Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 56~Perintah


__ADS_3

Vincent masuk ke ruang kerja Khanza yang tak dikunci, dan bersiap untuk mendapatkan semprotan dari Bosnya itu.


Dia berdiri sedikit membungkuk di hadapan Khanza yang sedang duduk di sofa menyilangkan kakinya. "Maaf!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Vincent.


Sekilas Khanza menatap Vincent, kemudian berdiri menghampiri asistennya. "Apa yang bisa elu lakuin selain meminta maaf?" Vincent hanya diam masih menunduk. "Elu tahu apa yang tadi gue alami, heh?!" Khanza mencengkram kerah baju Vincent dengan kencang.


"Saya akan menerima hukuman apapun yang diberikan Anda!" ucapnya tanpa basa-basi.


Khanza melepaskan cengkeramannya, kemudian berbalik. "Kira-kira hukuman apa yang pantas lu dapatkan karena kejadian tadi?" Ia tampak berpikir keras.


Tak sedikitpun Vincent ragu atas hukuman apa yang akan diberikan Khanza kepada dirinya sebab dirinya mengaku bersalah.


"Elu mau gue kasih hukuman apa?" Vincent mendongakkan wajah. "Kalau gue suruh lu pergi, elu bakal pergi?" tanya Khanza dengan ekspresi serius.


Walaupun Vincent ragu, namun ia tetap menganggukkan kepalanya. "Siap!" sahutnya singkat.


Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Khanza sebelum berbalik badan dengan ekspresi yang sulit diartikan.


Vincent yang sedari tadi memperhatikan, menjadi takut saat Khanza akan membuka suaranya. Mungkin dia sudah merasakan adanya tanda-tanda bahaya yang tertulis di kening Khanza.


Kata "Warning" itu jelas terlihat oleh Vincent di kening sang bosnya. Dia sampai menelan saliva dengan kasar. Seakan menjadi perhatian untuk dirinya, Vincent pun langsung bersiap-siap untuk setiap kata yang keluar dari mulut Khanza.


Sedetik ... dua detik ... tiga detik ...


Khanza belum berucap sepatah katapun dan terlihat merenung seperti sulit memberikan hukuman itu pada Vincent, sampai si terdakwa meminta sendiri hukumannya untuk membuat Khanza tidak bimbang.


"Jangan ragu untuk memberikan hukuman apapun kepada saya, karena saya mengakui kesalahan saya!" permintaan Vincent malah membuat Khanza semakin kesal.


Khanza membanting majalah yang tergeletak di hadapannya ke arah Vincent. "Segitu inginnya elu pergi dari gue sampai elu nyuruh gue untuk ngasih hukuman buat lu?" bentakan Khanza hanya ditanggapi tatapan datar. "Lu tahu nggak, kalau gue bakal menghukum lu jauh lebih berat dibanding mengirim lu ke antartika!" jelas Khanza lagi.


Vincent mencoba mencari tahu hukuman apa yang akan diberikan bosnya itu. "Apa itu?"


Senyum sinis Khanza terlihat, itu tandanya dia serius kali ini. "Elu harus pergi ..." Vincent terlihat memejamkan mata pasrah akan hukumannya. "... mencari gadis yang tadi hampir nabrak gue!" lanjutnya kemudian.

__ADS_1


Mendengar kata "nabrak", Vincent jadi terkejut sampai melompat ke arah Khanza. "Apa?"


Melihat Vincent melompat ke arahnya, Khanza malah menjadi ketakutan. Soalnya, Vincent saat ini sedang memeriksa seluruh tubuh Khanza mulai dari atas sampai ke bawah seperti seorang ibu yang khawatir kepada anaknya.


"Mana yang sakit? Mana yang terluka?" Ia terus memeriksa setiap bagian tubuh Khanza dengan teliti sampai membolak-balikkan tubuhnya.


"Whoa ... menyingkir lah dari hadapan gue!" Khanza mendorong tubuh Vincent sampai terjungkal ke belakang. "Gue lebih takut sama lu dari pada kematian!" kata Khanza sembari memeluk dirinya.


Vincent menggantungkan tangan di udara karena Khanza tidak mau disentuh olehnya.


"Bukan muhrim, kuya!" lanjut Khanza menenggelamkan tubuh disela bantalan sofa sembari memeluk tubuhnya sendiri.


Vincent yang mendengar ucapan Khanza seketika tersadar bahwa mereka saat ini sudah dewasa, dan bukan anak kecil lagi.


Untuk menghilangkan kecanggungan ini, ia berdehem dan membetulkan posisi duduknya. "Ekhem ... maaf!" Vincent langsung berdiri ke posisi semula.


Khanza bergidik ngeri, kemudian duduk kembali dengan posisi tegak. "Ja-jangan bikin gue takut lagi, kuya!" peringat Khanza dan Vincent hanya diam. "Maksud gue ... tolong carikan identitas gadis yang hampir nabrak gue tadi, bukan yang nabrak. Catat ... yang hampir nabrak, karena gue gak ke tabrak dan dia lah yang celaka karena menghindar dari gue!" jelas Khanza.


Melihat asistennya pergi, Khanza pun berteriak memanggilnya. "Woi kuya! Emangnya elu tahu gimana ciri-ciri gadis itu?" Vincent menggelengkan kepala. "Kenapa elu buru-buru pergi?" Khanza terlihat kesal.


Vincent kembali diam untuk mendengarkan setiap perkataan Khanza dengan jelas. Ia harus mengingat setiap kata yang keluar dari mulut si bos.


Gemes banget sama asistennya itu sampai Khanza mengusap kasar wajah cantiknya. "Sabar ... sabar ... sabar!" dielus dadanya menggunakan tangan kiri dan tangan kanan yang masih memegangi wajah. "Tuan Vincent yang terhormat ... dengarkan ini baik-baik ya!" kata Khanza dengan lembut. "Gadis itu seorang tukang ojeg, rambutnya panjang, tubuhnya tidak terlalu kurus tidak terlalu tinggi juga, wajahnya ..." beberapa detik ia melamun memikirkan wajah Kayla sampai tersenyum. "... wajahnya sangat cantik dan imut. Dan yang perlu elu ingat ... dia itu gadis yang baik hati walopun judes," jelasnya.


Vincent hanya menautkan alis sebab tidak mengerti maksud dari tujuan Khanza. Apakah ingin menuntutnya atau mencari dia untuk dijadikan kekasih? Setelah melihat dari ekspresi wajah ceria Khanza, dia seperti sedang jatuh cinta. Tapi, kenapa mencintai sesama wanita? Apa dia frustasi hingga membuatnya belok?


Namun Vincent tidak bertanya lebih banyak sebab dia tidak ingin ikut campur urusan bosnya tersebut. Walaupun keduanya bersahabat, tapi Vincent merasa tidak berhak mencampuri urusan Khanza. Ia pun langsung undur diri setelah berpamitan dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.


Khanza tersenyum membayangkan wajah Kayla yang terlihat cantik dan manis. Gadis itu juga baik hati dan yang penting mandiri. Dirinya membayangkan jika saja Kayla menjadi adik iparnya, pasti itu sangat menyenangkan.


Saat Khanza sedang tersenyum sendiri, seseorang masuk dan melemparkan bantal sofa ke arahnya membuat lamunannya buyar.


Bantal mendarat tepat di wajah cantik Khanza dengan sempurna. "Aduh!" wanita itu menoleh ke arah si pelempar.

__ADS_1


"Senyum sendiri udah kayak sarimin!" ledeknya sambil mendaratkan bokong di sofa.


Khanza mengernyitkan dahi menatap sang adik. "Sarimin siapa?" bertanya karena penasaran sebab ia baru mendengar nama itu.


Sebelum menjawab pertanyaan Khanza, pemuda itu malah mengambil remote televisi dan menekannya hingga layar datar itu memperlihatkan gambar.


Dengan kaki selonjor ke ujung meja, pemuda itu pun mengambil potongan martabak manis di dalam dus bekas Khanza makan.


Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut hingga martabak manis itu pun ludes tak tersisa, menyisakan kotak kosong saja membuat Khanza kesal menunggu karena penasaran dengan jawabannya.


Karena kesal, Khanza pun menendang kaki adiknya. "Woi, gue kan nanya sarimin itu siapa? Elu malah asyik makan aja, ampe abis lagi makanan gue!" semburnya kesal.


Yang diprotes malah nyengir macem kuda lagi kontes iklan pasta gigi. "Hehehe ... gue laper, Kak!"


"Yey, laper ya ngambil makan sono di dapur! Kenapa elu kemari?!" celotehan Khanza hanya di anggapi senyuman.


Setelah menelan setiap kunyahan dan meneguk minuman segar dari kaleng, ia pun bersiap untuk menjawab pertanyaan Khanza. "Kakak mau tahu siapa itu sarimin?" Khanza mengangguk. "Dia itu cewek paling cantik dan paling terkenal di pasar deket sekolah!" jelasnya kemudian.


"Wah ... seberapa cantik dan terkenalnya dia sama gue?" tanya Khanza masih penasaran.


"Cantik dan terkenal dia lah," sahutnya santai.


"Oh ya? Hmm, memangnya dia itu siapa?" Khanza semakin penasaran.


Sang adik pun berdiri dan bersiap untuk pergi. Namun, ia masih menjawab pertanyaan kakaknya. "Dia itu ... monyet yang sering konser dadakan di jalanan," Ia pun berlari keluar menghindari amukan Khanza.


Mendengar itu, mata Khanza membelalak dengan amarah yang siap meletus. "KENZOOOOOOO ... !" teriaknya dengan keras. "Adik sedeng lu. Topeng monyet disamain ama gue. Dasar beo!"


Khanza mengumpat sambil melempar kaleng bekas minum ke arah adiknya. Namun Kenzo keburu menghindar dengan menutup pintu ruang kerja kakaknya sambil menjulurkan lidah. "Wleeekkk!" ledeknya.


Dada Khanza naik turun karena marah. Ia pun berteriak histeris sambil mengacak-acak rambutnya. "Argh! Huh ... huh ... punya adik sedeng, punya asisten kaku kek robot. Ya Tuhan ... hidup gue menderita sekali sih!"


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2