Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 180


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


"Aku lelah Jo, aku tidak tau harus bagaimana lagi mendidik Rangga," keluh Reyhan pada Jonathan. Mereka berada di dalam mobil yang sedang melaju. Mereka akan makan siang bersama klien sekaligus membicarakan pekerjaan.


"Anak itu semakin hari semakin membuatku resah." Reyhan mengurut keningnya.


"Apa perlu saya melakukan sesuatu untuknya, Tuan?" Jonathan melirik dari kaca spion yang menggantung di atas dashboard.


Reyhan nampak menghela napas. "Rencananya aku akan mengirimnya ke kantor kita yang baru. Menurutmu bagaimana?" Menatap Jonathan dari kaca spion.


"Bukankah tempatnya sangat jauh dari kota ini, Tuan? Apa nantinya malah jadi semakin sulit mengawasi Tuan Muda?"


"Aku ingin menjauhkannya dari pergaulan di sini."


"Tuan muda belum pernah terlibat urusan bisnis, Tuan. Apa tidak akan jadi masalah jika, tiba-tiba Tuan Muda langsung dibebankan tanggung jawab yang besar?"


"Ya, aku paham itu Jo," ujar Reyhan, "maka dari itu, seluruh fasilitasnya harus kau cabut. Aku ingin dia menjadi mandiri dan pekerja keras, aku ingin dia belajar mengatur keuangan dari gajinya," perintah Reyhan.


Jonathan hanya manggut-manggut.


"Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat kejam pada putraku sendiri?"


"Tidak Tuan, semua demi kebaikan Tuan Muda sendiri."


"Kalau begitu kau siapkan segalanya. Lusa kau antar dia ke sana."


"Baik Tuan," jawab Jonathan sembari melirik ponselnya yang terus bergetar.


"Ponselmu sepertinya bunyi terus, kenapa tidak diangkat?" tanya Reyhan heran.


"Dari Laura, Tuan. Apa boleh saya angkat sebentar?" tanyanya sungkan.


"Hm, angkatlah! Siapa tau penting." Reyhan mengalihkan pandangannya keluar jendela.


"Ada apa?" jawab Jonathan saat mengangkat telpon.


"Jo, bisa kau temui aku di Mentari Plaza?"


"Untuk apa? Aku sedang bersama tuan."

__ADS_1


"Sebentar saja. Kartuku over limit."


"Ckk, kau ini ada-ada saja." Nada Jonathan terdengar kesal. "Coba aku ijin tuan dulu, kalau tidak diijinkan kau cancel saja semua!" Mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Laura.


"Tuan," panggil Jonathan gugup.


"Kenapa?" tanya Reyhan santai.


"Apa bisa kita berhenti sebentar di Mentari Plaza? Sebentar saja, Tuan. Saya pastikan tidak akan mengganggu jadwal bertemu klien."


"Cihh, jangan bilang kartunya ditolak gara-gara over limit lagi," cibir Reyhan.


"Begitulah Tuan," jawab Jonathan tersenyum kecut.


"Aku heran kenapa kau bisa betah dengannya," cibir Reyhan lagi sembari terus memandang ke luar jendela.


Jonathan tidak menjawab, dia hanya bisa mengulum senyum.


Tak berapa lama, mobil yang membawa mereka sudah memasuki area parkir mall.


"Tuan ikut masuk apa menunggu di mobil?" tanyanya saat sudah memarkir mobil.


"Aku tunggu di sini," jawab Reyhan.


"Hm."


Jonathan keluar dari mobil dan bergegas memasuki mall. Sementara Reyhan menurunkan sedikit kaca mobil dan mendongakkan wajahnya keluar. Dia menikmati angin yang kini menerpa wajahnya. Di luar nampak pengunjung yang berlalu-lalang, ada yang baru datang dan ada yang sudah selesai berbelanja. Semuanya nampak biasa baginya, sampai pandangannya akhirnya tertuju pada sepasang suami istri yang melangkah mendekat ke arahnya. Samar-samar dia bisa mendengar percakapan mereka saat melewati mobilnya.


"Sayang, habis dari sini kita ke taman dekat sini, yuk? Aku sudah beli semangkuk es krim." wanitanya berbicara sembari bergelayut manja di lengan si pria. Mereka berhenti di mobil yang terparkir di sebelah mobil yang membawa Reyhan.


"Memangnya kamu mau ngapain di taman?" tanya si pria sembari menaruh belanjaan mereka di kursi penumpang.


"Aku pingin duduk-duduk di sana sambil makan es krim, mau, ya?" wanitanya nampak memelas.


"Kenapa gak di sini saja? Di sini juga bisa duduk-duduk sambil makan es krim," jawab prianya lembut.


"Di sana sejuk, gak bising juga, kalau di sini bising, anakmu yang di dalam perut ini jadi pusing." Mengelus perut buncitnya.


"Baiklah-baiklah, kita ke taman sekarang ya Sayang," jawab prianya sembari mengelus perut buncit istrinya. Mereka lalu masuk ke dalam mobil mereka dan meninggalkan area parkir.


Sementara Reyhan menyandarkan bahunya ke kursi sembari memejamkan mata. Mendengar percakapan suami-istri tadi mengingatkannya kembali akan kenangannya bersama wanita yang sangat dia cintai. Wanita yang pernah hadir membawa tawa untuknya. Senyumnya, tawanya, saat mereka berbelanja bersama. Sekilas bayangan saat mereka makan semangkuk es krim bersama melintas kembali.

__ADS_1


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️


Reyhan masih menyandarkan bahu sembari memejamkan mata, mengingat kebersamaannya bersama Diana. Tiba-tiba dia tersentak saat mendengar suara wanita yang bercakap-cakap dari arah belakang mobilnya. Suara wanita yang dia kenal. Awalnya dia tidak yakin, tetapi suara itu semakin jelas ketika pemiliknya melewati mobil Reyhan. Reyhan membuka mata dan mengintip dari balik jendela, dugaannya benar.


Meskipun udah 20 tahun tidak pernah mendengar suara itu, tetapi Reyhan masih sangat mengenalinya. Meskipun sudah 20 tahun tidak pernah bertemu, tetapi Reyhan masih bisa mengenali wajah wanita pemilik suara itu. Wanita yang pernah hadir di hidupnya. Wanita yang pernah berbagi kebahagiaan, cinta dan kasih sayang dengannya.


Diana.


Diana masih terlihat cantik meski usianya sudah tidak muda lagi. Apalagi saat bibirnya tersenyum, senyumnya masih terlihat mempesona seperti dulu. Reyhan merasa dadanya berdebar sekarang, debaran yang sama seperti 20 tahun lalu.


Mungkinkah? Mungkinkah ini cinta yang sama seperti dulu?


Benarkah? Benarkah dia masih mencintai Diana?


Bolehkah? Bolehkah kali ini dia bersikap arogan lagi? Memaksakan keinginannya untuk memiliki Diana lagi?


Memiliki wanita yang sudah bersuami! Bersuami? Bukankah suami Diana adalah dirinya sendiri? Bukankah sampai saat ini dia belum menceraikan Diana? Berarti yang berhak atas diri Diana adalah dirinya bukan Bayu! Ya, betul! Tidak peduli jika mereka sudah memiliki anak dari hubungan gelap mereka. Yang jelas Diana masih istri sahnya. Diana harusnya bersamanya, bukan bersama Bayu!


Reyhan berusaha meyakinkan dirinya dan bertekad mengejar Diana. Dia membuka pintu mobil dan bergegas memasuki mall. Setengah berlari Reyhan menyelinap di antara kerumunan orang-orang yang keluar masuk mall. Dia menangkup dahinya sembari menggigit bibir bawahnya. Kepala Reyhan celingukan melihat ke segala arah, mencari tahu keberadaan Diana. Batinnya terus menjerit memanggil nama Diana, berharap wanita itu bisa mendengar suara hatinya. Jantungnya berdegup semakin kencang, napasnya terasa sudah sesak, tetapi dia masih berlari dan terus berlari memasuki area mall.


Sampai di batas rasa keputusasaannya, Reyhan berhenti. Usia yang sudah setengah abad membuat staminanya tidak lagi sekuat dulu. Dia membungkuk sedikit sembari memegang dadanya. Napasnya kini ngos-ngosan dengan jantung yang berdetak tidak karuan.


Ke mana dia? Kenapa cepat sekali perginya? Apa aku salah lihat? Atau, mungkin ini halusinasiku saja?


"Rey!" Seseorang menepuk bahu Reyhan dari belakang. Reyhan menoleh dan melihat Laura sudah berdiri di belakangnya bersama Jonathan. Pandangannya seketika tertuju pada anak laki-laki berusia 10 tahun yang digandeng Laura.


"Rey, apa yang kau lakukan di sini?"


❤️❤️❤️❤️❤️


Umur 50 tahun, tapi wajahnya gak menua ya🤭


__ADS_1


Nah, ibu Diana juga gak mau kalah nih. Sama2 awet muda🙈



__ADS_2