
Happy reading
💕💕💕💕💕
Sebentar lagi beres. Mereka akan keluar villa dan menerobos kegelapan taman yang dipenuhi pohon-pohon besar. Rupanya penyergap ini menyusup lewat taman belakang yang tidak mendapat penjagaan.
Ya, ini adalah acara makan malam yang penuh persahabatan. Tidak ada dugaan jika Alice akan berbuat nekat. Jadi, Jonathan tidak memberi perintah untuk menjaga area belakang villa dan penyergap ini seperti sangat mengenal area villa. Dia bisa hafal setiap sudut villa.
Tentu saja. Perintah Alice sangat jelas. Gadis itu memberi instruksi mulai dari akses masuk villa hingga apa yang dilakukan pada Diana.
"Lukai wajahnya, buat dia keguguran, tapi jangan membunuhnya."
Halaman belakang tempat yang sangat cocok untuk menjalankan rencana mereka. Halaman yang dipenuhi pohon besar, tempat yang sesuai untuk mengeksekusi korban. Penyergap sebenarnya enggan melukai wanita, tetapi demi Alice apa pun akan dia lakukan.
Dia harus buru-buru menyelesaikan tugasnya, bergegas keluar dari villa dengan menghilang di kegelapan. Suara-suara yang memanggil tadi, dia sangat mengenal orangnya. Reyhan bukan lawan yang main-main. Sebenarnya dia juga ngeri melakukan ini, tetapi sekali lagi semua ini demi Alice. Demi cintanya pada gadis itu.
Dia berpikir hanya perlu membanting tubuh Diana, lalu melakukan dua, tiga tikaman sebelum Diana sempat menjerit. Kemudian, dia akan melompat melalui pintu belakang dan kabur di kegelapan.
Namun, yang terjadi tidak sesuai exspetasinya. Diana muntah dan mengotori telapak tangannya.
"Sial!" umpat penyergap itu yang langsung melepas bekapannya. Dia menatap telapak tangannya dengan perasaan jijik.
Kesempatan itu tentu tidak disia-siakan Diana. Segera dia berteriak sekuat tenaga.
"Reyhan! Rey ...."
Penyergap itu tersadar dan kembali membekap mulut Diana. Dia menyeret Diana dan setengah berlari menuju taman belakang. Dengan tanpa perasaan penyergap itu mendorong keras tubuh Diana hingga Diana terhuyung ke depan dan kepala juga perutnya membentur batang pohon besar. Sangat keras hingga Diana meringis kesakitan.
__ADS_1
"Aaarrggghhhh ...." Satu tangan memegang kepala yang terasa sangat pusing, sedang tangan lainnya memegang perutnya yang terasa mulai keram dan ngilu. Kakinya tiba-tiba saja terasa lemas hingga tak mampu menopang berat tubuhnya. Diana merosot dan terduduk lemah di tanah.
Penyergap itu mendekat. Baginya rencana pertama telah berhasil, tinggal melanjutkan rencana kedua. Melukai wajah Diana.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Diana tersengal. Dia bergidik ngeri ketika melihat pisau di tangan penyergap berkilau terpantul sinar bulan.
"Kau akan melakukan apa?"
Diana berteriak panik. Dia beringsut mencoba menjauh, tetapi sakit di perutnya membuat dia tak bisa bergerak banyak. Diana hanya mampu menyeret tubuhnya dan itu tidak berarti apa-apa untuk si penyergap.
Buktinya penyergap itu sudah berdiri menjulang tinggi di hadapan Diana. Tubuhnya menghalangi sinar bulan hingga dia semakin terlihat mengerikan.
"Maafkan aku. Aku harus melukaimu." Suara penyergap itu terdengar serak dan menyeramkan.
"Tidak!" teriak Diana begitu pisau penyergap mencoba terayun ke arahnya. Spontan Diana memejamkan mata sembari menyilangkan kedua tangan berusaha melindungi wajahnya. Dua detik berlalu, tetapi pisau itu tidak kunjung mengenai tubuh Diana.
Merasa aneh, Diana membuka mata perlahan dan melihat penyergap tadi tengah bergulat di atas tanah dengan seorang pria.
Reyhan datang menolongnya dan sedang bergulat melawan si penyergap. Si penyergap membawa pisau tajam, sedangkan Reyhan hanya menggunakan tangan kosong.
"Tolongggg! Tolonggg!" Diana menjerit dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Mencoba mendapat bantuan dari siapa pun yang bisa mendengar suaranya. Dia menatap ngeri pada pergulatan dua pria itu. Reyhan dengan tangan kosong berusaha keras menangkis tikaman-tikaman pisau dari si penyergap. Membuat Diana mengerutkan kening cemas dan khawatir. Kepalanya teramat pusing, tetapi dia berusaha melawan rasa sakitnya dengan tetap menjerit keras hingga suaranya serak.
Derap langkah yang ramai terdengar mendekat. Sepertinya itu Sekretaris Jonathan dan para penjaga. Membuat si penyergap panik dan menyerang membabi buta. Dia berusaha keras melepaskan diri dari pergulatannya dengan Reyhan. Dengan cepat si penyergap mengayunkan pisaunya. Hanya dalam sekian detik hingga Reyhan tidak mampu menghindar. Pisau menancap di lengan kanan Reyhan. Darah pun mengucur deras.
"Aarrrgghh," teriak Reyhan kesakitan.
"Rey!" pekik Diana. Dia menyeret tubuhnya menghampiri tubuh Reyhan yang roboh ke tanah.
__ADS_1
Kesempatan itu digunakan penyergap untuk melepaskan diri, kabur lewat pintu belakang, dan menghilang di kegelapan.
Diana terus berusaha mendekati tubuh Reyhan yang meringkuk membelakanginya. Rasa sakit di kepala dan perutnya, dia abaikan. Dia membalik tubuh Reyhan begitu berhasil mendekat. Matanya membelalak ketika melihat banyaknya darah keluar dari lengan kanan Reyhan. Jas yang tadinya berwarna putih kini berubah merah karena darah.
"Rey," Diana menangis histeris sembari memeluk tubuh Reyhan. "Oh, astaga, Rey." Tangisnya pilu melihat darah yang terus mengucur dari lengan kanan Reyhan yang terdapat luka menganga.
"Diana, kau tidak apa-apa?" Reyhan meringis menahan sakit. Suaranya terdengar lemah. Wajahnya pucat hingga terlihat putih di kegelapan.
"Rey, maafkan aku."
"Sudah, jangan panik. Aku tidak apa-apa." Dia berusaha bangkit, lalu menyentuh pipi Diana lembut.
"Astaga, Rey. Perutku sakit sekali," ringis Diana. Tubuhnya hampir roboh ke tanah jika Reyhan tidak cepat menyangganya.
"Diana ... Diana, kau kenapa, Sayang?" Reyhan yang panik menepuk pipi Diana pelan.
"Perutku sakit sekali Rey, aku ... aku sudah tidak kuat." Mata Diana terlihat sayu, tatapannya melemah, kemudian perlahan terpejam.
"Diana! Diana bangun!" Reyhan mengguncang tubuh Diana. "Apa ini?" Dia bertambah panik ketika tidak sengaja netranya menangkap darah segar yang mengalir dari paha Diana.
"Diana! Kumohon bangun, Sayang! Bangun!" Reyhan menangis sejadinya. Dia mendekap erat tubuh Diana yang lemah dengan mengabaikan sakit yang menjalar di lengannya sendiri. "Jonathan! Jonathan!" teriaknya histeris
Derap langkah semakin ramai mendekat dan akhirnya bantuan itu datang. Jonathan dan beberapa bodyguard. Melihat kondisi Reyhan dan Diana, dia segera memanggil ambulans dan paramedis untuk membawa Reyhan dan Diana ke rumah sakit terdekat.
Di dalam mobil ambulans Reyhan termangu melihat Diana yang terbaring lemah dan tidak sadarkan diri. Pikirannya cemas mengingat darah yang mengalir di kedua paha Diana. Mungkinkah?
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Huhhh, ngos-ngosan aku nulisnya guys😰
Yuk guys, jangan lupa like dan dukungan kalian. Aku tunggu 😘