
Kenzo tidak ingin mendengar penolakan, juga tidak ingin kecewa karenanya. Oleh sebab itu dia bergegas pergi tanpa mendengar penjelasan Kayla terlebih dulu. Segera ia memakai helm saat Kayla terlihat mengejarnya. "Buruan, Onah! Takutnya hujan semakin deres lagi nih," teriaknya dari atas motor.
Kayla sudah melangkahkan kaki menghampiri Kenzo setelah melihat pemuda tersebut pergi begitu saja tanpa mendengar ucapan kelanjutannya. Tapi, ia pun bersikap cuek dan langsung menerima helm yang diberikan pemuda itu kepadanya.
"Lelet banget sih lu kayak keong. Lihat, malam udah semakin larut. Gue takutnya hujan turun lagi," desisnya dengan gaya bicara khas seperti biasanya. "Naik!" titahnya kemudian. Kenzo bersikap seperti biasanya, layaknya tidak terjadi apa-apa barusan, padahal semenit yang lalu dia jelas kecewa.
Kayla naik tanpa diminta dua kali oleh si pemilik motor sport merah itu. Dia tahu kalau Kenzo berusaha tenang saat ini setelah pernyataan cintanya tidak langsung ditanggapi.
Motor sport merah itu melesat membelah jalanan yang basah terkena guyuran hujan. Untuk ke sekian kalinya Kayla tidak protes saat Kenzo melajukan motor sport tersebut dengan kecepatan tinggi. Dalam diam, Kayla terus menatap wajah tampan Kenzo dari pantulan kaca spion.
Kenzo tahu jika Kayla sedang memperhatikannya "Wajah gue emang ganteng, Onah. Lu bakal nyesel deh karena udah nolak gue!" selorohnya terus menggoda. Seperti biasa, Kenzo kembali ke sikap tengil dan jahilnya.
Tadinya Kayla sangat khawatir karena melihat kesedihan serta kekecewaan di wajah Kenzo. Tapi, melihat pemuda itu kembali banyak bicara hilang sudah rasa simpati yang sempat muncul di hati Kayla tadi. Ternyata, Kenzo bisa berubah dengan cepat kembali ke sifat aslinya.
"Bisa gak sih kamu mengembalikan rasa yang tadi sempat aku keluarkan untukmu?" ketus Kayla.
Kenzo terkekeh mendengar perkataan Kayla barusan. "Rasa apa? Stroberi ... nanas ... melon ... atau apel?" guraunya kemudian.
Kayla memberengut sebal. "Ish, Markoho. Aku sempat mikir kalau kamu akan kecewa dengan perkataan ku tadi. Tapi sepertinya enggak," ketus Kayla sambil memalingkan wajahnya.
Kenzo tersenyum sebelum berkata. "Gue orangnya bukan pemaksa, kok! Tapi, gue akan berusaha bikin lu jatuh cinta sama gue secara sadar." cetusnya kemudian.
Gadis itu terkekeh. "Cih, lagaan kamu, Ken!" tangan Kayla menoyor kepala Kenzo. "Bukannya kamu itu banyak pacarnya. Kenapa malah nembak aku?" tanya Kayla sengaja.
"Siapa bilang gue banyak pacar? Itu mah fans berat gue yang pada ngaku-ngaku jadi pacar gue. Lu kan tahu sendiri kalo gue cowok ter the best di sekolah. Jadi, banyak yang ngaku-ngaku pacar gue termasuk saudara sepupu elu itu. Dia ngaku pacar gue dan ngomong ke semua anak kelas sepuluh dan sebelas biar mereka nggak gangguin gue lagi. Padahal, gue 'kan orangnya suka-suka aja sih kalo banyak cewek ngefans sama gue!" selorohnya menyombongkan diri juga tetap dengan gaya bicaranya yang khas.
__ADS_1
Kenzo berkata setenang mungkin seolah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya, membuat Kayla merasa nyaman kembali. Tidak canggung seperti waktu Kenzo menyatakan cinta.
Sempat Kayla berpikir jika Kenzo akan marah dan hubungan mereka menjadi renggang akibat kejadian tadi yang melibatkan perasaan masing-masing. Tapi kenyataannya, Kenzo masih tetap bersikap seperti biasanya hingga gadis itu pun tidak merasa terbebani oleh perasaannya.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya mereka sampai di kontrakan Kayla.
Sesampainya di sana, Kenzo berpamitan langsung pulang tanpa berniat mengganggu Kayla lagi. Padahal biasanya, pemuda tengil itu akan masuk walaupun Kayla sudah melarangnya untuk masuk.
Pemuda itu melambaikan tangan setelah menerima helm yang diserahkan Kayla kembali padanya. "Daaah!" ujarnya tanpa menoleh lagi. "Bersihkan tubuhmu sebelum istirahat," teriaknya lagi sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Kayla.
Seketika Kayla termenung saat Kenzo bersikap tidak seperti biasanya. Kayla berpikir jika pemuda itu masih marah padanya atas penolakan tadi yang padahal belum Kayla ungkapkan.
"Ken ...!" teriak Kayla memanggil, namun pemuda itu langsung melesat tanpa berkata apapun. "Hati-hati!" Walaupun Kenzo tidak mendengar, namun Kayla tetap mengucapkannya.
Motor sport merah itu bertambah kecepatannya meluncur di jalanan beraspal membelah gelapnya malam Ibukota.
Belum sempat Kayla masuk kedalam kontrakan, hujan turun kembali dengan sangat deras. Dia teringat jika Kenzo tidak memakai jaket karena jaketnya diberikan kepada dirinya. "Ya Tuhan, Markoho!" kepalanya kembali berputar menghadap arah kepergian Kenzo barusan. Hati Kayla mendadak cemas seketika sebab hujan tiba-tiba saja turun.
Bagaimana tidak, Kenzo berkendara tanpa memakai jaket untuk menutupi tubuhnya dari hembusan angin yang mungkin sangat kencang. Ditambah cara Kenzo melajukan motornya, sudah pasti dia sangat kedinginan setelah tubuhnya di guyur hujan tadi.
"Semoga kamu gak kenapa-napa!" ujar Kayla lirih sembari menatap kepergian pemuda itu.
Flashback off
Kayla tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini. Tingkah Kenzo yang tak biasa membuat dirinya curiga tapi tak bisa menahan kepergiannya.
__ADS_1
Kebimbangan yang dialami Kayla saat itu hanya dialah yang tahu. Tapi ia juga tidak tahu, bagaimana perasaan Kenzo saat itu kepadanya.
"Kayla!" Panggilan Bagas dan Devian berulang namun tak digubrisnya. "Hei, gadis galak!" tepukan dari tangan keduanya mendarat sehingga gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Ah, iya. Ada apa?" tanya Kayla bingung karena keduanya menatap dengan serius.
"Lu masih sakit?" nada kekhawatiran terdengar dari keduanya.
"Tidak, kok!" sahut Kayla sembari menggelengkan kepalanya.
Bagas dan Devian menatap Kayla dengan serius seolah tidak percaya. "Terus?!"
"Maksud kalian?" Kayla yang nampak kebingungan bertanya dengan polisnya.
Bagas dan Devian berdecak kesal. "Elu dari tadi ngelamun, Kay! Gue takut kalau elu pusing lalu pingsan di jalan gimana?" kata Bagas dengan nada khawatir.
"Iya, Kay. Apa sebaiknya lu gak usah ikut aja deh! Biar gue sama si Bagas aja yang nyariin Kenzo. Orang tua ama kakaknya juga udah berusaha nyari dia, kok! Jadi, lu tenang aja di sini ya," timpal Devian berusaha menenangkan Kayla.
Kayla menggelengkan kepala. "Enggak! Pokoknya aku harus menemukan dia secepatnya. Aku punya sebuah hutang kepadanya yang harus dibayar saat bertemu dia nanti," cetus Kayla keukeuh.
"Hutang?" serempak keduanya saling menatap.
Namun mereka tidak sampai bertanya karena tidak ingin mengulur waktu untuk menemukan di mana keberadaan Kenzo saat ini sesuai permintaan ayah dan kakaknya Kenzo.
...Bersambung .......
__ADS_1