Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 136


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Diana sedang mencuci tangannya di wastafel sembari menatap bayangan dirinya di cermin. Ya, ampun! Betapa naifnya dia, bisa-bisanya dia gugup sampai terkencing-kencing di acara penting suaminya.


"Aku pasti bisa melalui malam ini dengan baik," gumamnya pada diri sendiri. Dia menghela napas dalam dan bersiap melangkah keluar toilet.


Diana membelalak kaget begitu mendapati bodyguard yang mengawalnya tadi tersungkur di depan pintu toilet. Entah tidur entah pingsan. Toilet memang kebetulan berada di lorong yang sepi dan tempatnya juga cukup jauh dari tempat pesta.


Belum sempat Diana berpikir lebih jauh, sebuah tangan kekar dan kuat menyergapnya. Menutup mulut Diana dengan kasar dan tiba-tiba. Diana ingin berteriak, tetapi sebelah tangan penyergap menekan sebuah benda tajam di pinggang Diana. Diana melirik sekilas. Sebuah pisau kecil!


"Diam! Atau pisau kecil ini akan menembus kulitmu," ucap penyergap itu penuh ancaman.


Diana tak berdaya. Mau tidak mau, dia harus mengikuti kemauan si penyergap. Memang dia bisa apa? Mulutnya dibekap, pinggangnya ditempel pisau mengerikan.


Dengan tergesa-gesa penyergap menyeret tubuh Diana menuju ujung lorong ke arah tangga darurat yang menghubungkan pintu keluar villa.

__ADS_1


Siapa dia? Kenapa dia melakukan ini padaku? Ya, Tuhan, Rey tolong aku .... ratap batin Diana.


Langkah si penyergap semakin cepat seakan ingin cepat keluar area villa. Diana bisa merasakan napas penyergap itu yang terengah di atas kepalanya. Diana melirik ke atas, berusaha mengetahui wajah penyergapnya yang mengenakan penutup wajah. Namun, tubuh Diana yang kalah tinggi menghalangi niatnya.


Kaki Diana mulai pedih lantaran sepatu hak tingginya terseret-seret mengikuti langkah penyergap. Jantung Diana berdegup kencang, dia berkeringat dingin hingga, pusing akhirnya menyerang. Dia mual dan ingin muntah.


"Diana!" Sebuah teriakan terdengar dari ujung atas tangga, sedangkan dirinya dan si penyergap sudah berada di batas akhir anak tangga dan segera mencapai pintu keluar.


Diana dan penyergap sama-sama terkesiap mendengar panggilan itu. Diana mengenali suara itu.


Reyhan! Rey, aku di sini! teriak batin Diana.


Diana berusaha berontak sekuat tenaga. Merasakan ada harapan, tetapi pisau tajam lebih dulu menusuk sedikit pinggangnya hingga terasa pedih.


"Jangan coba-coba," desis penyergap itu. "Ayo!"


Dengan gerakan kasar dia menyeret Diana dan mereka sudah mencapai pintu keluar. Sementara, suara itu masih memanggil-manggil dari ujung tangga.

__ADS_1


Reyhan segera menyusul Diana ke toilet. Perasaan waswas menghantuinya. Apalagi begitu sampai di depan pintu toilet, bodyguard yang mengawal Diana tersungkur di lantai. Reyhan berusaha membangunkannya, tetapi nihil. Dia sepertinya dibius dengan dosis tinggi.


"Diana! Sayang!" Reyhan memanggil Diana kembali dan membuka pintu toilet perempuan satu-satu berharap dia belum terlambat. Namun, semuanya sudah kosong dan Diana sudah benar-benar menghilang.


"Diana? Kau di mana?" Perasaan buruk pun merayap. Reyhan mengacak rambutnya frustasi, lalu membungkuk. Dia mengambil benda yang mengganjal sepatunya. Sebuah anting berlian yang menjuntai elegan. Anting Diana. Ya, Reyhan yakin itu milik Diana karena dirinya sendiri yang memilih model itu.


Seketika matanya membara ketika melihat di ujung lorong terdapat pintu kecil yang menghubungkan tangga darurat menuju pintu keluar. Dengan langkah cepat Reyhan membuka pintu itu.


"Diana!"


Reyhan berteriak lagi hingga suaranya menggema di dalam area tangga darurat.


"Diana, kau di mana? Jawab aku!"


Braakkkk!


Telinga Reyhan yang tajam menangkap suara pintu di ujung bawah tangga dibanting. Ada yang membuka pintu itu, disusul suara umpatan seorang pria dan teriakan wanita yang menyebut namanya.

__ADS_1


"Reyhan! Rey ...."


"Diana!" Setengah berlari Reyhan menuruni anak tangga darurat. Dia sangat yakin itu suara Diana. Semoga instingnya benar dan dia tidak terlambat.


__ADS_2