Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 98. TERJEBAK DALAM TUBUH PANGERAN


__ADS_3

Dara sedang melipat pakaian Windu dan menyusunnya ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Setelah shalat Ashar berdua, Windu naik ke tempat tidur memegang sebuah map, berisikan materi yang akan di sampaikannya lusa di pertemuan itu.


"Papa memang suka bersikap aneh..." Tiba-tiba Windu mengomel sendiri, seperti gumam yang tak jelas.


"Aneh bagaimana?" Tanya Dara sambil melirik pada Windu.


"Kamu dengar sendiri kan' tadi di meja makan? Aku harus ikut penerbangan salah satu maskapai, di jadwalkan pagi besok. Padahal kemarin papa bilang , aku bisa menggunakan jet pribadi, jadi aku bisa berangkat kapan saja " Keluh Windu dengan raut sedikit kesal.


"Setelah mendengar kamu tidak ikut ke Bali tadi tiba-tiba papa tidak mengijinkan aku menggunakan jetnya. Padahal tugas ini juga bukan untukku, aku hanya berusaha membantunya, mewakili papa. Masa sama anak sendiri kok pelit begitu." Lanjut Windu, sepertinya dia sedang begitu kesal dengan sang ayah.


Dara tak menyahut apapun, hanya mendengarkan ocehan suaminya yang sudah serupa curhatan emak-emak itu.


"Dulu, waktu kamu masih kuliah di Jogja, dia tidak masalah kalau aku menggunakan fasilitasnya, bahkan dia yang menawarkanku, Win kamu tidak mendatangi istrimu? Win kamu tidak mengunjungi Dara? Sekarang, pinjam jetnya sebentar saja, dia fikir-fikir. Aku sekarang curiga, yang anak kandungnya itu aku apa kamu sih?" Betapa lucunya mulut Windu yang ngedumel tak jelas dari tempat tidur sambil memandang istrinya yang baru saja selesai mengurus kopernya.


"Sayang, kamu dan Ricky akan melewatkan malam yang indah di Bali, sekali-kali kamu perlu relaks. Tapi ingat, jangan macam-macam di sana. Istrimu di rumah sedang hamil." Dara tersenyum geli melihat tingkah Windu.


"Ricky memang sedang cuti, dia menunggu istrinya pulang dari rumah sakit setelah tiga hari yang lalu melahirkan. Nanti setelah aku balik dari Bali, kita berdua harus mengunjungi Ricky dan Lisna. Mereka berdua sekarang sudah punya baby. Sebentar lagi kita berdua akan menyusul jadi papa dan mama." Windu menyeringai, dia terlihat senang saat mengucapkan kalimat itu.


"Aku senang jika bisa bertemu dengan bayi mereka." Sahut Dara bersemangat.


Tiba-tiba ponsel Windu berbunyi,


"Dari Ricky?" Windu mengernyit dahinya.


"Kenapa dia menelponku?"


Pertanyaan itu sesaat di lontarkannya sebelum kemudian mengangkat panggilan dari Ricky.


"Ya, Hallo?"


Setelah beberapa saat sepertinya wajah Windu berubah masam, sepertinya dia terlibat pembicaraan serius dengan Ricky.


Dara meninggalkan Windu menuju kamar mandi, suaminya yang terlihat sedang berusaha menegosiasi sesuatu.

__ADS_1


Saat Dara kembali, dia di sambut dengan wajah masam sang suami.


"Ada apa?" Dara naik ke tempat tidur, menyusup ke balik selimut. Lengan Windu yang kekar itu memeluk leher sang istri, dia tahu kebiasaan baru Dara, sangat suka meringkuk di dalam pelukannya saat akan tidur.


"Bagaimana ini?" Terlihat Wajah Windu sedikit depresi.


"Bagaimana ini? Ada apa? kenapa wajahmu aneh begitu?" Dara melirik pada suaminya, yang tampak kesal.


"Ricky menelpon barusan..."


"Ya, aku tahu. Kak Win sudah mengatakannya sebelum kak Win mengangkat telponnya..."Dara terkekeh, sambil memasukkan tangannya ke balik baju kaos tipis Windu.


"Dia tidak bisa ikut ke Bali, mereka tidak di ijinkan pulang hari ini dari rumah sakit. Bayinya masih perlu observasi, sepertinya ada sedikit masalah. Padahal tadi siang dia tidak mengatakan tidak bisa." Windu meringis, tampak sekali wajahnya kuatir.


Untuk perjalanan resmi, Windu memang bukan orang yang mandiri. Dia sangat tergantung dengan asistennya, sementara kalau di rah dia sudah biasa di layani dan di urus oleh istrinya.


"Owh..." Dara menaikkan alisnya. Sekarang dia mengerti mengapa Windu tampak cemas.


"Kak Win bisa mengurus diri sendiri kan?" Dara mendonggak pada sang suami yang mengelus-ngelus rambut Dara, tenggelam dalam fikirannya sendiri.


"Aku bisa nengurus diriku sendiri." Kalimat itu di ulang Windu, seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri, untuk perjalanan resmi dia tak pernah melakukannya sendiri.


"Oh, Tuhan...kenapa semuanya membuat pusing saja." Windu meloncat dari tempat tidur. Membuka kembali beberapa dokumen. Lalu menbacanya sedikit, berusaha berkonsentrasi pada materi pidatonya besok.


Dara menatap Windu sambil tersenyum, suaminya itu sekarang nampak seperti anak-anak yang tampak cemas akan ujian sekolah besok pagi.


Pesona sang laki-laki dingin yang tak tersentuh itu seketika menguap entah kemana.


Ternyata di depan pasangan kita yang sesungguhnya tak ada yang benar-benar bisa di sembunyikan. Sifat-sifat kecil sesorang yang lucu akan keluar begitu saja.


"Semua akan baik-baik saja." Dara berkata sambil menaikkan punggunnya di kepala tempat tidur.


"Kalau kamu tidak dalam keadaan hamil aku akan memaksamu untuk ikut." Windu merengut, membolak balik kertas di tangannya.

__ADS_1


"Hey, kak Win tidak boleh ngomong begitu. Aku akan kemana saja ikut kak Win, jika keadaan memungkinkan. "Dara menyahut.


Dia teringat satu kalimat yang di ucapkan oleh mama mertuanya sebelum meninggal, saat mereka berdua memotong rumpun mawar di pekarangan belakang rumah.


"Calon suamimu itu adalah jiwa seorang anak yang terjebak dalam tubuh seorang pangeran tampan. Dia terlihat keras dan kuat. Dia gagah dan seperti seorang pemberontak tapi percayalah dia itu penuh kasih sayang, dia perhatian dan rapuh bahkan jangan mengharapkan dirinya mandiri. Wajah dinginnya itu hanyalah cangkang. Dia sebenarnya adalah pribadi yang hangat dan yang paling penting akan setia pada orang yang mencintainya. Karena itu...cintailah dia. Aku percaya hanya kamu yang akan tulus sampai akhir padanya dan yang bisa mengurusnya dengan baik."


Dulu, Dara sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh ibu mertuanya itu. Tapi sekarang, saat dia sudah hidup bersama Windu sebagai istrinya dia mulai memahaminya. Sedikit demi sedikit, Dara bisa melihat seperti apa Windu itu sebenarnya di balik kemapanannya.


"Sayang..." Tiba-tiba Dara memanggil Windu dengan panggilan yang langka itu. Membuat Windu mengangkat wajahnya melihat pada sang istri yang duduk dengan santai di tempat tidurnya.


"Ku rasa harus ada seseorang yang harus menemanimu ke sana." Ucap Dara kemudian dengan suara yang terdengar lembut.


"Hah..." Windu menatap Dara dengan sedikit heran. Dia menunggu lanjutan kalimat yang di ucapkan istrinya itu.


"Ricky tidak bisa..."


"Aku tidak mengatakan Ricky menemanimu ke sana."


"Maksudmu?"


"Kamu bawa asistenmu yang baru itu denganmu."


"Haaaaah..." Windu melongo mendengar perkataan Dara.


"Kamu tidak sedang mabuk kan, sayang?" Tanya Windu, bola matanya sebesar biji kelereng.



(Ops...Dara ini memang aneh ya😅 Habis cemburu sekarang malah menyuruh Windu pergi ke Bali dengan asistennya yang baru😁 Tenang saja para pembaca tersayang, Percaya saja Dara adalah gadis yang pintar, dia tahu apa yang di lakukannya😅)


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...

__ADS_1


__ADS_2