Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 183


__ADS_3

Happy reading


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Aku hanyalah manusia yang tertatih dalam yang namanya kehidupan. Terkadang aku menangis, meratap, meringis dari setiap rasa sakitnya luka yang takkan kering. Menyesali, memikirkan cobaan yang takkan usai.


Malam di saat bulan bertemu dengan sudut bintang, saat ribuan kunang-kunang membelah belantara rimba, saat bayang-bayangmu semakin jelas di pelupuk mata, saat itu aku menangis hingga patah dan terbesit sebuah rasa yang tak mampu aku artikan.


Inikah rindu? Ataukah sekedar perasaan yang hadir saat malam-malamku? Mengapa? Mengapa bayang-bayang ini harus aku temui setiap malam? Tak ada yang lainkah?


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Lho, kenapa kamu sendirian? Cinta mana?" tanya Diana. Dia bingung melihat asistennya bekerja sendirian di ruanganmya.


"Nona Cinta sedang menemui tamu di room VIP satu, Bu."


"Tamu?" Diana bertambah heran.


"Iya, Bu. Tadi seorang pemuda datang dengan seorang wanita seusia Ibu, mereka memesan room VIP satu dan meminta bertemu dengan nona."


"Oh, ya? Siapa?"


"Saya kurang tahu Bu, tapi sepertinya pemuda itu sangat mengenal Nona Cinta."


Diana tampak berpikir sejenak. Setahunya Cinta tidak pernah dekat dengan pemuda mana pun kecuali, Adipati dan dari pengakuan Cinta mereka sudah putus beberapa hari lalu.


"Bisa kau panggilkan Cinta sebentar? Ada yang harus segera aku bahas dengannya. Bilang sebentar saja."


"Baik Bu," jawab asisten Diana yang segera bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan.


Sepeninggal sang asisten, Diana duduk di meja kerjanya, melanjutkan pekerjaan Cinta yang tadi tertunda.


"Ibu," panggil Cinta dengan senyum merona.


Diana mendongak, lalu mengernyit mendapati putrinya yang tampak sangat bahagia. Berbeda dengan beberapa hari kemarin yang selalu murung.


"Ibu dengar kamu sedang ada tamu, siapa?" tanya Diana dengan senyum menggoda.


Cinta mendekati Diana, memeluk bahu Diana dari belakang. "Adipati datang bersama tantenya, mereka ingin bertemu Ibu," jawab Cinta dengan senyum malu-malu. Dia sudah bergelayut manja di leher Diana.


"Dalam rangka apa nih ceritanya?" Diana semakin menggoda.


"Ya, Ibu temui mereka dulu, nanti Ibu akan tau sendiri."


"Hm, begitu ya, tapi pekerjaan ibu sangat banyak. Laporannya sudah ditunggu sama ayah Bayu, bagaimana, dong?" Diana tidak bohong, Bayu memang meminta laporan data karyawan hari ini.


"Biar aku yang lanjutkan. Ibu temui mereka, yah? Sebentar saja," bujuk Cinta dengan mengedip-ngedipkan kedua kelopak matanya.


"Em ... boleh deh, di mana mereka?"


Kedua pipi Cinta mengembang. "Mereka di room VIP satu, Bu."


"Baiklah, ibu ke sana sekarang."

__ADS_1


Cinta bersorak, dia mengecup pipi Diana saking bahagianya. "Makasih, Bu."


"Sama-sama Sayang," balas Diana dengan mengusap pipi Cinta.


❀️


❀️


❀️


❀️


❀️


Diana memasuki ruangan VIP satu sesuai permintaan Cinta. Matanya membola begitu melihat wanita yang duduk di dalam ruangan itu.


"Bella," ucapnya kaget.


Bella. Ya, Diana ingat betul wanita yang kini di hadapannya adalah Bella, sepupu Reyhan.


"Diana," ucap Bella yang sama terkejutnya dengan Diana.


Bella berdiri, menghampiri Diana, kemudian mereka berpelukan erat. Mata Diana berkaca-kaca. Ya, Tuhan, ini benar Bella, Bella yang dikenalnya sebagai sepupu Reyhan 20 tahun lalu.


"Gimana kabarmu, Diana? Aku sangat merindukanmu." Bella sudah menitikkan air mata. Dia tidak mampu menutupi rasa harunya bertemu kembali dengan Diana.


"Aku baik, aku juga merindukanmu. Kamu sendiri gimana kabarmu?" Mereka saling berpegangan tangan.


"Kami semua baik," sahut Bella sembari menyusut sudut matanya.


"Kamu ke mana saja selama ini? Taukah Reyhan hampir gila mencarimu," terang Bella yang membuat Diana tersenyum kecut.


"Panjang ceritanya Bel," jawab Diana seolah enggan menanggapi pertanyaan Bella. "Lho, ada nak Adipati juga di sini." Diana mengalihkan pembicaraan dengan menyapa Adipati yang duduk di sebelahnya. Dia melempar seulas senyum, tetapi pemuda itu menatapnya sendu. Diana merasa aneh ditatap seperti itu.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Diana iba, tetapi pemuda itu masih bergeming, menatapnya dengan mata sendu.


"Biasa anak laki," jawab Bella terkekeh.


"Kenapa kamu bisa tau? Kamu mengenal Adipati?" Diana beralih menatap Bella. Namun, detik berikutnya dia menutup mulutnya sendiri lantaran teringat ucapan Cinta.


"Adipati datang bersama tantenya."


"Belβ€”"


"Tentu saja aku mengenalnya. Kamu belum tau Adipati ini siapa?" Bella menunjuk Rangga yang masih bergeming dengan tatapan haru.


Bibir Diana bergetar. Matanya berkaca-kaca. "Kamu ... kamu ... Adipati Rangga Wijaya?"


"Iya, Bu." Rangga segera memeluk Diana. Sudah cukup dia menahan perasaan sejak tadi.


Tangis keduanya pecah.


"Maafkan ibu, ibu tidak mengenalimu." Diana terisak di bahu Rangga.

__ADS_1


"Ternyata dunia sangat sempit, aku mencari-cari ibu, ternyata ibu ada di hadapanku selama ini. Aku sangat merindukan Ibu."


"Ibu juga sangat merindukanmu, Sayang." Mereka berpelukan semakin erat, saling meluapkan kerinduan masing-masing.


Suasana menjadi hening. Bella juga terdiam, menyaksikan pertemuan haru ibu dan anak itu setelah 20 tahun. Setelah beberapa lama, Diana melepas pelukannya, dia mengusap rambut Rangga.


"Sekarang ceritakan, apa yang membuat kalian ke sini?" tanya Diana kembali ke topik utama.


Bella berdehem untuk menetralkan suaranya. "Aku datang ke sini ingin mewakili Reyhan."


"Untuk?" Diana sudah ketar-ketir. Dia sudah bisa menduga ke mana arah pembicaraan Bella, tetapi dia masih berharap tujuan Bella bukan seperti yang dia pikirkan.


Manik Bella menatap lekat manik Diana. Dia menghela napas dalam dan akhirnya keluarlah pernyataan yang mengguncang Diana. "Melamar Cinta untuk Rangga."


Mata Diana membulat sempurna. Akhirnya yang dia takutkan terjadi. "Melamar?" Diana masih berharap jika yang dia dengar barusan salah.


"Iya, melamar. Bukankah Cinta dan Rangga saling mencintai?"


Ya, Diana tahu Cinta sangat mencintai Rangga, begitu juga sebaliknya. Dia juga sangat bahagia mengetahuinya, tetapi itu sebelum ... sebelum dia tahu Rangga adalah putra Reyhan.


"Tidak Bella, itu tidak boleh terjadi." Air mata Diana luruh kembali, membuat Bella dan Rangga mengernyit bingung.


"Kenapa, Diana?"


"Iya, kenapa tidak boleh, Bu? Apa Ibu berniat menikahkan Cinta dengan pria lain? Apa Ibu sudah tidak menyayangiku lagi?"


Diana menggeleng pelan di sela isak tangisnya. "Bukan. Bukan seperti itu. Mana mungkin ibu tidak menyayangimu. Hanya memang tidak boleh terjadi pernikahan di antara kalian. Kalian tidak boleh menikah. Itu akan menjadi masalah besarβ€”"


"Masalah besar?" Bella menaikkan sebelah alisnya. "Oh, aku paham, ini pasti perihal Reyhan dan Bayu. Kamu tidak perlu khawatir soal Reyhan, aku yang akan mengurus Reyhan. Aku jamin Reyhan tidak akan berani marah-marah hanya karena Cinta putrimu dengan Bayu."


Diana mendongak menatap Bella yang memegang kedua bahunya. Tatapan Bella begitu meyakinkan seolah pernikahan Cinta dan Rangga adalah hal yang biasa.


"Kamu salah Bella, bukan itu yang aku maksud. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Bayu. Kenapa kamu bilang Cinta anak Bayu? Cinta bukan anak Bayu, Cinta anak Reyhan, darah daging Reyhan," terang Diana tanpa sadar. Nadanya penuh penekanan. Di satu sisi dia lega telah mengungkap ini, tetapi di sisi lain dia menyesal karena dengan ini, kemungkinan Reyhan akan merebut Cinta darinya.


Bella dan Rangga seketika terperangah. Manik mereka membulat sempurna. Bahkan Rangga membeku. Tenggorokannya seakan tidak mampu menyalurkan udara dengan baik. Dia tidak bisa bernapas untuk beberapa saat.


"Apa, Bu?" Rangga menatap Diana tak percaya. Dia masih berharap jika Diana salah bicara. Dia sangat mencintai Cinta dan sekarang kenyataannya Cinta adalah anak dari ayahnya juga. Artinya Cinta adalah adiknya. Oh, damn it!


"Iya, Sayang, Cinta adalah adikmu," ucap Diana dengan wajah menyesal. "Ibu meninggalkan rumah saat Cinta masih berumur tiga minggu dalam kandungan."


Rangga memejamkan mata. Dia tidak percaya ini. Kenyataan ini begitu pahit, begitu kejam.


"Maafkan Ibuβ€”"


Tanpa memberi waktu Diana untuk melanjutkan ucapannya, Rangga sudah berdiri dan keluar dari ruangan itu tanpa pamit.


"Rangga ...." Diana berniat mengejar, tetapi ditahan Bella.


"Biarkan Diana, biarkan Rangga pergi. Anak itu pasti sangat terguncang sekarang, biarkan dia menenangkan diri dulu." Bella mencoba menenangkan Diana. Dia tahu yang terguncang bukan hanya Rangga, tetapi Diana, bahkan dirinya juga.


Cinta anak Reyhan. Bukan anak Bayu, seperti yang diduga Reyhan selama ini. Ini akan menjadi kabar menggembirakan untuk Reyhan, tetapi bagaimana untuk Rangga dan Cinta? Bagaimana dengan nasib cinta mereka?


❀️❀️❀️❀️❀️

__ADS_1


Meweknya gak di sini ya guys tapi di story Rangga sama Cinta. Yuk, mampir



__ADS_2