
🌼🍍🍍🌼
Bradd tidak bisa tidur, bayangan tubuh Jenny sungguh sangat mengganggunya. Diambil ponselnya, ditelpon seseorang yang ia pikir bisa menguraikan kegelisahannya.
Bradd mengganti pakaiannya, lalu ke luar dari dalam kamarnya.
Bradd menyetir sendiri mobilnya, tujuannya adalah apartemen miliknya. Bradd belum masuk ke apartemen, saat seorang wanita memanggil namanya, wanita itu mendekat, diraih bahu Bradd, dua kecupan mendarat di pipi kiri, dan kanan Bradd.
"Senang bisa kembali bersama denganmu, Bradd."
"Terimakasih Laura, selalu ada waktu untukku."
"Untuk pria sebaik dirimu, aku selalu punya waktu Bradd. Kamu adalah pria istimewa bagiku," puji Laura, dengan suara lembut.
"Terimakasih"
Mereka masuk ke apartemen Bradd, dan Laura mulai melaksanakan tugasnya, untuk memuaskan hasrat Bradd.
Laura, usianya tiga puluh tahun, rambutnya hitam sepunggung, bola matanya juga hitam. Kulitnya putih mulus, tingginya mencapai telinga Bradd saat mereka berdiri bersisian. Tubuhnya ramping, namun padat berisi. Dadanya tidak terlalu besar, namun padat bulat dan menggiurkan.
Laura, seorang wanita panggilan kelas atas, tidak sembarang pria bisa menikmati tubuhnya, dan yang paling Bradd suka. Kerahasiaan dirinya terjamin di tangan Laura. Dan, tidak ada hubungan pribadi yang mengikat mereka, diantara mereka murni hanya ada urusan bisnis belaka. Bradd memerlukan Laura, Laura akan datang, dan menjalankan tugasnya, setelah itu mereka berpisah tanpa ada komunikasi. Sampai saat Bradd kembali memakai jasa Laura.
Laura tidak banyak bicara, ia lebih banyak bekerja, untuk memuaskan pria yang membutuhkan pelayanannya. Laura juga tidak pernah bertanya, kehidupan si pelanggan dengan mendetail.
Meski Laura mengistimewakan Bradd, tapi Laura tetap berusaha profesional, ia tidak ingin Bradd merasa tidak nyaman jika ia banyak bicara, atau banyak bertanya soal pribadi.
Kekagumannya pada Bradd, hanya ia simpan di dalam lubuk hatinya, ia cukup tahu diri, siapa sebenarnya dirinya. Meski kadang ia sangat merindukan Bradd, saat Bradd dalam jangka waktu lama tidak menghubunginya.
Malam ini, Laura merasakan ada yang berbeda dari Bradd, selain lebih agresif dari biasanya, beberapa kali ia mendengar Bradd menyebut nama Jenny. Sedang Laura tahu, Jenny adalah putri Bradd. Itu membuat Laura merasa penasaran, tapi Laura lebih memilih mengabaikan rasa penasarannya. Tugasnya hanya membuat Bradd puas dengan pelayanannya, itu saja.
🌼🌼🍍🌼🌼
__ADS_1
"Daddy," Jenny mengetuk pintu kamar Bradd. Ia ingin memanggil Daddynya untuk sarapan bersama. Tapi tidak terdengar sahutan dari dalam. Jenny memutar handel pintu, tidak terkunci, ia buka pintu dengan hati-hati, sambil menyiapkan diri kalau saja ia akan menyaksikan lagi pemandangan menakjubkan di pagi hari.
Tapi pemandangan yang ada sangat berbeda. Bradd masih terbaring di bawah selimutnya. Bradd memang baru pulang dini hari dari apartemennya, setelah semalaman menuntaskan hasrat terpendamnya bersama Laura.
"Daddy," Jenny duduk di tepi ranjang, ia tarik selimut yang menutupi tubuh daddynya
Bradd membuka matanya, ia melompat bangun saat melihat Jenny duduk di tepi ranjangnya.
"Jenny!"
Mata Jenny membola, melihat bercak merah disekitar dada, dan perut Bradd. Bradd mengikuti arah pandangan Jenny.
"Ehhhh... ini.... " Bradd mengangkat sedikit kedua tangannya, tapi belum sempat ia bicara Jenny merentak berdiri, lalu pergi meninggalkan kamar Bradd. Bradd menatap Jenny dengan rasa bingung. Ia bingung kenapa Jenny harus marah, bukankah Jenny sendiri sudah memahami hal-hal seperti ini. Jenny harusnya paham, sebagai seorang pria normal, Bradd juga butuh belaian seorang wanita.
"Ya Tuhan, apa dia berpikir kalau ini perbuatan Angelica, Jenny.... "
Bradd menyingkap selimutnya, lalu melompat turun dari atas ranjang. Ia menyusul Jenny yang ia pastikan ada di dalam kamar tidur.
"Jenny, kalau kamu mengira ini perbuatan Angelica, kamu salah. Sungguh, Daddy tidak ada hubungan dengan Angelica. Daddy bersumpah untuk hal itu Jenny," bujuk Bradd. Mata Jenny yang basah oleh air mata, menatap Bradd dengan api cemburu, dan kemarahan berkobar di matanya, tapi Bradd tidak memahami rasa cemburu yang ditunjukan Jenny padanya. Ia pikir ini ada hubungannya dengan Angelica.
"Daddy tidur dengan siapa!?" Jenny akhirnya bersuara juga. Tatapannya tajam menusuk ke mata Bradd.
"Yang pasti bukan dengan Angelica, Sayang"
"Apa Daddy akan menikah dengan wanita yang Daddy tiduri?"
Bradd menggelengkan kepalanya.
"Tidak Jenny"
"Lalu kenapa Daddy tidur dengannya?"
__ADS_1
Bradd menundukan kepala untuk menyembunyikan senyumnya. Jenny ternyata tidak memahami, kalau sebagai seorang pria lajang, yang sudah sangat berumur, ia juga butuh untuk menyalurkan keinginan biologisnya. Bradd terpaksa memilih opsi itu, agar ia bisa tetap fokus menjaga Jenny, tanpa harus memiliki istri.
"Dia tidak akan mengambil apapun darimu, Jenny. Tidak mengambil Daddy, atau apapun juga. Dia hanya wanita yang akan datang jika Daddy minta, dan akan pergi jika Daddy tidak lagi membutuhkannya."
Jenny terdiam sejenak, untuk berusaha memahami ucapan daddynya.
"Dia *******? Daddy tidak takut terkena penyakit?" mata Jenny melotot, diamati bagian depan tubuh Bradd yang hanya memakai celana pendek saja. Bradd tersenyum, digelengkan kepalanya.
"Daddy tahu, kemungkinan itu pasti ada, tapi dia bukan wanita panggilan sembarangan. Dia wanita panggilan kelas atas, yang sangat memperhatikan kesehatannya, juga memberi jaminan kepada kliennya kalau dia sehat," jawab Bradd.
"Bagaimana kalau dia hamil? Aku tidak ingin punya adik, Daddy!"
Bradd kembali tersenyum.
"Itu tidak akan terjadi Jenny. Daddy memakai pengaman, diapun mengkonsumsi obat agar tidak hamil. Kamu tidak perlu cemas akan hal itu."
"Apa Daddy sering melakukannya?"
Bradd terdiam sesaat, lalu kepalanya menggeleng lagi.
"Tidak juga"
"Tidak juga itu apa? Dua hari sekali, satu minggu sekali, atau bagaimana?" tuntut Jenny dengan pertanyaannya yang membuat Bradd harus menghela napasnya.
"Daddy melakukannya hanya saat desakan itu tidak tertahankan lagi, kamu pahamkan maksud Daddy?"
"Apa yang membuat desakan itu tidak tertahankan lagi Daddy? Khususnya tadi malam, apa yang membuat Daddy memerlukan wanita panggilan itu?"
Bradd menatap putrinya, mendengar pertanyaan yang tidak pernah ia duga akan ia terima dari Jenny. Bahkan Bradd tidak pernah membayangkan, akan terlibat obrolan semacam ini dengan Jenny.
"Jawab Daddy!?"
__ADS_1
🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼