
Zahra melajukan motor bututnya ketempat dimana Pras sedang berusaha mencari anaknya.
Dalam hatinya Zahra merasa heran juga dengan pola pikir Nadia.
Sebenarnya ia juga merasa iri dengan padanya.
Sudah punya suami yang baik seperti Pras, anak - anak yang lucu, juga kehidupan yang lumayan mapan.
Tapi sayang, Nadia tidak mensyukurinya. Dia malah mencari kesibukan di luaran, mengejar kesenangan yang tak pasti.
Bahkan sampai menelantarkan anak-anaknya.
"Assalamualaiqum," ucap Zahra saat melihat Pras dengan wajah kuyu.
"Waalaiqum salam. Teimakasih sudah mau datang kesini," kata Pras.
"Gimana mas? belum ada petunjuk?" tanya Zahra.
Pras menggeleng lemah. Sedangkan Toni memandang Zahra dengan tatapan kurang suka. namun Zahra mengacuhkanya.
"Saat menghilang, apakah mereka membawa sesuatu atau atribut dari sekolah barangkali, yang bisa menunjukkan identitas mereka pada si penemu?" tanyanya lagi.
Pras hanya menggeleng lemah.
"Apakah ada yang menghubungi mas Pras? minta tebusan atau yang lainya?" tanya Zahra lagi.
"Tidak ada, itu juga yang membuat saya bingung kalau memang mereka di culik.. Pelakunya pasti sudah menelpon atau minta tebusan," gumam Pras yang d iyakan oleh Zahra.
Nanti kita coba sebar lewat sosmed, sambil terus melakukan pencarian di sekitar sini," usul Zahra.
"Benar juga. Kenapa saya tidak kepikiran ya," jawab Pras.
"Sebaiknya kita berpencar. Aku yang kearah sini, dan kaian kearah sana." setelah berkata demikian, Zahra menyusuri jalanan. Ia mejnalankan motornya dengan pelan sambil memperlihatkan foto si kembar pada orang-orang yang di tanyainya.
"Permisii.. Maaf ibu, saya menganggu sebentar," ucap Zahra pada seorang ibu yang habis belanja di warung.
"Barangkali ibu atau warga di sekitar sini ada yang pernah melihat kedua anak ini?" Zahra menunjukkan foto Kayla dan Nayla yang kebetulan ada di ponselnya.
Si ibu mengernyitkan kening seperti mengingat sesuatu.
" Ibu pernah melihatnya?" tegas Zahra.
"Iya mbak, mereka menangis histeris, katanya kehikanga Omnya. Sekarang mereka di bawa oleh seorang pemuda yang baik hati."
ucapan ibu itu sedikit memberi titik terang buat Zahra.
"Ini, dia sempat meninggalkan kartu namanya. katanya sih biar gampang menghubunginya Kalau tiba- tiba keluarga si anak mencarinya," tutur ibu itu lagi panjang lebar.
Zahra yang sempat putus asa. Kembali bersemangat.
"Mana kartu namanya Bu?"
Ibu itu merogoh sesuatu dari balik bajunya. Setelah menerima kartu nama itu ia tercengang sesaat.
"Bukankah ini Kak Al?" gumamnya pelan.
"Mbak kenal pemuda tampan yang baik hati itu?"
"Iya, Saya kenal. Dia adalah putra kiyai Dahlan,' tutur Zahra.
__ADS_1
"Ow pantesan.. Orangnya terlihat alim dan sopan." tutur sang ibu lagi.
Setelah mengucapkan terimakasih. Zahra langsung mengabari Pras bahwa Kayla dan Nayla berada di tempat yang aman.
"Betul mereka akan baik baik saja? dan siapa Al givari?" tanya Pras tak sabar.
Zahra menceritakan tentang Al givari.
Bagaimana dia kenal dan sebagainya.
Tak butuh waktu lama, meteka sudah berada di depan gerbang pondok pesantren.
"Kita parkir disini saja mas, rumah pak kiyai berada di dalam komplek pondok," terang Zahra. Sedangkan Toni hanya jadi pendengar yang baik. Dia menyesal, gara gara dirinya lah kedua keponakanya kini menghilang.
"Assalamualaiqum"
"Waalaiqumussalam," Kiyai Dahlan yang membukakan pintu.
"Zahra? Ada apa malam-malam nak?" sapanya terkejut bercampur heran.
Setelah di persilahkan masuk, Zahra menceritakan maksud kedatanganya.
"Begitu lah ceritanya Bah, mas Pras ini hampir putus asa karna mereka belum ketemu."
" Iya.. Al sudah cerita. Tadi sebelum pergi dia juga sempat menitipkan anak -anak pada Aisyah,"
"Terima kasih banyak Pak kiyai," ucap Pras dengan perasaan lega.
"Boleh mas Pras ketemu anaknya sekarang Bah?" tanya Zahra.
"Tentu..!"
"Ayaah...!" seru kedua anak itu nenghambur ke pangkuan ayahnya.
Pras merasa benar benar lega, dan tak henti-hentinya mengucap syukur karna kedua putrinya baik-baik saja. Tak lupa dia mengabari ibunya dan orang rumah , bahwa si kembar sudah ketemu.
Sebelum meninggalkan tempat itu si kembar memeluk pinggang Aisyah.
"Kalian harus pulang, karna sudah di jemput sama ayah," ucap Aisyah lirih. Si kembar mengangguk.
"Kau tidak apa apa kan Ais?" tanya Zahra sambil menepuk pundak Aisyah.
"Nggak pa-pa kak," jawabnya. Walaupun sangat jelas terlihat kalau dia kehilangan kedua anak itu.
"Salam sama kak Al, bilang bahwa kebaikanya sudah menolong seorang ayah bertemu putrinya kembali," bisik Zahra ketelinga Aisyah.
"Insya Allah kak," jawab Aisyah tersenyum.
Setelah pamit pada kiyai Dahlan dan keluarga. Mereka kembali ketempat dimana si kembar menghilang, karna motor Zahra di titip di salah seorang warga.
"Sekali lagi kau menolong saya Ra, rasanya ucapan terimakasih saja belum cukup untuk membalas kebaikanmu," ucap Pras tulus.
"Jangan berlebihan begitu mas, Allah lah yang sudah menolong orang jujur seperti mas Pras, saya hanya perantara saja."
Zahra menjawab dengan bijak.
"Anak-anak.. Ini sudh malam, kalian harus pulang. Ibu pasti sedang menunggu kalian dengan cemas," ucap Zahra membelai kepala kedua anak itu.
"Lain kali kita main bareng lagi ya, tante cantiik.." kata Kayla.
__ADS_1
Zahra tersenyum dan mengangguk.
"Pasti sayang. Kalian tinggal telpon tante, tante akan datang ok?"
"Kayak ibu peri ya tante? tinggal di panggil pake tongkat sim salabim langsung datang?"
Pertanyaan Nayla membuat Pras dan Zagra tertawa. Tapi Toni malah membuang muka.
"Huh! drama, padahal cuma cari muka," gumam Toni lirih, namun masih bisa di dengar oleh Zahra.
ia tidak nenanggapinya, malahan tersenyum kearah Toni.
Membuat Toni salah tingkah.
Jam sudah menunjuk pukul sepuluh saat mereka berpisah.
"Kay.. Nay..!" seru Nadia merentangkan kedua tangan menyambut buah hatinya.
Namun kedua anak itu melewatinya begitu saja.
Nadia tertegun sejenak.
Bu Warsih yang melihat adegan itu ikut gusar.
"Mereka pasti masih kesal padaku karna tidak aku jemput," pikir Nadia.
"Kalian kemana saja? Ibu panik karna kalian menghilang, ucapnya berusaha membujuk kedua anaknya.
"Kami tidak hilang. Kami mengejar balon warna warni... Bagus sekali," cerita Nayla.
"Lalu kami bertemu Om baik hati itu, dan bertemu kak Aisyah juga," sambung Kayla.
Nadia tak mengerti dengan cerita anaknya.
"Apa maksud mereka? aku tidak mengerti,"
"Tentu saja kau tidak mengerti.. Karna kau sibuk dengan urusanmu sendiri dek. Coba sekali-sekali mengerti mereka."
Pras memojokkan istrinya dengan sindiran halus. Bu Warsih menatap Pras dengan sorot mata tidak suka.
"Pasti dia sudah meracuni pikiran anaknya, untuk benci pada Nadia. Keterlaluan!" bu Warsih menyumpahi Pras dalam hatinya.
"Bu, lain kali jlvtidah usah jemput Nay, biar Om Toni yang jemput, terus kami bisa ketemu Om baik sama kak Aisyah. Kita bisa main seru seruan." celoteh Nayla cengar cengir. Ia tidak tau perubahan di wajah ibunya.
"Siapa pula Om baik dan Aisyah?" kali ini Nadia meminta penjelasan dari Toni.
Toni hanya mengangkat kedua bahunya dan berlalu dari sana.
"Mas, kau yang ajarin anak- anak untuk benci padaku kan?" tuduh Nadia.
"Astagfirulllah..! Istigfar dek, mana mungkin mas mengajari anak-anak untuk durhaka pada ibunya. Karna mas sendiri sangat memulyakan ibu. Sebaiknya kamu intropeksi diri, luangkan waktu untuk mendengar keluhan mereka, fahami mereka. Ajak mereka main. Jadilah ibu sekaligus teman buat mereka."
Nadia mendegus mendengar nasehat suaminya. Lalu masuk kekamar.
Pras hanya bisa menggeleng-geleng melihatnya.
"Jangan sampai anakmu mendapatkan kenyamanan dari orang lain dek." bathin Pras.
💕Mohon dukunganya ya sayaang!
__ADS_1