
Kejadian sebelum Kenzo menghilang.
Kenzo pulang setelah mengantarkan Kayla ke kontrakannya. Tubuhnya menggigil karena baju yang basah kuyup diguyur hujan.
Dia tidak memakai jaket sebab jaketnya ia berikan kepada Kayla agar gadis itu tidak kedinginan dan sakit.
Kenzo memutuskan untuk tidak menemui Kayla lagi sebab tidak ingin membuatnya canggung karena telah menolak perasaannya. Ia juga memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negri karena paksaan dari ayah dan kakeknya.
Walaupun Kenzo terpaksa menjalani semua, tapi hati dan pikirannya akan tetap memiliki satu pemilik yaitu Kayla.
Kakinya melangkah masuk kedalam rumah, kemudian melangkah kembali menaiki tangga menuju kamar pribadinya.
Sebelum dia sempat menginjak anak tangga, suara barito seseorang terdengar menegur membuat dirinya berhenti mematung di tempat.
"Dari mana saja kamu Ken, jam segini baru pulang? Hujan-hujanan lagi," Kenji berdiri dengan bertolak pinggang.
Tidak bermaksud menjawab pertanyaan tapi Kenzo malah menghela nafas, kemudian melanjutkan langkahnya kembali untuk menaiki tangga.
"Kenzo! Daddy sedang bertanya dan kamu tidak menghiraukan teguran Daddy, heh!" suaranya meninggi karena sang anak tak menghiraukannya.
Kenzo mendelik sebal, "Males," ucapan singkat Kenzo memancing emosi Kenji. Sebagai ayah, ia ingin dihormati.
"Kenzo! Apa ini yang Mommy kamu ajarkan kalo di rumah nggak ada Daddy? Membangkang," teriak Kenji penuh emosi.
Mendengar kata tersebut, seketika Kenzo berbalik menuruni anak tangga kembali lalu melangkah lebih dekat kepada ayahnya. Wajah penuh amarah dengan tangan terkepal memperlihatkan urat di seluruh kepalan tangan tersebut. "Jangan bawa-bawa Mommy dalam hal ini karena aku begini hanya karena Daddy dan Opa!"
Tuan Kenji pun terpancing emosinya sebab jari telunjuk putranya menunjuk wajah. Tangannya langsung menepis jari tangan putranya sambil membentak. "Kenzo! Kamu terlalu liar dan tidak terdidik. Mulai sekarang, Daddy akan menghukum kamu untuk tidak keluar rumah dan membawa kamu ke tempat Opa!" bentak Kenji lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Seharusnya kami dari dulu melakukan hal ini," desisnya melirik sinis Kenzo.
Kenzo hanya mengepalkan tangan disertai wajah memerah penuh amarah. Bisa dibayangkan ekspresinya saat ini ketika ayahnya berkata hal seperti itu.
__ADS_1
Dari dalam keluarlah Kelly diikuti Khanza di belakangnya. "Dad, ada apa? Kenapa teriak-teriak gitu?!"
Kenji menoleh ke arah istri dan putri pertamanya, kemudian melirik putranya yang masih mengeram penuh amarah. "Besok Daddy akan mempercepat pernikahanmu dan Alinka agar kamu belajar yang namanya tanggung jawab," ujarnya enteng.
Sontak semua mata membelalak. "Apa? Maksud Daddy ... Kenzo akan menikah muda?"
"Kenapa? Apa salahnya nikah muda? Toh dia akan hidup enak karena mewarisi kekuasaan dari Opa dan keluarganya Alinka, sekaligus dia bisa belajar cara menghormati orang tua." kelakar Kenji dengan seringai mengejek.
Kelly berusaha membujuk. "Tapi Dad, Kenzo belum siap untuk itu. Lagi pula kita belum membahas soal tersebut," wanita itu terus mengikuti langkah suaminya.
Sementara Kenzo terdiam mencerna ucapan ayahnya, sedangkan Khanza menatap lekat wajah adiknya kemudian mengikuti langkah ibunya untuk membujuk sang ayah. "Dad, jangan gitu! Pikirkan keputusan berdasarkan pemikiran matang. Kenzo masih kecil untuk urusan pernikahan, Dad."
"Benar. Putraku masih belum mengerti apa itu membina rumah tangga. Jadi tolong pikirkan baik-baik keputusan kamu itu," timpal Kelly.
Kedua wanita beda usia tersebut terus saja mengekor langkah Kenji ke manapun ia melangkah bahkan ke kamar, hanya untuk membujuknya agar membatalkan keputusan yang diambil tadi. Sementara Kenji tetap pada pendiriannya yang tidak pernah ingin dibantah sedikit pun.
Air hujan masih menetes dari rambutnya membasahi sekitaran wajah, kaos oblong dan celana jeans yang dikenakan basah kuyup. Jika ia tidak mengganti pakaian saat ini juga, maka Kenzo akan kemasukan angin karena kedinginan.
Kulitnya mulai pucat dan membeku. Ditambah hawa dingin dari AC rumah yang menyala membuatnya bergidik karena dingin. Tapi amarah terhadap keputusan sang ayah membakar hati Kenzo hingga panas.
Pemuda itu melangkahkan kaki menuju keluar, lalu menaiki kembali motor sportnya. Mesin motor meraung keras, lalu melaju cepat meninggalkan halaman rumah mewah tersebut menerobos guyuran hujan yang deras.
"Kenzo!" panggilan Kelly tak digubris putra bungsunya itu. "Ken, jangan pergi!" teriaknya lagi namun Kenzo sudah melewati gerbang rumah dan melesat dengan sangat cepat.
Khanza memeluk tubuh sang ibu untuk membantu menopang tubuh lemah yang bergetar hebat karena menangis. Kedua wanita tersebut berpelukan saling menguatkan diri sembari menatap kepergian Kenzo yang terburu-buru tanpa berpamitan.
Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Kenzo sebab hari sudah malam dan hujan masih turun dengan sangat deras.
Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?
__ADS_1
Oh, astaga!
Ayolah!
Bagaimana pun Kenzo tetap manusia biasa yang tidak bisa tahan terhadap cuaca ekstrim seperti itu.
Angin malam membuat tubuhnya menggigil, ditambah guyuran hujan yang sangat deras. Kenzo bisa-bisa pingsan di jalan.
Tapi, Kenzo sendiri sudah tidak perduli terhadap apa yang akan terjadi padanya. Saat ini pikirannya kacau sebab ayahnya tidak pernah mau mengerti perasaan dirinya. Walaupun Kenzo kedinginan, tapi ia tetap melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Tidak ada tempat yang bisa ditujunya kini selain satu tempat yaitu kampung halaman neneknya. Hanya ibu dari ibunya sajalah yang selalu mengerti keadaan dan perasaan Kenzo. Neneknya itu selalu perhatian dan tidak pernah memaksakan apapun kepada dirinya, tidak seperti ayah dan ibu dari ayahnya yang selalu memaksa serta menuntut kesempurnaan dari Kenzo.
Mungkin karena ayahnya berasal dari keluarga kaya raya yang harus selalu sempurna dalam hal apapun, hingga menjadikan Kenzo pribadi yang sempurna dalam segala hal.
Mereka cenderung memanjakan Kenzo dengan kekayaan yang dimiliki hingga dirinya tumbuh menjadi pemuda yang sombong dan juga kejam.
Tapi, semenjak dirinya dekat dengan Kayla, Kenzo banyak berubah. Ia tidak seperti Kenzo yang dulu, yang suka bermain-main dalam hal apapun termasuk perasaannya.
Lambat laun kepribadian Kenzo berubah. Ia bisa lebih menghormati siapa pun termasuk parapelayan di rumah. Seharusnya Kenji dan ayahnya bersyukur karena putranya kini sudah berubah menjadi lebih baik, bukan malah menuntutnya untuk melakukan apapun sesuai kehendak mereka.
Perjalanan yang biasa dilalu hampir tiga jam lebih lamanya, Kenzo hanya menghabiskan waktu satu jam setengah. Bisa dibayangkan seberapa cepat ia memacu laju kendaraannya agar bisa sampai di rumah neneknya di Bandung.
Rasa dingin menggerogoti tubuhnya namun tak ia hiraukan. Kulitnya sudah membiru akibat kedinginan bahkan sangat dingin bila disentuh.
Betapa terkejutnya sang nenek ketika mendapati cucunya di depan pintu dengan wajah pucat dan basah kuyup. Segera nenek menyuruh cucunya untuk masuk ke dalam dan memberikan makanan serta minuman hangat agar cucunya tersebut tidak sakit.
Tapi, tetap saja Kenzo sakit sebab ia telah diguyur hujan selama berjam-jam lamanya hingga tubuhnya mengigil dengan kulit memucat.
...Bersambung ......
__ADS_1