Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 151


__ADS_3

Happy reading


đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•


Diana masih menikmati kegiatannya bermain-main dengan pasir tidak menyadari kehadiran Reyhan di sampingnya. Tanpa diduga Reyhan menarik tangan Diana untuk membuatnya segera berdiri. Kemudian mencengkram erat pinggang dan menarik tubuh Diana merapat ketubuhnya.


“Apa yang kamu lakukan di pantai sepagi ini?” geram Reyhan. Matanya menunjukkan kilatan marah, “bukankah sudah kuingatkan jangan berpakaian seperti ini kalau di luar!”


Diana mengernyit kaget dengan kedatangan Reyhan yang tiba-tiba dan langsung marah-marah padanya. “Aku hanya sedang bermain-main pasir,” jawabnya polos.


“Dengan bertelanjang begini?” tanyanya sinis.


“Aku tidak telanjang, lagipula ini private beach, Sayang.” Diana masih membela diri. “Tidak ada orang lain di sini selain kita.”


“Ini memang villa pribadi dengan pantai pribadi juga, kamu tidak akan menyadari kalau yang mungkin memperhatikanmu bukan hanya orang dari luar villa, tapi penghuni lain yang menjadi bagian di villa ini!” bentak Reyhan kesal.


Diana menyadari kecerobohannya. “Baiklah, aku akan memakai bajuku kembali," ucapnya lirih. Dia bersiap mengambil kemeja Reyhan yang tadi tergeletak di atas pasir, tetapi Reyhan menahan tangannya. Pria itu membungkuk mengambil kemejanya dan memakaikan kemeja itu ke tubuh Diana.


“Makasih." Diana tersenyum lebar ke arah Reyhan, tapi Reyhan hanya menatapnya datar.

__ADS_1


“Ini yang terakhir, lain kali jangan ulangi lagi!” kata Reyhan dengan tatapan dingin.


Diana hanya mengangguk, tidak berani membalas tatapan Reyhan. Pria itu kelihatan sangat marah padanya. Ya, dia akui dia memang bersalah dalam ini. Dia terlalu ceroboh dan naif.


Reyhan sebenarnya masih ingin memarahi Diana, tetapi melihat wajah ketakutan wanita itu membuat dia mengurungkan niatnya. Reyhan menghela napas dalam kemudian menarik tangan Diana dan memeluk tubuhnya erat.


Keduanya berpelukan dalam diam, menatap ke laut lepas. Ombak terlihat berkejar-kejaran menuju bibir pantai. Angin pantai menerbangkan anak rambut mereka dan sinar matahari mulai menyusup melalui pori-pori kulit. Mereka masih terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Diana dengan rasa marah dan malu pada dirinya sendiri atas kecerobohan yang barusan dia lakukan, sedangkan Reyhan dengan rasa bersalah karena sudah membentak Diana hingga ketakutan.


Reyhan mengusap-usap rambut Diana. “Jangan pernah melakukannya lagi!” gumamnya sebelum mengecup puncak kepala Diana.


Diana mengangguk dan menenggelamkan wajahnya ke dada Reyhan, menghirup aroma maskulin suaminya yang selalu menjadi aroma favoritnya. Dia selalu merasa nyaman bila sudah dalam posisi seperti ini. Merasa terlindungi.


Matahari semakin merangkak naik dengan panasnya yang mulai menyengat.


"Ayo!" Diana tersenyum dan mengangguk.


Reyhan beralih merangkul bahu Diana kemudian mereka berjalan beriringan menuju balkon kamar mereka yang terletak di dekat kolam renang.


“Habis sarapan kita jalan-jalan, yuk.” Diana membuka percakapan disela-sela mengunyah roti.

__ADS_1


“Aku masih capek Sayang, besok aja.” Menyandarkan punggungnya di kursi yang dia duduki.


“Kamu dari kemarin bilangnya besok-besok terus. Ngomongnya selalu capek kalau diajak jalan-jalan, tapi selalu nambah kalau di tempat tidur.” Wajah Diana merengut kesal.


Sudah seminggu mereka di Bali, tetapi Reyhan belum mengajak Diana ke wisata mana pun. Padahal Diana sudah membrowsing banyak tempat wisata yang ingin dia kunjungi. Namun, Reyhan selalu berasalan capek dan ujungnya mereka berakhir di ranjang. “Buat apa jauh-jauh ke sini kalau hanya untuk diam di tempat tidur?” omel Diana. Bibirnya mengerucut dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.


Reyhan tergelak melihat wajah cemberut Diana. “Memangnya kau mau jalan-jalan ke mana?” tanya Reyhan sembari meraih cangkir kopinya.


“Banyak sih, tapi yang paling ingin aku kunjungi itu Tanah Lot,” jawab Diana tanpa menatap Reyhan. Pandangannya menerawang, bibirnya tersenyum sumringah membayangkan keindahan tempat itu sesuai yang dia intip di Internet.


“Kejauhan tempatnya dari sini.” Ucapan Reyhan membuyarkan lamunan indah Diana. Wanita itu kembali mencebik.


“Aku pingin banget ke sana,” jawabnya ngotot. Kali ini dengan memberi tatapan tajam pada Reyhan. “Kemarin aku udah searching di internet, tempatnya bagus banget. Apalagi di sana ada sunset terrace, kita bisa liat pemandangan indah matahari terbenam di sana.” Mata Diana berbinar bahagia. Dia terlihat sangat antusias.


“Jauh dari sini,” tegas Reyhan, “dekat-dekat sini juga banyak tempat bagus untuk melihat sunset.”


“Gak mau. Aku pinginnya ke sana,” tolak Diana tegas. “Ayo, kita ke sana." Mulai melancarkan aksi merengek dengan menggoyang-goyangkan lengan Reyhan.


Reyhan membuang napas berat. “Baiklah, kalau itu mau kamu.” Menaruh cangkir kopinya dengan malas.

__ADS_1


“Bener, ya?” Mata Diana kembali berbinar. Reyhan mengangguk pasti. “Asiikkk!” Diana segera mendekati Reyhan. “Makasih, Sayang.” Mengalungkan lengannya ke leher Reyhan lalu mengecup pipi suaminya itu.


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2