Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 164


__ADS_3

Happy reading


đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•


Diana sedang tergelak bersama Soraya dan Tuan Wijaya di ruang tengah. Mereka sedang bermain bersama Rangga sembari menikmati Hangwa oleh-oleh dari Siska. Tiba-tiba ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar.


Diana tersenyum begitu mengetahui siapa yang menelepon. Dengan cepat dia menekan tombol hijau.


“Halo Pa,” sapanya.


“Halo Sayang, gimana kabar kalian? ”


“Kami semua baik, Papa sendiri gimana keadaannya di sana?”


“Papa juga baik, bahkan semakin baik.” Surya terdengar bahagia.


“Yang benar, Pa?” Bibir Diana tersenyum sumringah.


“Iya, Sayang. Hari ini kontrol terakhir.”


“Syukurlah, Diana sangat bahagia mendengarnya.” Diana tersenyum ke arah Soraya yang tengah memerhatikannya.


“Kalau hasilnya semua bagus hari ini, kemungkinan minggu depan sudah diijinkan pulang.” Tawa bahagia Surya terdengar jelas di seberang.


“Owh, ya? Semoga bisa lebih cepat ya, Pa. Diana sudah kangen sekali sama Papa.” Diana tak kalah bahagia. Sejak kecil dia tidak pernah berpisah dengan Surya, ini pertama kali dan sudah setahun. Tentu dia sangat rindu.


“Papa harap juga begitu. Baiklah, papa tutup dulu, sudah waktunya kontrol. Jangan lupa kabari Tuan Reyhan.”


“Iya, baik Pa. Nanti Diana kabari Tuan Reyhan.”


“Baiklah, papa tutup telponnya dulu.”

__ADS_1


“Iya, Pa." Diana menaruh ponselnya kembali di atas meja.


“Papamu bilang apa, Sayang?” tanya Soraya yang duduk di sebelah Rangga.


“Papa bilang keadaan kakinya sudah membaik. Jadi, bisa dengan melanjutkan terapi di sini saja. Kemungkinan minggu depan sudah diijinkan dokter pulang ke sini," tutur Diana dengan mata berbinar.


Soraya mengusap lengan Diana. “Syukurlah Sayang, semoga papamu bisa secepatnya berkumpul dengan kita di sini. Iya, 'kan, Mas?” Menatap ragu Tuan Wijaya.


Tuan Wijaya tersenyum tulus. “Tentu saja, kita semua adalah satu keluarga.”


“Makasi Ma, Pa.” Diana menatap haru Soraya dan Tuan Wijaya.


Tidak berapa lama terdengar suara deru mobil berhenti di depan teras rumah.


“Sepertinya ada yang datang,” ujar Soraya. “Apa mungkin Reyhan?”


“Kayaknya bukan Ma, masih jam berapa ini. Masih lama waktunya Tuan Reyhan pulang.” Diana mencoba bangkit dari duduknya. “Coba aku lihat dulu.”


“Lho, kok tumben kamu sudah pulang?” Menatap suaminya heran. Kemudian membantunya melepas jas.


Reyhan duduk di atas sofa di sebelah Tuan Wijaya. “Lagi tidak ada kerjaan di kantor.” Melonggarkan dasi, setelah itu melepas kancing di pergelangan tangannya. “Lagi pula ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian.”


Diana memilih duduk di sebelah Reyhan. “Oya? Aku juga ada hal yang pingin aku bicarain ke kamu.”


“Apa itu tentang kepulangan papamu?” Reyhan merangkul bahu Diana.


Diana tersenyum ke arahnya. “Kok kamu sudah tau?”


Reyhan mencubit hidung Diana gemas. “Kamu lupa suamimu ini siapa? Ha?”


Diana terkekeh pelan. “Haha, kenapa aku bisa lupa, ya.”

__ADS_1


“Lalu apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami, Rey?” tanya Tuan Wijaya yang sudah melipat surat kabar dan menaruhnya kembali di atas meja. Dia siap mendengarkan Reyhan yang sepertinya akan membahas hal serius. Jika tidak, tidak mungkin Reyhan meninggalkan pekerjaan dan pulang secepat itu.


“Begini Pa, Ma, aku berniat meresmikan pernikahanku dengan Diana. Kami ....”


“Yang benar, By?” sela Diana antusias. Akhirnya dia akan menjalani pernikahan seperti impiannya.


Reyhan mengangguk yang disambut senyum bahagia semua orang.


“Kapan rencanamu?” tanya Tuan Wijaya lagi.


“Kami belum sempat menggelar resepsi pernikahan, aku ingin melakukannya minggu depan setelah kepulangan Papa Surya.”


“Benarkah?” Soraya tersenyum lebar. “Kalau begitu kita harus mulai menyiapkannya dari sekarang.”


Tuan Wijaya mengangguk, “Iya, kamu bantu mereka menyiapkan pakaian pengantin.” Menunjuk Soraya.


“Tentu saja Mas, besok kita pergi ke butik langganan mama ya, Sayang.” Melirik Diana dengan tersenyum bahagia.


“Iya Ma,” balasnya tak kalah bahagia.


“Jangan lupa pakaian untukku juga. Aku juga ingin terlihat tampan di pesta putraku,” seloroh Tuan Wijaya.


Mereka akhirnya tergelak bersama. Diana merebahkan kepalanya di bahu Reyhan. “Makasih By,” gumam bahagia.


"Sama-sama," balas Reyhan. Dia berharap, apa yang dia rencanakan bersama Adinda adalah memang benar jalan terbaik.




❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2