
Happy reading
πππππ
βKenapa kau hanya sarapan itu?β Soraya mengerutkan kening, menatap Diana yang hanya menyantap beberapa keping biskuit asin dan teh hangat.
"Kau juga Rey, kenapa hanya makan itu?" Tuan Wijaya beralih pada Reyhan yang sedang menyantap seiris pancake hangat disiram dengan sirup maple.
"Aku tidak naf*su makan, Pa. Beberapa hari ini kepalaku sering pusing dan perutku berasa enek kalau terlalu banyak sarapan," jawab Reyhan sebelum menyesap kopinya.
"Aku juga Ma, Pa," imbuh Diana lesu.
Tuan Wijaya dan Soraya saling tatap, lalu saling melempar senyum. "Apa kau ikut ngidam, Rey?" Tuan Wijaya tersenyum mengejek.
"Hah?" Reyhan menatap papanya tak percaya. "Memang bisa begitu?"
"Bisa saja. Dulu papa merasakannya saat kau masih dalam kandungan mamamu."
Tatapan Reyhan berubah setelah mendengar penuturan Tuan Wijaya. Rasa rindu bercampur luka di hatinya seakan kembali menyeruak memenuhi rongga dada Reyhan. Saat itu juga Tuan Wijaya menyadari kesalahannya yang keceplosan bicara. Sejenak suasana menjadi hening seketika.
"Wanita hamil harus banyak makan, Di." Soraya memecah keheningan dengan mengiris seiris besar pancake dan meletakkannya di piring Diana. βMakan itu.β
Diana menatap Soraya dengan memprotes. βMa, bukannya aku tidak mau makan. Aku merasa sedikit mual di pagi hari. Jika, aku memaksakan memakannya aku akan muntah.β
Reyhan mengamati Diana dalam-dalam. Dia tahu perempuan hamil muntah-muntah di awal kehamilan. Tidak disangka dia juga merasakannya sekarang.
__ADS_1
βApakah kau tidak apa-apa? Apakah kau perlu minum obat?β Reyhan menatap Diana cemas. Wajah Diana semakin hari semakin terlihat pucat dan tubuhnya sedikit kurusan.
Diana menggeleng sembari mengelus perutnya dengan lembut. βTidak ada obatnya Rey, aku hanya harus mengalaminya, ini bukan penyakit.β
"Betul Rey, wanita hamil muda memang seperti itu." Soraya tersenyum ke arah mereka.
Reyhan mengikuti arah pandang Diana, menatap perut yang sedang dielus oleh jemari Diana. Dia menghela napas dalam. Seingat Reyhan istrinya terdahulu sewaktu hamil Rangga tidak separah Diana. Dirinya juga tidak ikut merasakan ngidam kala itu.
π
π
π
π
π
Jonathan yang duduk di sebelah Reyhan mengernyit heran. Begitu juga dengan karyawan lainnya yang hadir di ruang meeting. Tidak biasanya Reyhan bersikap aneh begitu. Apalagi, wajah Reyhan kini berubah pucat dengan titik-titik keringat dingin bermunculan di dahinya.
Jonathan mencondongkan tubuhnya ke arah Reyhan. "Tuan, apa Anda sedang kurang enak badan?" bisik Jonathan cemas.
Reyhan memejamkan mata. Menahan rasa tidak nyaman pada dirinya. "Entahlah Jo, aku merasa sangat pusing, juga mu ... uuweekkk." Reyhan segera menutup mulut. Dia sudah tidak mampu lagi menahan rasa ingin muntahnya.
Reyhan segera keluar, menuju wastafel di ruangan yang bersebelahan dengan ruangan meeting. Dia memuntahkan isi perutnya di sana.
__ADS_1
"Apa Tuan baik-baik saja?" Jonathan yang cemas segera menyusul Reyhan dan berdiri ragu di sebelah Reyhan yang masih muntah-muntah. Beruntung pagi ini mereka meeting dengan kepala divisi dari perusahaan sendiri, bukan klien ataupun investor dari perusahaan lain.
Reyhan menyalakan keran air, lalu membasuh wajahnya.
"Ini, Tuan." Jonathan menyerahkan sapu tangan pada Reyhan.
Reyhan menerima sapu tangan itu, lalu mengeringkan wajahnya. Napas Reyhan terengah. Memuntahkan seluruh isi perut di pagi hari cukup menguras energi.
"Apa Tuan kurang enak badan? Bagaimana kalau saya panggilkan dokter?"
"Tidak usah Jo, aku tidak sakit. Aku baik-baik saja."
"Wajah Tuan sedikit pucat." Jonathan masih terlihat khawatir. Selama bertahun-tahun bekerja dan berada di samping Reyhan setiap waktu, membuat Jonathan tahu bagaimana kondisi Reyhan yang benar-benar baik dan tidak, hanya dengan melihat raut wajah Reyhan.
"Aku tidak apa-apa Jo," jawab Reyhan sembari tersenyum tipis. Dia merasa geli melihat wajah khawatir Jonathan yang dirasa berlebihan.
"Baiklah Tuan, tapi apa perlu saya siapkan makanan? Mengingat baru saja Tuan memuntahkan seluruh makanan dalam perut Anda."
Reyhan kembali terkekeh. Namun, sesaat setelahnya terbayang sesuatu yang sangat menggoda lidahnya. "Jo, carikan aku rujak mangga muda," cetusnya seketika.
Jonathan mengernyit heran. Benar-benar heran. Menurutnya hari ini Reyhan benar-benar sangat aneh. Seingat Jonathan, Reyhan paling anti dengan yang namanya makanan asam apalagi rujak.
"Anda yakin, Tuan?" Menatap Reyhan dengan tatapan paling serius.
Reyhan membalas dengan tatapan Jonathan tak kalah serius dan penuh harap. "Tentu Jo, aku sangat ingin makan rujak mangga muda sekarang juga."
__ADS_1
β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Sini ke rumah othor Bang, kubikinin rujak janda muda eh mangga mudaππ π