Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 85 I LOVE YOU MY WIFE


__ADS_3

Windu menatap Dara yang begitu lahap makan telor ceplok buatannya. Hanya itulah menu yang paling bisa di buatkan olehnya. Itupun dengan perjuangan, di bawah instruksi sang istri dari tempat duduk.


"Bagaimana? enak?" tanya Windu dengan penasaran.


Dara mengerutkan dahinya sambil menelan potongan terakhir telur ceplok itu ke mulutnya.


"Rasa telor ceplok." jawab Dara pendek.


"Aku masih mau lagi..."Lanjutnya dengan wajah memohon.


"Itu tadi sudah dua biji, lho."


"Tapi aku masih mau lagi."


Windu melongo melihat pada Dara,


"Telor ceplok lagi?"


"Bukan, aku mau nasi goreng."


"Tapi aku belum pernah membuat nasi goreng..."


Mata Dara berkaca-kaca, Windu menghela nafasnya.


"Aku akan belajar membuat nasi goreng..." Ucapnya lirih.


"Bagaimana caranya?"


Dengan penuh semangat Dara mengajari suaminya itu, dari mengiris bawang sampai mencampur nasi dan bumbu-bumbunya.


Dahi Windu bercucuran keringat, menghadap kompor adalah hal yang belum pernah di lakukannya.


Dengan susah payah dan perjuangan empat lima akhirnya nasi goreng setengah gosong itupun jadi.


"Terserahlah bagaimana hasilnya yang penting sudah jadi. Soal rasa biarlah hanya dia dan Tuhan yang tahu, aku sudah melakukannya dengan semaksimal mungkin." Windu tersenyum senang, menggumam dala


"Sayang...sudah jadi..." Windu meletakkan piring nasi gorengnya itu dengan rasa puas di atas meja, warnanya kekuningan hampir hitam, membuat Dara mengernyit dahi.


"Kecapnya kebanyakan, jadi warnanya sedikit gelap." Windu berucap sambil masam mesem melihat tatapan sang istri.


"Sini..." Dara mengambil piring itu lebih dekat ke depannya.


"Kak Win..." Dara menatap Windu dengan tatapan memelas.


"Apa lagi?"

__ADS_1


"Aku mau kak Windu yang makannya, nanti aku suapin."


"Glek!" Windu merasa tersedak mendengarnya.


"Tapi, kan tadi kamu yang mau?"


"Sekarang rasanya, aku mau liat kak Win yang makannya, tapi aku suapin..."


"Oh, Tuhan, Dara...kamu kok ngidamnya segini amat, sayang..." Windu mengerjap matanya menatap sendok yang terjulur dari seberang meja.


Nasi goreng setengah gosong itu perlahan masuk ke mulutnya, rasanya manis asin hampir pahit. Tapi apapun rasanya, itu adalah hasil karyanya sendiri.


"Waaaah, rasanya bahagia biasa nyuapin kak Windu."


Belum pernah Windu melihat mata seberbinar Dara saat menyuapinya nasi goreng setengah gosong buatannya itu.


"Lagi, yaaa..."


Windu hanya mengangguk dengan wajah memelas.


Pada suapan ke tiga, Windu melotot pada istrinya,


"Sayang, ngidamnya boleh di ganti, ya?"


"Eh, mana ada ngidam bisa di ganti." Dara manyun.


"Sayang, tapi nasi gorengnya...nasi gorengnya tidak enak." Sahut Windu pelan


"Yang bikin, siapa?" Dara mengernyit dahinya.


Windu menelan ludahnya, menarik sendok itu ke mulutnya dengan suka rela.


Berdebat dengan wanita hamil, sia-sia saja. Dia akan menang, jikapun kalah, dia akan menang dengan cara ngambek.


"Kak Win..."


"Hmmm..."


"Besok kak Win masak lagi, ya?"


"Astaga sayang, ngidamnya bersambung?"


"Yang bilang ngidam itu cuma sehari, siapa?"


"Jadi ngidamnya berapa lama?" Windu mengunyah nasi gorengnya itu dengan berat hati, jika dia muntahkan dia takut Dara menangis lagi. Terpaksa di telannya meski segelas air segera mendorongnya.

__ADS_1


"Bisa seminggu, dua minggu..."


"Sayang..." Windu menatap Dara.


"Kamu kan tahu, aku tidak bisa masak."


"Aku tahu, tapi..."


"Tapi apa?"


"Bagaimana cara aku bilang sama yang di dalam?" Dara menunjuk ke perutnya.


Windu mengangguk dengan pasrah.


"Request saja, besok aku masak apa?"


"Aku mau besok makan cilok."


"Cilok?" Windu sekali lagi melotot pada Dara. Nama asing itu benar-benar baru di dengarnya.


"Iya, cilok."


"Itu makanan?"


Dara mengangguk.


"Mbak Parmi bisa membuatnya?"


"Bisa. Cuma aku mau kamu yang bikin."


Satu sendok lagi di arahkan ke mulut Windu.


Dengan pasrah Windu membuka mulutnya sambil berharap nasi goreng tak enak itu segera habis.


Dara ngidam, seolah balas dendam dengan apa yang di alaminya 5 tahun yang lalu, saat hamil pertama bahkan Windu tak tahu apa-apa.


Windu pasrah saja, dia terlanjur sayang pada sang istri. Melihat senyum bahagianya, Windu rela memakan nasi goreng setengah gosong buatannya, sepiring penuh.


"I love You, Dara...i love You istriku." Bisiknya dalam hati.


"Aku rela, melakukan apapun untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu." Bathinnya.



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...


__ADS_2