
"Di operasi kan harus di bedah, sayang. Bagaimana caranya tidak terluka? Aku tidak takut sama sekali, jika ini bisa membuatku melihatmu lebih lama lagi."
Dara menatap Windu, tatapannya begitu sendu.
"Kamu akan melihatku sampai rambutku berubah seputih kapas. Sampai aku bungkuk dan jelek." Dara berusaha tertawa meski tetap terdengar serak.
"Maafkan aku membuatmu harus lelah menjagaku akhir-akhir ini.Selain kebaikan dan kesetiaanmu, satu hal lain yang membuatku berulang kali jatuh cinta padamu, adalah ketulusanmu. Happy anniversary, Honey. Selamat hari jadi pernikahan kita." Windu mengecup dahi Dara dengan lembut.
"Selamat hari pernikahan juga untukmu." Sahut Dara.
"Kau adalah orang pertama yang ingin kulihat setiap aku bangun di pagi hari. Terima kasih sudah begitu sabar untukku, sudah menjadi pasangan terbaikku" Windu memeluk erat Dara, tubuhnya gemetar. Dia tak menyangka dirinya dalam 6 bulan menjagi begitu rapuh. Dia tak sekekar dulu lagi bahkan berat badannya jauh berkurang dari beberapa bulan sebelumnya.
Penyakit ini terasa begitu cepat menggerogotinya, bahkan dia tak tahu harus bagaimana.
Segala pengobatan terbaik telah mereka lakukan, papanya dan Dara benar-benar berusaha keras untuk mengembalikan kesehatannya.
Tapi, ini bukan lagi tentang hal terbaik yang bisa di lakukan manusia tetapi lebih kepada berharap kemurahan hati dan campur tangan Tuhan.
Dari bayi, Windu mempunyai riwayat kesehatan yang tidak sebagus anak-anak yang lain, jantungnya sekalipun kini adalah sumbangan dari kakak kandung Dara.
"Aku mungkin sudah lama mati andai tak ada kamu dan keluargamu dalam hidupku." bisik Windu dalam hati.
"Bagaimana aku bisa menjagamu? jika kini aku sendiri tak berdaya? Aku takut...takut tak bisa memenuhi janjiku pada mama, untuk menjagamu...aku sangat takut ini adalah anniversay terakhir kita," Kata-kata itu hanya sampai di tenggorokannya, dia tak pernah ingin Dara tahu bagaimana akhir-akhir ini dia semakin takut akan banyak hal.
...***...
__ADS_1
Dara menyeka air mata dengan punggung tangannya, dia baru saja keluar dari ruangan lab. masih dengan jubah pasien sehabis melakukan pemeriksaan terakhir Memastikan bahwa hasil pemeriksaan bahwa ginjalnya benar-benar match dengan tubuh Windu.
Karena dia terikat pernikahan dan keluarga paling dekat dengan pasien maka dokter mengatakan Dara tidak bisa merahasiakan hal ini.
"Penerimaan tuan Windu terhadap anda sebagai pendonor juga tidak bisa di anggap remeh. Secara mental tidak baik jika nanti pada saatnya dia menentang hal ini." Saran dokter, saat Dara akhirnya memaksa untuk memeriksa dirinya sebagai pendonor karena dalam 14 hari perawatan, tak ada tanda-tanda mereka menemukan organ itu. Meski sempat ada tawaran dari bank organ, tapi tidak cocok dengan Windu.
Dara memutuskan ini, karena dia tak bisa lagi berdiam diri melihat penderitaan Windu. Banyak hal yang harus dipertimbangkankan memang, tapi Dara tak surut dengan keinginannya. Dia hanya ingin melihat suaminya itu hidup apapun caranya.
"Tidak bisakah kita laksanakan donor ini tanpa pengetahuan suami saya?"
"Maaf, nyonya. Jika keluarga anda tidak menyetujuinya kami tidak berani melakukannya."
"Tapi ini adalah keputusan saya! Saya secara sadar sebagai seorang dewasa ingin mendonorkan salah satu dari ginjal saya untuk suami saya. Tak ada yang salah dengan itu."
"Lebih baik anda bicarakan ini dengan suami anda dan orangtua anda. Meskipun kita telah melakukan penenilaian kecocokan ginjal Anda dengan calon penerima ginjal karena permintaan anda dan dari dari tes darah, baik tes golongan darah, tes silang darah, semua dipastikan cocok tetapi kami perlu melakukan tes HLA untuk mengetahui kecocokan sel induk penerima dan pendonor ginjal, dan sebelum tes ini di laksanakan kami merasa perlu untuk anda me
"Apakah tidak bisa hal ini di rahasiakan?"
"Sebagai tim medis yang menangani ini, kami juga punya pertimbangan khusus karena jika mungkin terjadi hal-hal yang mungkin saja tidak bersesuaian dengan harapan kita bersama maka kami tidak dipersalahkan. Kami akan segera melakukan transplantasi ini jika memang semua di setujui oleh semua pihak yang berkaitan. Hal ini menjadi khusus, karena anda adalah istri dari penerima donor, penerimaan keputusan ini tidak bisa kita abaikan begitu saja."
Dara tak punya pilihan lain selain mengatakan semua ini. Dia telah merenungi semua yang mungkin terjadi bahkan andai semuanya ini gagal seperti yang di katakan oleh dokter sebelumnya. Tapi, dia tetap tak bisa berhenti memikirkan bahwa dia tak bisa hidup tanpa Windu.
Egois memang, mengingat bahwa dia hampir seperti mengabaikan putera kecilnya Sunny, tetapi perasaan takutnya kehilangan Windu melebihi perasaannya yang lain.
Saat langkahnya sampai depan pintu kamar perawatan Windu, dia berdiri hampir bermenit-menit dengan kaki gemetar. Dia sangat takut...dia tak tahu bagaimana cara mengatakan kepada Windu bahwa dialah yang akan mendonorkan ginjalnya pada suaminya itu.
__ADS_1
Saat terakhir dia mengatakan kepada Windu saat ulang tahun pernikahan mereka setelah dia meminta pemeriksaan darah di awal kepada tim yang menangani Windu dan dinyatakan cocok, dia merahasiakan bahwa dialah yang menjadi pendonornya.
Dan hari ini, dua hari sebelum jadwal operasi itu di laksanakan, Dara di minta mengatakannya dengan jujur, ternyata ini adalah tindakan yang berat.
Dia tidak takut berbaring dan berkorban begitu besar pada Windu bahkan mungkin ini tentang penyerahan hidupnya, meski dokter telah memberinya banyak pengertian sebagai pertimbangan untuk keberanian ini.
Dara hanya takut, kehilangan Windu, laki-laki pertama yang di cintainya dalam hidupnya, selain anaknya Sunny. Dia mempertaruhkan banyak hal bahkan nyawanya, tetapi adakalanya orang tidak mengerti, cinta yang tulus juga kadang menjadi egois dan tak terkendali saat dia mengklaim bahwa dia tak bisa hidup di dunia tanpa yang lain.
Perlahan Dara membuka pintu kamar dan mendapati wajah pucat suaminya, meskipun dia telah melakukan cuci darah rutin, tetapi tetap saja Windu tak terlihat baik-baik saja.
"Kamu dari mana, sayang?" Suara Windu terdengar hangat tapi tetap terasa pedih saat menyentuh gendang telinga Dara.
"Kenapa kamu berpakaian seperti itu? seperti seorang pasien?" Windu mengernyit dahinya, sambil berusaha menaikkan punggungnya untuk bersandar pada bantal.
Betapa sakitnya hati Dara, melihat untuk gerakan seperti itupun Windu sekarang begitu bersusah payah melakukannya.
Tubuh gagah laki-laki ini entah lenyap kemana, dia sekarang begitu berbeda.
"Aku ingin berbicara padamu." Dara membantu Windu untuk menyandarkan punggungnya. Matanya terasa pedih, menahan sesak di dadanya sendiri.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu selalu, ya😅...
...Apalah artinya author tanpa kalian semua, bagaikan sayur tanpa garam😅...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...