Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 119 AKU BERSAMAMU


__ADS_3

Dara berbaring di brankar dengan pakaian operasi, sebentar lagi team dokter akan memasang semua peralatan yang di perlukan. Selang infus sudah bergantung. Dara benar-benar siap. Dia dan Windu hanya menunggu tim dokter melalukan persiapan akhir sebelum menjemput dan memindahkan mereka ke ruang operasi. Mereka telah menjalani puasa pra operasi dari malam. Senyum merekah di bibir Dara, menatap papa Windu yang berdiri tepat di sebelahnya, dia telah siap ke ruangan operasi sementara Windu berbaring di brankar yang lain, tangannya memegang erat jemari Dara. Matanya sembab. Dia tal mengalihkan matanya dari sang istri.


Tiga hari setelah pergumulan batin yang luar biasa akhirnya Windu menyerah dan menerima istrinya itu sebagai pendonor ginjal untuknya. Apalagi kondisi Windu semakin down.


"Aku percaya pada kekuatan cinta yang datang dari pengorbanan. Kita akan bisa melalui bersama-sama dalam sakit dan senang. Bahkan aku bersedia mengikutimu dan memegang tanganmu melewati maut." Itu adalah kata-kata Dara sebelum akhirnya Windu menyerah pada sang istri.


"Nak..." Papa Windu membelai rambut Dara dengan gemetar.


"Kamu tidak harus melakukannya, kamu adalah puteri papa juga. Kamu dan Win sama berharganya untuk papa." Suara laki-laki Tua yang penuh wibawa itu bergetar, kemurungan di wajahnya membuatnya semakin tua dalam beberapa bulan ini.


"Papa, aku memang tidak harus melakukannya, tapi aku ingin melakukannya." Dara memegang pergelangan tangan papa Windu dan menciumnya.


"Kak Win adalah satu-satunya yang menjadi kekuatan papa setelah mama pergi. Bagaimana bisa aku membuat papa kehilangan lagi."


"Kamu adalah puteriku, Sunny adalah cucuku, kalian sangat berarti bagiku. Di dunia ini tak ada satupun di antara yang ingin ku korbankan demi yang lain." Airmata pak Danuar mengalur di antara pipinya yang sedikit berkerut.


"Terimakasih, nak...terimakasih sudah menjadi puteriku. Aku mencintai kalian."


Windu tak bicara, tangannya memegang tangan Dara, terasa dingin dan lembab, meski mereka berbaring dan dia semakin tak berdaya.

__ADS_1


"Papa, jika terjadi sesuatu dengan aku dan kak Win, titip Sunny." Suara Dara serupa bisikan, pertama kali dari kilatan matanya, Dara terlihat benar-benar sedih.


"Jangan katakan itu, nak. Jangan...bagaimana dengan papa jika terjadi apa-apa dengan kalian?"


Laki-laki tua ini sesungguhnya lebih tegar dari batu karang, segala macam ujian dalam hidupnya telah di laluinya, bahkan tak ada kepahitan yang benar-benar tak pernah di cicipinya.


Sakitnya kehilangan, tak pernah membuatnya merengek kepada Tuhan. Tetapi, malam tadi dia menangis di depan cucunya yang terlelap. Menangis seperti anak kecil ketika harus menghadapi ini.


"Papa, aku akan bersedia menggantikan kursi presdir papa jika papa bisa membuat istriku yang keras kepala ini, bangun dan pulang." Windu tertawa garing, seolah sedang menertawakan takdirnya dengan sang istri.


"Sayang..." Dara menoleh ke arah Windu.


Dokter dan beberapa perawat masuk.


Mereka tahu, saatnya hampir tiba.


Dara menggenggam erat tangan Windu, seolah takut Windu melepaskannya.


"Apapun yang terjadi setelah ini, aku bersumpah selalu berada di sampingmu. Aku akan menjagamu. Aku akan berada di manapun dirimu berada..." Bisik Dara dalam hati.

__ADS_1


Dia takut, sesungguhnya sangat takut membayangkan semua alat bedah itu mengiris di salah satu bagian tubuhnya tetapi dia lebih takut lagi, kehilangan suaminya.


...***...


Operasi transplantasi Ginjal itu dilakukan langsung oleh dua tim. Satu tim dokter yang menangani Dara dan satu tim lain menangani Windu.


Windu dan Dara telah terbaring lebih dari 5 jam di dalam ruangan operasi selama transplantasi itu berlangsung.


Papa Windu tak pernah beranjak dari depan pintu itu, beberapa orang menemaninya dari asisten hingga sekretarisnya. Semua orang mrngkhawatirkan laki-laki tua ini yang dalam keletihan fisiknya tak pernah ingin meninggalkan pintu itu, duduk di kursinya, menunggu.


Ada dua orang yang sangat dicintainya sedang bertaruh hidup atau mati demi satu sama lain di sana. Dia tak akan tenang jika belum mendengar jabar baik tentang mereka.


Beberapa saat kemudian seorang dokter kekuar, keringatnya sebesar biji jagung, dengan wajah tertutup masker dan pakaian yang masih lengkap. Ketegangan terpancar di wajahnya.


"Bagaimana, dok?", papa Windu langsung berdiri.


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu selalu, ya😅...


...Apalah artinya author tanpa kalian semua, bagaikan sayur tanpa garam😅...

__ADS_1


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


__ADS_2