Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 80~Pacarnya Frans


__ADS_3

Tania berjalan sambil merutuki dirinya karena tidak langsung menjawab pertanyaan Frans tadi.


"Elu yakin nggak suka sama gue? Padahal, gue suka sama elu lho, Tan!" gurau Frans sambil terkekeh.


Ingin rasanya Tania mengatakan yang sejujurnya kalau dia sangat menyukai Frans bukan sebagai teman, sahabat, maupun saudara. Dia menyukai Frans sebagai lawan jenis atau tepatnya dia mencintai pemuda tersebut.


"Bodohnya gue. Bodoh ... bodoh ... bodoh!" erangnya sambil memukul-mukul kepalanya pelan. "Gak ada kesempatan lagi 'kan kalau dia sudah pulang nanti. Apalagi, kalo Kenzo udah sembuh pasti mereka balik ke Jakarta lagi."


Karena tidak fokus menatap jalan di depan, akhirnya dia pun menabrak seseorang yang tengah berjalan beriringan di arah berlawanan.


Bruk


"Ow Www!" rengeknya sambil mengusap kening. "Kalau jalan itu lihat-lihat. Dasar bodoh," gerutu Tania dengan membentak orang tersebut.


"Hei Nona pintar! Elu yang nabrak gue, kok jadi elu yang marah sih!" elak orang yang ditabrak Tania.


Mendengar perkataan orang tersebut, tentu membuat Tania menjadi geram. "Gue yang nabrak? Heh, nggak salah! Jelas-jelas elu yang ..." ia tidak bisa melanjutkan perkataannya sebab suara seseorang yang dikenali Tania menginterupsi.


"Tania!" si pemilik nama langsung menoleh ke arah sumber suara. "Dari mana kamu?" bertanya dengan penasaran.


Tania menatap ke arah depan. "Nenek! Dari mana? Dan ngapain Nenek sama dua orang ini?" lirikan tak suka terlempar ke arah dua pemuda tampan di hadapannya yang salah satunya ditabrak tadi.


"Ditanya balik nanya. Dasar kamu ini," nenek menggelengkan kepala lalu memperkenalkan Bagas dan Devian sebagai sahabat dari adik sepupunya Tania, Kenzo.


Tania mengangguk cuek. "Oh. Terus Nenek dari mana?"


"Nenek abis dari rumah kost untuk menitipkan motor mereka di sana. Rumah kita kan sempit, jadi gak akan masuk." sahut nenek lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Oh, iya. Itu motor siapa lagi? Kok ada di depan rumah!"


Tania melirik ke belakang, melihat arah tunjukan nenek. "Itu motor Frans," sahutnya.


"Frans?" sontak Bagas dan Devian mengerutkan kening. "Dia ke sini?"


"Emangnya kenapa kalo dia ke sini? Lagi pula, dia sering ke sini dulu bareng Ken," ketus Tania kesal. Gadis itu sepertinya marah karena Bagas dan Devian terdengar tidak senang atas kehadiran Frans di sana.


Entah apa yang terjadi kepada meraka, batin Tania penasaran.


"Ya udah Nek, aku pulang dulu ya!" Tania berjalan buru-buru setelah berpamitan.

__ADS_1


Tapi, suara nenek Arimbi kembali menghentikan langkahnya. "Tania, titip temannya Ken di sana."


Tania kembali menoleh. "Temannya Ken? Siapa lagi?"


"Ah, nanti juga tahu!" sahut nenek yang kemudian berlalu meninggalkan cucu perempuannya yang masih termenung penasaran.


Sesampainya di rumah kost, Tania segera menuju kamar tanpa menemui siapapun. Pikirannya kacau saat ini setelah pertemuannya dengan Frans. "Haaaaaa, si Frans bikin gue galau!" teriaknya sambil melompat. Dia tidak tahu jika di kasur miliknya itu terbaring seseorang dengan di balut selimut.


"Whoooaaaa!" seseorang berteriak sembari beranjak duduk setelah merasakan seluruh tubuhnya yang kesakitan akibat tertindih cukup keras. "Aduh, badan aku sakit semua!" keluhnya sambil mengelus bagian tubuh yang sakit.


Tania terperanjat turun kembali ke lantai. Dia melongo menatap seseorang yang tengah mengaduh kesakitan karena ulahnya. Seorang gadis asing yang tak pernah ia jumpai sebelumnya.


Matanya memicing menelisik penasaran. "Siapa lu? Kenapa ada di kamar gue?" ketusnya bertanya.


Kayla mendongak menatap Tania yang sedang bertolak pinggang di hadapannya. "A-aku di suruh Nenek tidur di sini," sahutnya.


Raut wajah Tania berubah ramah mendengar nenek disebutkan. Dia baru ingat jika neneknya tadi menitipkan seseorang untuk dilayaninya. "Oh, kamu temannya Ken!" Kayla mengangguk cepat. "Hai! Namaku Tania. Aku Kakak sepupunya si tengil," ujarnya memperkenalkan diri.


Kayla langsung menjabat tangan Tania yang terulur. "Aku Kayla, teman sekelas dan sebangku Kenzo."


"Apaan sih!" Kayla ikut terkekeh.


"Oh iya, tadi maaf banget! Aku nggak tahu kalau ada kamu di ranjangku," ucap Tania tak enak.


"Tidak apa-apa kok! Aku juga yang salah, gak nunggu persetujuan yang punya kamar. Maen tidur-tidur aja. Hehehe!" Kayla menggaruk kepalanya sembari cengengesan.


"Santai aja Kay, nggak apa kok! Oh iya, mana yang sakit?" tanya Tania teringat Kayla tadi mengaduh kesakitan.


"Udah enggak kok," Kayla tersenyum ramah.


Setelah perkenalan itu, Tania dan Kayla menjadi dekat. Kedua gadis tersebut saling berbagi cerita kehidupan masing-masing.


Tertawa terbahak, cekikikan, sampai menangis melow. Mereka tak menutupi semuanya walaupun baru bertemu saat ini.


Kisah kehidupan Kayla tidak jauh berbeda dengan Kayla. Semasa kecil sudah di tinggalkan ayah dan ibunya. Namun yang membedakan, Tania diurus oleh neneknya yang selalu menyayangi dirinya, sedangkan Kayla tinggal bersama paman dan keponakannya yang jahat juga serakah.


"Kasihan banget kamu, Kay. Pasti hidupmu susah ya tinggal sama mereka,"

__ADS_1


"Ya, begitulah Tan. Aku sudah terbiasa hidup susah, makanya aku bisa menjalani hidup sendirian. Hidup sendiri lebih baik dari pada bersama mereka yang selalu memanfaatkan kebaikanku aja," cetusnya lirih.


"Keputusanmu udah bener, Kay. Biarkan mereka mencari uang sendiri untuk hidup. Emangnya gampang apa, harus nyari duit buat memenuhi segala kebutuhan!" seru Tania ikut kesal.


Kayla hanya tersenyum menanggapi reaksi kesal Tania yang bersimpati terhadapnya. "Makasih ya, Tania. Walaupun kita baru saling mengenal, tapi kamu udah perhatian sama aku!"


Tania tersenyum sembari memeluk Kayla. "Jangan sungkan untuk meminta bantuan! Aku akan siap membantu kapan pun kamu butuh," Kayla mengangguk senang. "Ya udah, yuk tidur! Udah mau subuh nih!" ajak Tania.


Kayla mengangguk, kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Tania. Tak lama kemudian, mata keduanya terpejam untuk memasuki alam mimpi.




"Selamat pagi pacarnya Frans!" hembusan nafas menggelitik telinga, sampai si gadis menggeliat karena merasa geli.


Sejenak ia terdiam sambil menyunggingkan senyum, kemudian langsung berbalik dan memeluk si pembisik tadi. "Pagi juga pacarnya Tania!" gadis tersebut melingkarkan tangan di leher Frans sambil bergelayut manja.


Frans sontak terkejut mendengar suara gadis yang sedang berada dalam pelukannya. Suara itu, nama itu, bukanlah gadis yang Frans maksud. Pemuda tersebut berusaha melepas namun Tania tak mau melepasnya.


Dengan susah payah Frans berusaha melonggarkan pelukan Tania yang malah semakin mempererat lilitannya. "Tania? Le-lepasin gue. Gu-gue kira elu ..."


"Sedang apa kalian?" Kayla berdiri di ambang pintu menatap ke arah Tania dan Frans yang sedang berpelukan.


"Kayla?" ucap Frans dan Tania bersamaan.


Kayla mundur lalu berbalik. "Maaf. Keknya aku salah masuk kamar," ia terkekeh lalu melangkah pergi.


Melihat Kayla pergi begitu saja, Frans segera menarik paksa tangan Tania yang melingkar di lehernya lalu berlari mengejar Kayla. "I-ini nggak seperti yang kamu pikirkan, Kay! A-aku bisa jelasin semuanya,"


Namun, Kayla sudah pergi meninggalkan kamar tersebut karena malu melihat kedua muda-mudi yang sedang berpelukan itu.


"Kay ... Kayla!" Frans segera berlari mengejar Kayla sambil berteriak memanggilnya.


Tania tampak mematung tak mengerti dengan kejadian singkat tersebut. "Apa yang dimaksud pacarnya Frans itu adalah Kayla?" tanpa diminta si empunya, cairan bening luruh menetes melewati pipi. "Jadi, Kayla pacarnya Frans?"


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2