
Happy reading
💕💕💕💕💕
Reyhan tahu persis apa maksud perkataan Alice. Alice menyiratkan akan memberitahu Diana tentang dosa besar yang pernah dia lakukan pada Alice. Dia adalah penyebab dari nasib buruk yang menimpa Alice.
Dengan frustrasi Reyhan mengacak rambutnya sendiri. Dia tidak habis pikir bagaimana Alice bisa mengetahui pernikahannya dengan Diana? Hubungan mereka sudah berakhir. Reyhan sadar Alice memiliki ketertarikan padanya sejak lama, tetapi Reyhan sudah pernah menjelaskan kepada Alice juga orang tuanya kalau dirinya sedang tidak ingin menjalin hubungan lebih dengan wanita mana pun. Reyhan sudah menjelaskan baik-baik dan waktu itu Alice ataupun orang tuanya tampak menerima dengan baik pula. Apalagi usia Alice terpaut jauh di bawah Reyhan.
Apakah pada saat itu Alice berpikir bahwa Reyhan hanya menunda hubungan mereka lantaran umur Alice masih sangat muda? Karena itu Reyhan mengirimnya ke luar negeri untuk menyelesaikan sekolahnya terlebih dulu, baru kemudian Reyhan akan menikahinya setelah dia lulus? Bukankah umur Alice sudah cukup matang untuk menikah dengan Reyhan sekarang? Umur Alice hampir sama dengan Diana, tetapi Reyhan lebih memilih menikahi Diana dibanding Alice. Hal yang memicu sifat posesif Alice?
Reyhan harus mencari cara untuk menghadapi Alice dan menyelesaikan semua sebelum Alice melakukan sesuatu yang dapat mengacaukan pernikahannya dengan Diana.
Reyhan segera mengambil ponsel dari saku jasnya untuk mengirim pesan pada Jonathan.
[Bodoh! Bagaimana Alice bisa lepas dari pengawasanmu?]
❤️
❤️
❤️
__ADS_1
❤️
❤️
“Makanan ini enak sekali,” celetuk Alice saat makan malam bersama. Sepertinya dia sudah berdandan habis-habisan untuk makan malam mereka. Gaun sutera panjang dan berwarna kemasan, tampak membungkus tubuh indah Alice dengan sempurna.
"Cepat habiskan makananmu. Setelah ini Jonathan akan mengantarmu ke penthouse." Reyhan berbicara dengan nada dingin.
“Mungkin aku harus membujuk kokimu supaya mau ikut denganku.” Alice mengabaikan ucapan Reyhan. Dia menikmati makanannya dengan santai.
“Bi Sumi tidak akan mau. Dia sudah bekerja di sini selama tiga puluh tahun. Baginya rumah ini adalah rumahnya." Tuan Wijaya menatap Alice kesal.
Bukannya gentar, Alice malah tersenyum mencibir kepada Tuan Wijaya. "Siapa orang tua ini, Rey? Dua tahun lalu bahkan tahun-tahun sebelumnya aku tidak pernah melihatnya."
"Lalu, siapa wanita tua di sebelah papamu? Jangan bilang dia adalah mama yang kau ceritakan sudah tiada. Atau, dia adalah wanita yang menyebabkan mamamu tiada?"
Soraya terlihat mengeram menahan kesal. Lidah Alice begitu tajam. Meskipun apa yang Alice katakan adalah kebenaran tentang dirinya, tetapi tetap saja Soraya tidak terima akan cara gadis itu mencemoohnya.
"Mama sudah kenyang. Diana, sepertinya kau juga sudah selesai. Sebaiknya kita duluan ke kamar," ajak Soraya yang khawatir dengan kondisi Diana. Diana tidak bersuara apa pun sejak tadi. Dia hanya menunduk sembari mengaduk-aduk makanan di piringnya.
"Mamamu benar Diana, papa juga sudah selesai. Sebaiknya kamu ke kamar lebih dulu." Tuan Wijaya mengelap bibirnya dengan tisu dan sudah bangkit dari duduknya bersamaan dengan Soraya.
__ADS_1
"Tidak Ma, Pa, kalian duluan saja. Aku masih ingin makan." Diana mengusap perutnya, seolah memberi kode jika dia harus memberi makan anak yang masih dalam perutnya.
"Baiklah, kami duluan." Dengan masih diliputi rasa cemas Soraya beranjak dari dapur, mengikuti langkah Tuan Wijaya.
Reyhan melirik Diana yang sedang mengusap perut, tersirat rasa bersalah di mata elang itu. Kemudian, dia memijat keningnya. Entah apa yang ada dalam benak Reyhan. Diana sendiri heran, kenapa Reyhan seakan takut pada Alice? Apa yang membuat Reyhan tidak mengambil sikap tegas setelah apa yang sudah Alice ucapkan di meja makan.
"Ini benar-benar enak," ucap Alice tak acuh pada sekitar. Dia benar-benar bersikap tanpa dosa. Dengan lahapnya dia makan di saat orang sekitarnya kehilangan selera sama sekali pada masakan Bi Sumi yang memang sangat enak dan tiada duanya.
"Aku pastikan kokimu akan mau ikut denganku. Kau sepertinya lupa bagaimana caraku membujuk dan merayu Rey, apa perlu aku mencari kesempatan untuk mengingatkanmu kembali?”
Diana hampir tersedak mendengar rayuan yang diucapkan secara gamblang oleh Alice. Oh, Astaga! Apakah dia harus menghadapi ini setiap hari ketika Alice ada di rumah Reyhan?
Diana merasakan sengatan perasaan aneh setiap Alice merayu Reyhan. Entah dari bahasa tubuh ataupun dengan kata-kata tersirat Alice. Rasanya seperti sengatan perasaan marah yang membuat dada Diana panas.
Diana terdorong untuk menyembunyikan Reyhan di balik punggungnya. Dia bangkit dan bertekad menghadapi Alice. "Reyhan adalah suamiku!" tukasnya galak sambil setengah berteriak.
Apakah Diana merasa cemburu? Ya, tentu saja. Reyhan adalah suaminya dan dia mencintai pria itu. Terlebih dalam rahimnya tengah berkembang benih cinta mereka berdua.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️
Selamat siang semua, aku udah triple up lho, jangan lupa jempol kalian yah yah yah😁