Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 38~Pingsan


__ADS_3

"Umm, Ken. Ini Ibu Pariyem pemilik kontrakan, yang ini Mbak Tini, dan ini Mbak Sari." kata Kayla memperkenalkan mereka dengan menunjuk satu-persatu sesuai mamanya, lalu ia pun memperkenalkan pemuda yang sedari tadi dikagumi ketiganya. "Ini Kenzo, teman ...!"


Ucapan Kayla dengan cepat dipotong si ibu kontrakan. "Ibu tahu deh. Si ganteng ini pacar kamu 'kan, Neng!" serunya sembari menepuk lengan Kendra yang terus menempel dan bersembunyi di balik tubuh kecil Kayla.


Kayla menggelengkan kepala, sedangkan Kenzo mengangguk mengiyakan perkataan ibu kontrakan.


"Duh, yang malu-malu meong. Gak usah malu sama kita mah, Neng! Kita maklum kok, karena Ibu juga pernah muda. Iya nggak, Tin, Sar?!" ujar Pariyem meminta pembenaran dari perkataannya kepada ke dua wanita di sampingnya.


"Iya Kay, gak usah malu kali. Kita ngerti, kok!" timpal Partini dan Sari sembari tersenyum meledek.


"Ta-tapi aku ... dia ...!" Kayla tak bisa mengungkapkan apapun karena ke tiga wanita itu terus meledeknya. "Haish, udah lah!" ia pun menyerah dan hanya diam pasrah dengan apa yang dipikirkan mereka bertiga, sementara Kenzo tersenyum puas karenanya.


Melihat Kayla yang sudah tidak mengelak lagi tentang dirinya, Kenzo berinisiatif untuk membuat gadis itu tak bisa berkutik oleh tingkah lakunya. Ia pun langsung menarik tangan Kayla dan membawanya mundur ke belakang sambil berbisik.


"Onah. Kenapa elu mau tinggal di sini sih? Banyak kontrakan yang lebih bagus dan nyaman. Gue ngerasa di sini tak aman deh!" desisnya berusaha meracuni pikiran Kayla untuk keluar dari kontrakan ini.


Kayla memutar bola matanya malas menanggapi celotehan Kenzo yang menurutnya sangat aneh. "Kan yang tinggal di sini itu aku, bukan kamu! Kenapa kamu yang protes? Lagipula, mereka baik kok, dan aku betah tinggal di sini!" ujarnya dengan seringai tidak kalah menyebalkan dari Kenzo.


Kenzo mengerutkan keningnya melihat ekspresi bahagia dari raut wajah gadis cantik di sampingnya. "Baik dari mananya, Onah? Lihatlah tatapan lapar mereka! Udah kayak kucing kelaparan pas liatin gue," Kenzo masih bergidik ketakutan mengingat perlakuan ke tiga wanita beda usia tadi.


"Itu sih perasaan kamu aja, Ken. Mungkin karena kamu ganteng kali!" ucap Kayla refleks. Tanpa sadar Kayla keceplosan memuji ketampanan pemuda tengil itu.


Mendengar pujian dari Kayla, Kenzo langsung menyunggingkan senyumnya dan mengayunkan tangan yang menggenggam erat tangan Kayla, bahkan jari tangan mereka saling bertautan layaknya pasangan yang sedang berjalan di pasir putih sebuah pantai.


Kenzo tersenyum meledek. "Oh ya? Jadi, elu ngakuin kalau gue ganteng?!" Senyum culas Kenzo menyebalkan di mata Kayla hingga ia pun ingin meninju wajah tersebut. Tapi, Kayla tidak menampik bahwa senyuman Kenzo sangat manis, mungkin bisa membuatnya diabetes.

__ADS_1


Wajah Kayla memerah karena menyadari apa yang diucapkannya barusan adalah suatu ketidaksengajaan yang terucap. "Pede gila, kamu!" ketusnya namun masih sempat tersenyum ketika wajahnya berpaling. "Kupingnya diperiksa dong!" ejeknya kemudian.


Kenzo tersenyum. "Kuping gue masih berfungsi dengan normal, Onah. Ayo ngaku, gue ganteng kan!" goda Kenzo lagi sembari menusuk-nusuk pipi Kayla gemas dengan jari telunjuknya.


Kayla menepis tangan nakal yang sedari tadi terus mengusik ketenangannya tersebut. "Iya, gangguan telinga!" ia pun melangkah kembali ke kamarnya namun ternyata Kenzo mengikutinya.


Gadis itu tak tahu jika Kenzo saat ini sedang mengekor di belakang sampai ke kamar. "Sempit," cicitnya kemudian.


Kayla langsung menoleh ke belakang dan ternyata Kenzo sudah berdiri dengan mata menyapu ke seluruh ruangan. "Hei! Kenapa kamu ikut masuk?" tanya Kayla kesal. "Sana keluar!" Tubuh jangkung Kenzo terus didorong gadis itu agar segera keluar kamar.


Namun, bukan Kenzo namanya jika dia tidak bisa membuat Kayla menyerah. "Sstttt ... argh!" ringisan keluar dari mulut Kenzo hingga Kayla sontak menghentikan aksinya.


Wajah tampan Kenzo terlihat mengerut dengan tangan menyentuh bagian perut seperti sedang menahan sakit.


"Kamu kenapa?" Kayla sangat cemas melihat keringat yang meluncur dari kening Kenzo.


Dengan segera Kayla menangkap tubuh lemah Kenzo yang jatuh tepat di pelukannya. "Ken, kamu kenapa?" Kayla semakin khawatir melihat keadaan Kenzo yang tak sadarkan diri itu, lalu ia pun berteriak memanggil ketiga wanita beda usia yang masih berada di teras depan.


"Ibu, Mbak Tini, Mbak Sari, tolong aku!" teriakan Kayla membuat Kenzo terkejut hingga matanya membulat sempurna. Pemuda itu tak menyangka jika Kayla malah berteriak memanggil 'tante-tante girang' yang sedari tadi ditakutinya.


Dalam hati Kenzo menggerutu kesal sebab Kayla malah memanggil tante-tante itu lagi dari pada menolongnya sendirian. Padahal, Kenzo berharap Kayla sendiri yang mengurusnya tanpa melibatkan tiga orang tante di depan tadi.


Sejujurnya Kenzo sangat takut jika mereka akan melakukan sesuatu kepadanya seperti apa yang ada dalam bayangannya selama ini. Tapi mau bagaimana lagi, dia terlanjur berbohong. Jadi, dia tetap berpura-pura lemah tak berdaya agar Kayla merasa simpati kepadanya.


Ketiga wanita itupun berlarian menghampiri kamar Kayla yang berada di ujung lorong. "Ada apa, Neng?" tanya mereka khawatir.

__ADS_1


Sambil memeluk tubuh jangkung Kenzo, Kayla mendongakkan kepala menatap mereka dan menjawab. "I-ini, Bu. Aku gak tahu apa penyebab dia jadi kek gini," cetusnya dengan nada khawatir.


"Keknya dia kelelahan, deh!" kata Partini.


Kayla menundukkan wajah melihat tubuh lemah pemuda yang suka mengganggunya itu. Dia tidak tahu apa yang membuat Kenzo hingga jadi seperti ini. "Keknya sih gitu," celetuknya tak yakin.


Dengan dibantu tiga orang itu, tubuh Kenzo digotong ke kasur busa tipis yang baru dibeli Kayla beberapa hari lalu setelah mendapat gaji.


"Kay, buka jaketnya supaya dia gak kepanasan!" kata Sari.


"Nyalain kipas anginnya, Neng!" teriak si ibu kontrakan.


"Usap-usapin kepalanya, Kay!" timpal Partini.


Kayla langsung menuruti semua yang dikatakan ketiga wanita itu dengan cekatan, tanpa disadari jika perhatiannya itu mengundang kebahagiaan tersendiri bagi pemuda yang sedang berpura-pura pingsan tersebut.


"Ken, jangan sakit di sini. Aku takut! Kontrakanku lebih kecil dari kamar mandi kamu. Gimana kalau aku hubungi Frans atau yang lainnya untuk bawa kamu ke Rumah Sakit aja," desis Kayla bernada ketakutan.


Gadis itu takut jika terjadi sesuatu kepada Kenzo dan nanti dirinya yang disalahkan oleh keluarga terpandang itu.


Kenyataannya memang benar, jika terjadi sesuatu kepada pewaris tunggal Alberto itu pasti orang yang sedang bersamanya lah yang akan disalahkan.


Kenzo yang mendengar gumaman Kayla hanya bisa berpura-pura terlihat siuman karena mencium bau minyak angin yang dioleskan di hidungnya. "Onah. Gue kenapa?" lirih Kenzo layaknya orang tidak berdaya.


"Kamu siuman, Ken! Syukurlah!"

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2