyhan tersenyum meski hatinya sedih karena harus pergi jauh. "Hei, tersenyumlah. Aku tidak bisa pergi kalau kau cemberut begitu."


Diana tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya di dada Reyhan. "Di sana pasti banyak wanita cantik," gumamnya yang mengerucutkan bibir.

__ADS_1


Reyhan mengerutkan dahi dengan ekspresi geli. "Aku ke sana untuk mengurus Alice. Selain itu, ada pekerjaan juga yang harus aku selesaikan bersama Jimmy. Aku akan sibuk di sana, tidak ada waktu untukku cuci mata."


Diana melengos. "Well, tetap saja kalau lihat yang bening-bening pasti lupa dengan yang di rumah ya, 'kan?"


"Haha, yang di rumah saja tidak ada habisnya. Istriku sudah cantik, kenapa harus mencari yang lain." Reyhan bertopang dagu, menatap wajah cemberut Diana.


Diana tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari bibir manis Reyhan. "Cih, gombal."


Reyhan tergelak lalu mengacak rambut Diana. Namun, detik berikutnya dia terdiam dan menatap serius. "Hei, serious! Aku belum pernah segila ini mencintai wanita." Mereka berpandangan lekat. "You driving me mad, Diana."


Tatapan Reyhan membuat Diana meleleh. "Me too, Hubby."


Diana meraih tengkuk Reyhan, menenggelamkan bibir mereka dalam ciuman panas. Dia membuka mulutnya, memberi akses yang tak bertulang milik Reyhan melesak masuk dan menjelajah dengan lihai di dalam sana. Lidah Reyhan begitu ahli, begitu memuja. Bibir mereka saling bertaut, menyesap, membelit satu sama lain. Melepas dahaga dan kerinduan yang selama hampir dua ini minggu tertahan.


Sesapan dan tautan masih terjalin, saat Diana merasakan tangan Reyhan melepas dua kancing teratas piyama tidurnya, lalu menyusup, meremas miliknya dengan begitu ahli. Tangan Reyhan begitu hangat, seakan membakar miliknya yang sudah begitu mendamba.


"Ayah."


Reyhan tersentak ketika mendengar suara mungil yang menyerukan dirinya, ditambah dia merasakan ujung piyamanya ada yang menarik berulang kali. Reyhan segera menghentikan ciuman mereka dan bersamaan dengan Diana menoleh ke arah sumber suara yang sekaligus menarik baju Reyhan tadi.


"Rangga," pekik Diana dan Reyhan bersamaan. Wajah mereka berubah tegang. Mereka takut Rangga melihat apa yang mereka lakukan barusan.


"Ayah, Ibu, kalian melakukan apa di sini?"




❤️❤️❤️❤️❤️


Nah, hayo ngapain? Bohong dosa lho🤭 apalagi bohongin anak kecil😄😄😄

__ADS_1


Yuk, jangan lupa tap jempolnya ya🤗🤗🤗


__ADS_2