Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 90 INTEROGASI


__ADS_3

Windu sedang membuat nasi goreng bersama Dara di dalam dapur, sebuah ritual harian mereka sekarang karena Dara sangat menikmati masakan suaminya itu.


Dan lagi sekarang masakan Windu juga lumayan lebih bercita rasa, berkat latihan pantang menyerah dari suami yang begitu bucin dengan istrinya itu.


Tiba-tiba telponnya yang di letakkan di atas meja berbunyi, tepat di depan Dara yang sedang asyik mengiris timun.


"Kak Win...ada yang telpon." Dara memanggil Windu dengan suara enggan, dia benar-benar fokus pada pekerjaannya.


"Dari siapa?" Windu masih asyik mengaduk nasi di dalam wajannya, dengan gaya seperti koki profesional.


"Nomornya tidak di kenal."


"Biarkan saja." Sahut Windu kemudian, dengan acuh.


"Malas mengangkat jika tidak penting." Lanjut Windu dengan mata fokus pada wajan di depannya, memastikan nadi gorengnya itu matang sempurna.


Beberapa saat Handphone Windu berhenti berbunyi, tetapi tak lama nada deringnya yang halus di sertai getar itu mengganggu lagi.


Dara melirik ke atas meja, lalu menaikkan alis. Nomor yang sama.


"Siapa lagi?" Windu bertanya sambil mencicip nasi goreng buatannya lalu nenambahkan sedikit garam lagi.


"Nomor yang tadi." Jawab Dara,


"Sepertinya penting." Dara melirik Windu yang acuh tak acuh.


"Angkat dulu telponnya." Pinta Dara, sekarang sang istri yang tengah hamil lumayan besar itu melepaskan pisau dari tangannya.


"Angkat saja." Windu sibuk memindahkan nasi gorengnya ke dalam dua buah piring, dia dan Dara memang sengaja berencana makan malam nasi goreng buatan Windu, sang masterchef dadakan, semua asisten rumah tangga dan koki sudah di suruh keluar dari area dapur. Windu ingin menunjukkan kebolehannya membuat nasi goreng yang telah diipelajarinya dari tutorial di Youtube.


Dara mengambil telpon Windu, hal yang tak pernah di lakukannya selama menikah dengan Windu yaitu membuka HP suaminya itu, bahkan dia tak hapal kode keylocknya, meskipun Windu telah memberitahunya berkali-kali.


Seorang istri akan kehilangan selera penasarannya ketika suami terlihat begitu terbuka dan anteng-anteng saja, Dara tak punya kecurigaan apapun pada Windu, karena itulah Dara benar-benar tak pernah ingin tahu.


Dara menggeser tanda terima panggilan dan meletakkan telpon itu di telinganya.


"Ya, Hallo..."


"Hallo...eh..." Suara perempuan yang terdengar manja dan ramah.


Mata Dara mengerjap, pertama kali pula dalam hidupnya berumah tangga dengan Windu menerima telpon menggunakan ponsel suaminya dan itu adalah seorang perempuan.

__ADS_1


"Maaf, pak Windunya ada, mbak eh bu?" Tanya suara di seberang dengan gugup.


"Ada, beliau sedang sedikit sibuk. Apakah bisa menelpon tigapuluh menit lagi?" Balas Dara bertanya.


"Oh, iya, bisa..."


"Dari siapa ini kalau boleh tahu, biar nanti bisa saya sampaikan kepada beliau?"


"Dari Fuji, bu...asistennya yang baru."


"Ohhh..." Dara langsung mengangkat alisnya menatap sang suami yang kini berdiri di ujung meja sambil memegang dua piring nasi goreng, wajahnya tampak lucu, sedikit memerah dalam balutan celemek merah muda itu.


"Nanti akan saya sampaikan, beliau akan telpon balik 30 menitan lagi, ya."


"Oh, iya bu, baik bu...terimakasih. Selamat malam."


"Selamat malam." Dara menurunkan ponsel Windu dari telinganya, setelah nada terputus terdengar dari seberang.


"Hm...siapa?" Tanya Windu, melihat perubahan wajah sang istri.


"Dari asisten baru kak Win." Jawab Dara dengan acuh tak acuh, belum pernah Windu melihat pias cemberut yang berusaha di sembunyikan Dara seperti sekarang ini.


"Aku sudah bilang, Kak Win akan telpon setengah jam lagi." Sahut Dara sambil meletakkan ponsel Windu di atas meja, padahal telapak tangan Windu terbuka di udara.


"Setengah jam? Kenapa setengah jam? kan bisa sekarang?" Pertanyaan Windu yang polos itu tidak di tanggapi Dara, dia berdiri meletakkan telur mata sapi setengah matang, potongan ayam dan bawang goreng di atas nasi goreng yang ada di atas meja, lalu meletakkan beberapa potongan timun juga di atasnya.


"Kita harus makan dulu, kak Win...paling tidak kita perlu setengah jam untuk menghabiskan porsi nasi sebanyak ini." Jawab Dara sekenanya sambil melirik tajam dengan ekor matanya pada ponsel yang kini ada di tangan Windu.


"Ini sendoknya." Dara duduk kembali sambil menyodorkan sendok dan garpu kepada Windu, tindakan itu mau tidak mau membuat Windu melepas ponselnya dengan serba salah dan menyambut sendok dan garpu dari tangan Dara.


"Bismillah dulu, kak..." Dara berucap dan gaya siaga menghadap piringnya.


Dengan salah tingkah Doddy mengikuti ucapan istrinya itu.


Dara dengan santai memasukkan nadi ke mulutnya, mengunyahnya tapi matanya sekarang tak lepas dari Windu, khas ibu hamil yang sedang waspada.


"Ada apa, sayang?" Windu benar-benar dibuat salah tingkah oleh Dara.


"Fuji itu siapa, kak Win?" Tanya Dara kemudian, tetap terdengar janggal di telinga Windu meski di lontarkan dengam sesantai mungkin oleh Dara.


"Oh, asisten baru mengganti Ricky, selama istrinya melahirkan dan pemulihan." Jawab Windu sambil mengunyah nasi goreng buatannya yang tiba-tiba terasa hambar. Dalam hati dia merutuk Ricky yang telah membuatnya dalam masalah sekarang.

__ADS_1


"Asisten baru kok tidak di save nomornya?" Tanya Dara kemudian sambil mengangkat alisnya.


"Dia baru menggantikan Ricky mulai kemarin, jadi aku tak sempat menanyakan nomor kontaknya." Jawab Windu tetap berusaha tenang, meskipun sikap Dara mendadak aneh tapi entah nengapa Windu menikmatinya. Rasanya menyenangkan saat istrinya yang maha santai dan penurut itu terlihat begitu protektif padanya, meskipun tingkahnya jadi mendadak seperti polisi sedang mengintrogasi kejahatan saja.


"Ooh..." Dara menganggukkan kepalanya.


"Dia masih single?"


"Ya, ku dengar begitu kata Ricky."


"Kok, kata Ricky?"


"Aku belum sempat interview dengannya karena mendadak begitu sayang. Tapi semuanya sudah di atur Ricky..."


"Kak Win belum ketemu langsung dengannya?"


"Sudah."


"Kenapa kesannya seperti tak pernah ketemu begitu?"


"Ya, aku cuma ketemu sekilas saja kemarin, belum sempat ngobrol panjang."


"Kak Win ada rencana ngobrol panjang dengannya?"


Windu tercengang melihat Dara yang sekarang mendadak berubah 180 derajat dari Dara yang di kenalnya, pertanyaannya melebihi gencarnya pembawa acara mata najwa.


"Bukan begitu, sayang...maksudnya, aku belum terlalu kenal, yang kenalnya Ricky, dia yang merekomendasikan Fuji jadi asisten sementaraku." Jawab Windu sambil menelan nasinya dengan berat, Dara benar-benar sedang mengintrogasinya sekarang.


"Dia cantik?" Pertanyaan yang sarat cemburu itu hampir membuat Windu tersedak.


"Astaga istriku ini sedang cemburu, ya?" Windu hampir tergelak, menatap sang istri seperti sedang menatap sesuatu yang langka.


Lima tahun dia menikah dengan Dara, tak pernah dia melihat mimik Dara begitu penasarannya.


...Terimakasih sudah membaca novel ini, jangan lupa VOTEnya ya untuk menambah semangat othor nulis lanjutannya🤗🤗🤗❤️...



...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...

__ADS_1


__ADS_2