Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 115. SEKOTAK COKELAT CINTA


__ADS_3

Dalam tiga bulan terakhir, Windu rutin melakukan pemeriksaan, semua terlihat baik-baik saja, bahkan terkendali. Windu juga sudah turun ke kantor seperti biasanya.


Windu juga selalu mengatakan jika dia baik-baik saja.


Tetapi kemarin sore saat Windu terlihat berbeda dari biasanya, wajahnya pucat dan dia terlihat tidak sedang baik-baik saja, seperti di katakannya.


Dan saat Dara dan papanya membawa Windu ke rumah sakit, Windu benar-benar tak u membuat Dara menjadi panik.


"Maafkan saya, nyonya Windu. Tak ada jalan lain selain itu."


Dara terdiam sesaat lalu menundukkan kepalanya, sesaat menyembunyikan perasaannya.


Selama merawat Windu dia berfikir bahwa dirinya akan mampu mendengar hal terburuk yang mungkin terjadi suatu saat tetapi bagaimanapun dia berusaha, mendengar sesuatu yang buruk yang terjadi pada orang yang kita cintai tentu saja bukan hal yang mudah.


"Tak ada cara lain untuk menyembuhkannya?"


"Kecuali untuk mengurangi rasa sakitnya, kami rasa tidak ada."


Jawaban itu terasa meluluh lantakkan perasaan Dara, dokter di luar Negeri memang lebih terbuka menyampaikan keadaan, tidak berbelit-belit meski mungkin karena niat menghibur.


"Apakah memang harus di angkat?"


Dara menggigit bibirnya, memikirkan keadaan Suaminya yang sangat serius.


"Itu hanya satu-satunya jalan, nyonya...Ginjal tuan Windu sudah hampir tak berfungsi dengan baik. Kalau tidak tuan Windu harus melakukan transfusi darah seumur hidupnya."


"Seumur hidupnya?" Dara merasakan jemarinya dingin, Windu sangat membenci jarum, bagaimana mungkin dia membiarkan suaminya itu harus berteman dengan jarum seumur hidupnya?


"Ya, itu yang bisa kita lakukan untuk meminimalisasi beratnya kerja ginjal. Meskipun kita tahu transfusi bukanlah suatu jalan yang bisa menpertahankan pasien seperti yang kita harapkan." Dokter dengan rambut putih itu menatap wajah Dara, bahasanya sangat di mengerti oleh Dara, kemana arahnya, meskipun dokter ini menggunakan bahasa inggris yang fasih.


"Berapa tahan suami saya bertahan dengan transfusi?" Tanya Dara dengan bibir gemetar.


Dokter ini terdiam sejenak.

__ADS_1


"Saya tidak tahu pasti, nyonya. Tetapi, hidupnya akan bergantung selamanya pada transfusi itu."


"Ya, saya mengerti, dok." Dara menyahut dengan suara serak.


Dokter ini menatap Dara dengan pandangan iba. Rasanya aneh baginya melihat bagaimana tegar ya Dara berusaha bersikap, selama ini dia lebih mampu menghadapi keluarga yang histeris dan ketakutan, dengan begitu dia bisa memilih kalimat yang tepat untuk menenangkannya.


Tetapi perempuan di depannya ini hanya terlihat tegar bersembunyi di balik cangkangnya, sampai-sampai dia tak tahu harus mengatakan apa.


"Seperti janji kami pada tuan Danuar, kami akan berusaha sebaik mungkin mencari donor ginjal untuk Tuan Windu dalam beberapa hari ini, memastikan ada yang cocok dengan tuan Danuar supaya kita bisa segera mengangkat ginjal tuan Windu."


Dua bulir bening jatuh di sudut mata Dara yang tanpa ekspresi, dalam penampilannya yang feminim dan terkesan kuat, sesungguhnya dia adalah perempuan yang rapuh.


"Terimakasih, dokter..." Dara mengakhiri pembicaraan itu dengan caranya, dia tak lagi menginginkan penjelasan lebih jauh. Apa yang di dengarnya lebih dari cukup menjelaskan situasi mereka.


"Kami akan berusaha semampu kami membantu."


"Saya mengerti, dok..."


"Hai, sayang..." Dara muncul dengan senyum cerah. Ini adalah hari ketujuh Windu di rawat di ruang VIP Mount Elizabeth.


Windu yang sedikit pucat dan nampak lebih kurus dari sebelumnya menyambutnya dengan senyum hangat.


"Lihatlah, aku membawakanmu sesuatu..." Dara mengeluarkan tangannya dari belakang punggungnya.


"Apa itu?" Tanya Windu sambil mengerutkan dahinya, penasaran. Dia menegakkan punggungnya bersandar di bantalnya yang empuk.


"Happy Anniversary..." Dara memberikan Windu sekotak cokelat, lalu dengan tanpa permisi dia mendaratkan ciuman di bibir Windu yang setengah kering.


"Haaah, sekarang ulang tahun pernikahan kita?" Windu tertegun.


"Yup. Ulang tahun pernikahan kita yang ketujuh tahun, tepatnya." Jawab Dara sambil menyerahkan kotak cokelat yang bahkan tidak di bungkus dengan kertas kado itu.


"Oh, sayang...aku telah tujuh tahun memilikimu ternyata, kenapa rasanya belum begitu lama. Rasanya masih seperti kemarin saja?" Windu melotot pada Dara dengan binar yang lucu. Lalu menarik tubuh Dara ke atas tempat tidur untuk lebih dekat padanya, lalu mencium dahi istrinya itu dengan pias haru.

__ADS_1


Dia tak menyangka, pernikahan mereka telah sampai hampir satu Windu seperti namanya.


"Ya, sayang...tahun depan akan genap delapan tahun." Jawab Dara sambil menyerahkan sekotak cokelat di tangannya.


"Ini hadiah untuk kita berdua."


"Hm..." Windu mengambil kotak cokelat dari tangan Dara, sambil memperbaiki tali infus supaya tidak menganggunya.


"Hadiah untuk kita berdua." Jawab Dara dengan suara manja.


"Untuk kita?"


"Bukankah ini ulang tahun pernikahan kita?"


"Owh..." Windu terkekeh, dia memang lemah beberapa hari ini tetapi saat melihat senyum Dara dia merasa segala rasa sakitnya jauh lebih berkurang.


"Kenapa hanya cokelat?" Windu protes.


"Eh, ini bukan cokelat!"


"Terus?"


"Ini cinta dalam sekotak cokelat..."



Readers tersayang, beberapa bab lagi


novel ini akan tamat, tetap ikuti kisah cinta Dara dan Windu yang penuh liku, akankah diantara dua hati itu akan bertemu keabadian cinta ataukah Tuhan punya rencana lain untuk mereka😊 tetap stay yaaaah...lanjutannya segera up gak pke lama😅


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...

__ADS_1


__ADS_2