
Happy reading
đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•
"Katakan padaku, di mana kau sembunyikan Diana?"
Bugh!
Satu pukulan melayang, tepat mengenai rahang kiri Reyhan. “Hati-hati kalau bicara, Tuan. Jangan pikir karena Anda punya segalanya, Anda bisa seenaknya menuduh orang lain,” kecam Bayu.
“Cckkk!” Reyhan menyusut sudut bibirnya yang mengeluarkan darah akibat pukulan Bayu barusan. “Aku yakin kau yang menyembunyikan Diana. Aku minta kembalikan Diana padaku!” teriak Reyhan masih ngotot.
Bugh!
Bayu menghantam rahang kanan Reyhan. Emosinya semakin memuncak. Dia menarik kerah kemeja Reyhan, lalu mencengkeram kuat. “Hah? Kembalikan katamu? Harusnya Anda yang mengembalikan Diana pada saya. Anda yang sudah merebut Diana dari saya, ingat itu Tuan Reyhan yang terhormat.”
Ini seolah hari keberuntungan buat Bayu karena Reyhan datang tanpa sekretarisnya ataupun pengawal. Dia bisa leluasa meluapkan amarah yang selama ini dia pendam.
Bugh!
Pukulan Bayu tepat mengenai pelipis kiri hingga Reyhan terhuyung dan hampir jatuh. “Itu dari Diana karena Anda sudah membuatnya menangis,” ucap Bayu terengah. Kedua tangannya telah berada di pinggang, menatap Reyhan dengan perasaan jijik.
Reyhan meringis. “Aku minta maaf, tapi tolong beri tahu aku di mana kau sembunyikan Diana? Aku ingin bertemu dengannya.”
"Cih!" Bayu mendekat sembari melonggarkan dasinya. Lalu tanpa diduga ....
Bugh!
Bayu menghantam tepat di wajah Reyhan hingga Reyhan benar-benar tersungkur dan jatuh. Reyhan terbatuk, darah segar mengucur dari mulut dan hidung mancung miliknya.
Bayu segera menghampiri Reyhan, dia berjongkok di sebelah tubuh Reyhan yang masih terlentang di tanah dengan wajah penuh luka dan berlumuran darah. Dengan kasar Bayu menarik kerah kemeja Reyhan. Membuat badan Reyhan sedikit terangkat.
“Anda membuang-buang waktu dengan datang ke sini. Sebaiknya Anda cari Diana sampai ketemu, jangan sampai aku yang menemukannya lebih dulu.” Menyunggingkan sudut bibirnya. “Anda masih ingat perjanjian kita? Ha? Kali ini aku tidak akan melepaskannya lagi. Aku tidak akan melepaskan Diana untuk laki-laki pengecut seperti Anda.” Melepas cengkeramannya dan menghempas dengan kasar hingga Reyhan kembali roboh ke tanah.
Rintik-rintik hujan mulai turun ketika Bayu meninggalkan Reyhan yang masih meringkuk di atas tanah.
Perlahan Reyhan bangkit sembari meringis, dia duduk dengan menekuk kedua lututnya, lalu memeluknya. “Di mana kamu, Diana?” isaknya. Lagi-lagi Reyhan melanggar janjinya sendiri untuk tidak menangis. Namun, cairan bening itu luruh begitu saja tanpa dia minta.
__ADS_1
Lama Reyhan termenung, duduk dengan memeluk kedua lututnya. Dia tidak peduli dengan derasnya hujan yang mengguyur tubuhnya. Reyhan terpaku, ingatannya berputar kembali ke masa dirinya pertama kali bertemu Diana, lalu menikahinya dengan paksa. Perlakuan kasarnya sampai keguguran yang Diana alami. Reyhan menyesali itu, menyesali semua perbuatannya yang telah menyakiti Diana dan membuatnya menangis.
“Brengsek! Harusnya aku tidak meninggalkanmu hari itu,” sesalnya. Dia menyesal. Harusnya dia tidak berangkat ke Jerman tiga hari lalu.
Hujan turun semakin deras, tetapi Reyhan masih berdiam diri di sana. Masih memeluk kedua lututnya sembari menangis. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki seseorang menghampirinya.
“Anda kenapa jadi begini, Tuan?” sapa seseorang yang telah memayunginya.
Reyhan menengadahkan. “Apa kau sudah dapat kabar tentang Diana?”
Jonathan menggeleng, dia berjongkok di sebelah Reyhan. “Maafkan saya, Tuan. Saya sudah menghubungi bagian imigrasi dan biro-biro transportasi, tetapi nihil! Tidak ditemukan data apa pun tentang nona.” Jonathan menghembuskan napas panjang. Sama seperti Reyhan, dia pun sangat menyesali keterlambatannya. Jika saja dia datang lebih awal ke rumah sakit, mungkin ....
“Saya akan terus berusaha Tuan, ini tandanya nona masih berada di negara ini.” Setidaknya mereka mempunyai secercah harapan untuk bisa menemukan Diana. Data Diana tidak ditemukan di bagian imigrasi, itu tandanya Diana tidak pergi ke luar negeri seperti yang mereka takutkan.
“Harus, Jo! Kau harus temukan istriku!”
“Pasti, Tuan. Saya akan menemukan nona, tetapi sebaiknya sekarang kita pulang. Tuan muda juga membutuhkan Tuan dan ... luka-luka Tuan harus segera diobati.” Jonathan meringis ketika menunjuk luka di wajah Reyhan.
“Kenapa Tuan tidak membalasnya? tanya Jonathan saat membantu Reyhan berdiri. "Atau, Tuan ingin saya yang membalas?” Jonathan tampak tidak terima.
Reyhan tersenyum kecut. “Tidak, Jo. Aku pantas mendapatkan ini.”
Lima bulan kemudian ....
Reyhan masih berkutat dengan tumpukan map di meja kerjanya. Ya, seperti biasa, dia adalah pria yang sangat sibuk dan profesional dalam urusan pekerjaan. Tinggal map terakhir saat pintu ruangannya diketuk dari luar.
“Masuk!” teriak Reyhan dari dalam ruangan.
Pintu terbuka dan Jonathan muncul dari balik pintu itu. Dia menghampiri Reyhan dengan tergesa-gesa setelah menutup pintu kembali.
“Ada apa?” tanya Reyhan heran demi melihat wajah tegang Jonathan.
Jonathan menatap pria di depannya itu dengan perasaan sedih. Tuannya itu sudah berubah semenjak menghilangnya Diana. Reyhan terlihat bagai mayat hidup. Dia hancur, lebih hancur daripada saat kehilangan Laura dulu. Tubuhnya terlihat semakin kurus, bulu-bulu tak terawat dibiarkan tumbuh di sekitar rahangnya. Pakaiannya terlihat kusut berantakan dengan rambut acak-acakan. Benar-benar sangat jauh berbeda dari penampilan Reyhan yang dulu. Dulunya dia adalah pria tampan dengan penampilan selalu rapi dan manly.
“Begini Tuan, sebenarnya ...."
"Sebenarnya apa?" tanya Reyhan tidak sabar melihat sikap Jonathan yang tampak gelisah.
__ADS_1
"Sebenarnya ...." Jonathan ragu apakah mengatakan ini pada Reyhan adalah sesuatu yang benar. Dia tahu kabar yang akan dia sampaikan mungkin akan menambah luka Reyhan, tetapi mau tidak mau Jonathan harus mengatakannya. Reyhan berhak tahu, mungkin saja setelah mengetahuinya Reyhan bisa menentukan keputusan untuk kehidupan dia dan Rangga selanjutnya.
"Saya sudah mendapat info mengenai keberadaan nona, Tuan."
Reyhan tersentak, dia seketika menghentikan aktivitasnya. Reyhan mendongak agar bisa bertatapan dengan Jonathan yang masih berdiri di seberang meja kerjanya.
“Di mana Diana?” tanyanya bersemangat. “Di mana istriku?” Tidak bisa Reyhan pungkiri jika saat ini bibirnya menyunggingkan senyum bahagia.
“Orang suruhan saya mendapat info dari data rumah sakit tempat nona memeriksakan dirinya," jawab Jonathan gugup. Melihat senyum di bibir Reyhan justru membuatnya semakin ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Maksudmu Diana sedang sakit?” Reyhan berubah cemas. Diana sakit dan dia tidak berada di sampingnya. Reyhan kembali menyalahkan dirinya sendiri.
“Tidak Tuan, nona tidak sakit. Nona memeriksakan diri ke poli kandungan.” Wajah Jonathan semakin tegang.
Reyhan tampak tertegun. “Maksudmu Diana hamil?” Matanya kini berbinar. Timbul riak-riak bahagia dalam hatinya. Diana hamil, sudah pasti itu anaknya. Bibir yang selama ini kaku itu kini tersenyum semakin lebar.
Jonathan mengangguk kaku. “Nona selama ini tinggal di kota sebelah. Nona tinggalnya di dekat pantai,” sambungnya.
“Di mana itu? Antar aku segera ke sana Jo, aku ingin secepatnya menemui istri dan calon anakku.” Reyhan semakin bersemangat. Dia meraih jasnya dari kursi lalu dengan cepat mengenakannya. Dia bahagia, bibirnya tidak berhenti tersenyum. Tentu saja, sebentar lagi dia akan bertemu Diana kembali, bahkan calon anaknya juga.
“Tuan,” sela Jonathan lagi, “ini tidak seperti yang Tuan pikirkan.” Melihat Reyhan yang begitu antusias dan bahagia, membuat Jonathan semakin merasa bersalah.
Bibir Reyhan berhenti tersenyum. Dahinya berkerut menatap Jonathan yang tampak pucat. “Apa maksudmu? Semua baik-baik saja, 'kan? Diana baik-baik saja, 'kan?"
"Maafkan saya, Tuan. Nona baik-baik saja, juga kandungannya, tapi—"
"Tapi apa, Jo?" Reyhan meraih kerah kemeja Jonathan saking tidak sabarnya. Dia merasa Jonathan berbelit-belit.
"Mengenai kehamilan nona kali ini, tidak seperti yang Anda bayangkan, Tuan. Nona mengandung—"
"Antar aku ke sana!"
Ayah Reyhan yang lagi frustrasi ditinggal ibu Diana
Yuk, jempol jangan lupa yaa guys🤗🤗🤗
__ADS_1