Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 37~Si tampan


__ADS_3

Setibanya di bawah, mereka malah celingukan mencari tamu yang katanya mirip Opah korea itu. "Mana orangnya?" keduanya saling pandang, menatap satu sama lain dengan wajah kebingungan.


"Ah, si Neng Kay lama bener sih. Jadinya 'kan keburu pegi tuh laki cakep nya," selorohnya gemas.


Yang terlihat kecewa malah ibu kontrakan, sedangkan Kayla saja bersikap cuek. Malahan, gadis itu santai saja di kamar mandi.


Keduanya berbalik, melangkah kembali ke dalam. Tapi, sebelum langkah kaki mereka berdua menapaki tangga, suara serak garong seorang pemuda menginterupsi hingga mereka sontak berbalik.


"Maaf, Kayla nya mana?"


Partini refleks menoleh. "Huaaaa ... ganteng banget!" ekspresi wanita muda itu malah terlihat lebih heboh dibandingkan ibu kontrakan saat tadi menggambarkan pemuda tampan di hadapan mereka kini.


Saking senangnya, Partini dan ibu kontrakan sampai berjingkrak-jingkrak sembari tersenyum lebar membuat pemuda tersebut mengerutkan keningnya.


"Apa mereka gila?" gumam si pemuda kebingungan, sebelum ia terkejut atas tindakan ke dua wanita di hadapannya tersebut hingga dia refleks mundur. "Hei, mau apa kalian?!" pekiknya ketika ke dua wanita tersebut menggandeng lengan kiri dan kanannya. "Astaga. Apa si kuya salah ngasih alamat. Keknya gue masuk ke sarang tante-tante girang, deh!" gerutunya kesal namun berekspresi ketakutan.


Pemuda itu terus meronta sebab ditarik oleh ke dua wanita tersebut menuju ke lantai dua. Sesampainya di atas, dia lebih ketakutan lagi melihat pintu kamar yang berjejer dan bertuliskan nomor di pintu.


'Fix, ini tempat tante-tante girang nyari kesenangan,' monolognya dalam hati.


Wajah ketakutannya tak bisa di sembunyikan. Apalagi melihat seringai ke dua wanita yang menggandeng tangan kiri dan kanannya yang tak bisa dilepaskan begitu saja sebab cengkeramannya sangat kuat.


"Ternyata, tenaga wanita yang gak tahan ingin itu lebih besar dari pada wanita biasa," keluh pemuda itu masih dengan ketakutannya.


Dicubit kedua pipinya dengan gemas, dielus kepalanya dengan lembut, serta kedua bahunya ditekan kuat supaya dia duduk dengan anteng di atas kursi rotan.

__ADS_1


Ibu kontrakan menyuruh anak lain yang mengontrak di sana untuk mengambilkan makanan dan minuman untuk tamu yang membuat dirinya histeris.


Bukannya langsung menuruti permintaan si ibu, wanita muda yang disuruh tadi malah bengong di depan pemuda tampan itu dengan mata berbinar.


"Hei, Sari! Kenapa kamu malah bengong di situ? Cepetan ambil minum sama camilan buat si ganteng!" teriak Pariyem membuyarkan lamunan gadis yang bernama Sari.


Entah pikirannya ke mana tuh anak, lihatin cowok ganteng depan mata, air liurnya langsung netes. Padahal tuh laki pake jaket tebel banget dah, kagak buka-bukaan.


"Eh, iya Bu. Aku ambil dulu di bawah." Sari langsung meluncur ke bawah tapi kagak pake perosotan, karena gadis itu bukan anak di bawah lima tahun.


"Umm ... ma-maaf, Bu! A-a-a-aku ma-mau pu-pu-pu-pulang aaa-aja," dengan tangan dan kaki yang gemetaran, pemuda itu berusaha bangkit dari duduknya. Namun, kedua wanita di sampingnya itu tak membiarkan pemuda tersebut pergi.


"Aah, jangan begitu ganteng! Tunggu Sari bawain makanan sama minuman dulu! Lagipula, belum ketemu Neng Kayla bukan." seringai ke dua wanita itu terlihat menakutkan bagi si pemuda.


Sumpah. Melihat sepasang mata mereka berdua yang berbinar itu sungguh mengerikan, mungkin pemuda ini bisa kencing di celana sekarang juga karena ketakutan jika ke dua wanita agresif ini terus menerus membelai-belai wajah tampannya.


Bagaimana pun pemuda itu berusaha, tetap tak bisa lepas dari jeratan wanita yang katanya 'tante-tante girang' itu. Selain terus menekan ke dua bahunya, ke dua wanita tersebut mengapit tangan sang pemuda agar tidak bisa pergi dari tempat tersebut.


Sungguh sangat menakutkan!


Tak lama kemudian, Sari datang membawa makanan cemilan dan minuman dingin yang langsung diserahkan ke tangan pemuda itu agar segera di minum. "Ayo ganteng, dihabiskan ya minumannya!" Pemuda itu semakin ketakutan karena perkataan Sari.


Dia mengira jika minuman dan makanan tersebut sudah dicampurkan sesuatu seperti obat yang bisa membuatnya tak sadarkan diri. Ditambah lagi seringai ke tiga wanita itu membuatnya semakin bergidik ketakutan.


Selang beberapa menit kemudian, terdengar decitan suara pintu terbuka dari kamar ujung. Langkah kaki mengayun mendekat dan berhenti tepat di belakang mereka.

__ADS_1


"Ada apa sih ribut-ribut?"


Sontak semua mata pun menoleh ke arah sumber suara, termasuk pemuda yang sangat mengenali suara gadis ini.


"Markonah!" Dia pun meronta melepaskan diri dari cengkraman ke tiga wanita yang sedari tadi menakutinya, lalu langsung memeluk tubuh Kayla dengan erat.


Kayla tersentak menatap pemuda yang kini sedang mendekapnya dengan erat karena ketakutan. Tangan dan kaki yang gemetaran, membuat Kayla sangat keheranan. "Ada apa ini?" tanya Kayla sembari menatap ke tiga wanita beda usia di hadapannya itu.


Ke tiga wanita yang sedari tadi menahan pemuda tersebut, kini hanya bisa menatap dengan tatapan kecewa. Mereka seolah tak mau kehilangan pandangannya untuk terus mengagumi ciptaan tuhan yang paling seksi.


"Me-mereka mau memangsa gue, Onah. Lihatlah tatapan mata ke tiganya! Keknya mereka bakal melakukan sesuatu yang enggak-enggak deh sama gue," adu Kenzo kepada Kayla dengan menunjuk mereka. Terdengar suara pemuda itu masih ketakutan bahkan ia terus mendekap tubuh Kayla.


Sedangkan ke tiga wanita yang berdiri di hadapan mereka terus tersenyum dengan mata berbinar.


Kayla menoleh ke arah Kenzo yang mendekap dan bersembunyi di belakang tubuhnya, kemudian ia menatap kembali ke arah tiga wanita yang masih berdiri di depannya. "Umm, Ken. Ini Ibu Pariyem pemilik kontrakan, yang ini Mbak Tini, dan ini Mbak Sari." kata Kayla memperkenalkan mereka dengan menunjuk satu-persatu sesuai mamanya, lalu ia pun memperkenalkan pemuda yang sedari tadi dikagumi ketiganya. "Ini Kenzo, teman ...!"


Ucapan Kayla dengan cepat dipotong si ibu kontrakan. "Ibu tahu deh. Si ganteng ini pacar kamu 'kan, Neng!" serunya sembari menepuk lengan Kendra yang terus menempel dan bersembunyi di balik tubuh kecil Kayla.


Kayla menggelengkan kepala, sedangkan Kenzo mengangguk mengiyakan perkataan ibu kontrakan.


"Duh, yang malu-malu meong. Gak usah malu sama kita mah, Neng! Kita maklum kok, karena Ibu juga pernah muda. Iya nggak, Tin, Sar?!" ujar Pariyem meminta pembenaran dari perkataannya kepada ke dua wanita di sampingnya.


"Iya Kay, gak usah malu kali. Kita ngerti, kok!" timpal Partini dan Sari sembari tersenyum meledek.


"Ta-tapi aku ... dia ...!" Kayla tak bisa mengungkapkan apapun karena ke tiga wanita itu terus meledeknya. "Haish, udah lah!" ia pun menyerah dan hanya diam pasrah dengan apa yang dipikirkan mereka bertiga, sementara Kenzo tersenyum puas karenanya.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2