
Taman sekolah
Kayla, Afika, dan Delisa pergi ke taman setelah dari kantin. Karena waktu istirahat diperpanjang sebab Guru belum datang, mereka pun memilih pergi ke taman belakang untuk merelaksasi hati yang sedang dongkol karena ulah si tengil Kenzo. "Huuh, si Markoho jelek itu menyebalkan. Kenapa dia selalu membuat aku kesel?" dengusan kekesalan dilampiaskan Kayla dengan menghentak-hentakan kedua kakinya.
"Markoho jelek?" pertanyaan yang dilontarkan Afika membuat Kayla mendelik sebal.
Gadis itu menoleh ke arah teman-temannya. "Itu ... si biang rusuh yang menyebalkan. Siapa lagi kalo bukan yang terhormat Tuan muda Kenzo Alberto," sahut Kayla dengan gaya bicaranya Kenzo yang selalu arogan. "Iiihh, Markoho jelek, jerapah burik, si idiot ... !" teriaknya kemudian meluapkan emosinya.
Barulah mereka tahu nama panggilan sayang Kayla kepada Kenzo. Eh, beneran sayang nggak tuh! Hahaha ...
"Oooohhh!" Afika dan Delisa serempak membulatkan mulutnya.
"Benar kamu Kay, si sombong itu memang mengesalkan!" kata Afika.
"Tapi dia ganteng, tajir, dan yang terpenting ... dia itu pintar dan berbakat. Huaaa ...!" timpal Delisa malah memuji dengan mata yang berbinar dan bibir yang tersenyum lebar.
Kayla memutar bola matanya malas sebab dirinya tak percaya jika semua gadis mengidolakan Kenzo, termasuk Afika dan Delisa. "Aku heran deh sama kalian! Walaupun dia seperti yang disebutin kalian itu, 'kan dia anaknya tengil. Kenapa kalian suka?" tanya Kayla menatap serius keduanya. "Perasaan menurut aku ya, tuh si Markoho kagak ada bagus-bagusnya deh! Selalu menyebalkan dan selalu bikin aku naik darah. Gemes tahu gak sih," lanjut Kayla lagi dengan nada gemas.
Afika dan Delisa pun menjelaskan bagaimana dan apa saja yang membuat Kenzo dikagumi kaum hawa termasuk mereka berdua. Kayla hanya mendengar sambil mencibir ucapan keduanya yang terus memuji-muji Kenzo di hadapannya.
"Beruntung dia menyukaimu, Kay!" cetus Afika.
"Betul tuh betul. Menurutku ya, Kenzo bukan pemuda yang gampang menjalin hubungan dengan seorang gadis. Buktinya, dari sekian banyak siswi yang menyukai dan mengaguminya, cuma kamu yang dipilih dia. Padahal dia tahu kalo kamu itu nggak suka sama dia dan selalu saja jutek. Tapi, kenapa kamu yang dipilih coba?!"
__ADS_1
Kayla kembali berdecih. "Apanya yang beruntung? Dia itu mengesalkan setiap kali kita bertemu. Capek aku dikerjain dia mulu," cicit Kayla.
Saat mereka sedang membicarakan Kenzo, tiba-tiba seseorang menumpahkan air minum di kepala Kayla hingga seluruh pakaiannya basah dari atas sampai bawah.
Cuuuuuurrrrr
"Haaaahhh!" Kayla menunduk melihat air yang mengucur membasahi baju sampai roknya dengan mulut menganga.
Afika dan Delisa seketika langsung berdiri untuk melihat siapa yang pembuat masalah.
"Rania. Apa yang kamu lakukan?" Delisa menangkap tangan Rania yang masih memegang botol air mineral dan siap menumpahkan lagi.
"Astaga, Ran. Apa kamu mau ngajak ribut sama kita?" Afika maju ke depan menghalangi Kayla yang masih menunduk menatap seluruh pakaiannya yang basah.
"Memang kalo iya kenapa?" Lita mendorong tubuh Afika sedikit keras.
"Kalau enggak kenapa?" tantang Rania dengan tatapan tajam serta nada kasarnya. "Elu jangan sok jagoan deh, Fi! Gue cuma punya urusan sama si pembokat ini, bukan sama kalian!" tegas Rania sembari menunjuk Kayla.
Merasa ini sudah keterlaluan, Kayla segera berdiri untuk menghentikan tingkah mengesalkan Rania. Ia berdiri di depan untuk menghalangi tubuh Afika ketika tangan tangan Rania melayang di udara dan akan mendarat di pipi mulus Afika jika saja Kayla tak segera menangkapnya. "Jangan keterlaluan kamu, Rania Suherman! Jika kamu terus kek gini, aku nggak akan segan buat perhitungan sama kamu." tegas Kayla lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Apa salah aku sama kamu sampai kamu selalu kek gitu?!"
Rania, Lita dan Dini hanya menatap dengan tatapan meremehkan. "Hoooo, udah berani ngelawan rupanya!" ejek ketiganya.
"Cih, si pembokat ini sekarang udah punya nyali untuk melawan kita!" kedua teman Rania mencibir Kayla sembari melipat tangan di dada. "Elu dan teman-teman norak lu itu hanya bisa merebut milik orang lain," lanjut Lisa menunjuk tepat wajah Kayla.
__ADS_1
Kayla dan ke dua temannya hanya bisa mengerutkan dahi bingung karena tak mengerti apa yang sedang dibicarakan kedua teman sepupunya itu. "Barang apa yang di rebut? Perasaan, kita nggak pernah tuh merebut apapun dari kalian!"
"Benar. Yang ada juga kalian yang selalu merebut duit Kayla dan memakainya buat seneng-seneng," sanggah Delisa.
"Duit apaan? Kita gak pernah ngambil duitnya kayla. Jangan nuduh tanpa bukti deh, kalian!" geram Lita.
Delisa kembali berucap. "Kalian berdua mau tau?" keduanya hanya saling pandang, lalu menatap ke arah Delisa lagi. "Duit yang Rania pakai buat kalian belanja-belanja dan traktir kalian berdua itu adalah duit dari hasil Kayla bekerja semalaman. Seharusnya, kalian berdua berterima kasih sama Kayla, bukan si uler kadut itu!" ejeknya sembari menunjuk Rania.
Lita dan Dini saling pandang, lalu menoleh ke arah Rania untuk meminta jawabannya tapi gadis itu berpura-pura tidak mendengar atau pun melihatnya.
Rania segera menatap judes ke arah Kayla. "Baiklah, enggak masalah! Untuk urusan itu, biar kita bicarakan lagi di tempat yang seharusnya. Untuk sekarang tolong balikin lagi apa yang udah elu rebut dari gue," lanjutnya kemudian.
Kayla mendesah pelan. "Itu lagi ... Itu lagi. Haish, emangnya barang apa sih yang aku rebut dari kamu!"
Rania menggelengkan kepalanya sembari berdecak. "Bukannya barang tapi seseorang yang berharga," sahutnya ketus. "Elu ingin tahu siapa yang gue maksud?" tanya Rania membuat Kayla dan kedua temannya terdiam. "Kenzo ... Kenzo Alberto. Cowok terpopuler di sekolah ini dan juga paling tajir di negara kita!" lanjutnya menjelaskan.
Kayla, Afika, dan Delisa hanya menanggapi ucapan Rania dengan ekspresi datar. "Ooo!" kemudian mereka pun berlalu meninggalkan Rania dan kedua temannya yang menatap heran atas sikap yang ditunjukan ketiganya.
Delisa menarik tangan Kayla dan berjalan melewati Rania ce-es. "Yuk, kita keringkan rambut dan bajumu!" ajak Delisa sembari melangkah.
"Hooh, keburu masuk kelas nih!" timpal Afika dan Kayla hanya mengangguk.
Sementara Rania, Lita serta Dini menatap datar mereka bertiga yang berlalu begitu saja setelah Rania mengatakan apa yang membuatnya kesal kepada Kayla.
__ADS_1
"Hei pembokat! Elu ngerti gak sih apa yang gue maksud?" teriak Rania, namun ke tiga gadis itu seolah tak perduli dan terus berjalan meninggalkan Rania ce-es yang sedang berteriak tidak karuan. "Hei pembokat!"
...Bersambung ......