
Jenny menundukan kepala, ia disergap rasa bimbang. Ingin jujur akan perasaannya, tapi ia takut Bradd tidak bisa menerimanya.
Tapi ia tidak memiliki pilihan, pria mana yang ingin ia nikahi. Hanya Bradd yang ia cintai, dan ia bisa percayai, untuk menjaganya, seperti yang sudah dilakukan Bradd selama ini.
"Jenny, aku kira Jason adalah pilihan yang tepat, kamu hanya harus berusaha untuk lebih dekat lagi dalam mengenalnya." Bujuk Bill. Jenny mengangkat kepala, ia menoleh pada Bradd yang tetap masih diam saja. Lalu mengalihkan tatapannya pada Bill.
"Grandpa, untuk saat ini, tidak ada satu priapun yang aku cintai, atau bisa aku percaya untuk bisa menjagaku sebaik Daddy. Tidak juga Jason, Grandpa"
"Kamu memang benar Jenny, tidak akan ada orang yang mampu menjagamu sebaik Bradd, tapi kamu harus segera memutuskan.... "
"Kenapa tidak Daddy saja yang menikahi aku, Grandpa"
"Apa!?"
Bersamaan Bill, dan Bradd mengucapkan kata itu, dan bersamaan pula mereka menatap Jenny, dengan rasa terkejut luar biasa. Jenny terlihat salah tingkah menerima tatapan dua pria beda usia yang bersamanya. Karena ia sendiri masih ingin menyimpan perasaan yang sebenarnya pada Bradd. Tapi, ia juga tidak ingin dipaksa menikah dengan pria yang tidak ia cinta.
Jenny mengangkat bahunya, ia mengulum bibir sejenak, dan menjalin jari jemari di atas pangkuannya. .
"Emhh, aku pikir, dari pada aku menikah dengan pria yang tidak aku kenal, yang belum tentu bisa kita andalkan. Lebih baik aku menikah dengan Daddy bukan? Ya, hanya pernikahan sandiwara, untuk menghadapi wanita itu saja, Daddy. Sementara aku belum menemukan pria yang bisa aku percaya menggantikan Daddy. Kita bisa berpisah, kalau nanti aku sudah menemukan pria yang cocok untuk menjadi suamiku." Cerocos Jenny, yang bukannya menyadarkan kedua pria dari terkejut mereka, tapi justru menambah kekagetan keduanya.
Bahkan Bill sampai mengelus dada, mendengar pemikiran cucu sahabatnya. Beruntung ia tidak memiliki penyakit jantung.
Meskipun Bill sejak tadi sudah bisa menilai, kalau Jenny memiliki rasa tertarik pada Bradd, tapi tetap saja ia merasa terkejut luar biasa.
"Bagaimana Grandpa, Daddy, apa kalian setuju?" Jenny menatap Bill, dan Bradd bergantian. Bill menatap Bradd, yang masih terlihat sangat shock.
__ADS_1
"Keputusan ada di tanganmu, sekarang Bradd. Jujur saja, menurut pemikiranku, usul Jenny itu memanglah jalan yang terbaik Bradd. Tapi, semua aku kembalikan padamu." Bill bersandar di sandaran kursi rodanya. Ia menatap Bradd, menunggu Bradd memberikan jawaban.
Bradd menegakan punggung, ditarik dalam napasnya, lalu ia hembuskan perlahan. Jenny, dan Bill menunggu jawaban Bradd, dengan perasaan tegang.
"Jenny," Bradd menolehkan kepala untuk menatap Jenny yang masih duduk di sebelahnya.
"Ya Daddy," Jenny membalas tatapan Bradd.
"Kamu yakin akan keputusanmu itu?"
"Hmmm, aku tahu, mungkin Daddy tidak suka terikat dalam pernikahan. Tapi, aku berjanji, tidak akan meminta atau menuntut apapun dari Daddy, asal Daddy berjaji tidak akan membawa masuk wanita lain dalam hidup kita, dalam rumah kita."
Bill mengangkat kedua alisnya mendengar perkataan Jenny.
'Tidak meminta atau menuntut apapun, tapi harus mengikuti maunya. Hhhh Jenny, aku rasa, Bradd memang pilihan yang terbaik untukmu. Kamu belum cukup dewasa untuk menikah dengan pria yang belum memahamimu. Hanya Bradd, yang paling tahu dirimu.'
Bill menganggukan kepala, ia merasa kalau alasan Bradd cukup masuk akal.
"Jenny?" Bill menatap Jenny, ingin tahu pendapat Jenny. Jenny menganggukan kepala, hatinya merasa lega, meski perasaan sesungguhnya masih ia simpan, tapi setidaknya, Bradd tidak akan meninggalkannya.
Bradd menundukan kepala, ia sadar, pernikahannya dengan Jenny pasti akan menimbulkan masalah baru. Angelica, pasti akan menudingnya ingin menguasai Jenny beserta harta warisan yang saat ini ia kelola. Bradd berusaha mengesampingkan dulu hal itu. Ia merasa cukup siap untuk menerima apapun yang akan dituduhkan Angelica padanya. Bahkan ia siap, jika Angelica menempuh jalur hukum untuk menggugatnya. Yang pasti, ia harus memiliki dasar hukum yang kuat, untuk mempertahankan Jenny, agar bisa terus berada dalam perlindungannya. Menikahi Jenny, harus diakui sebagai jalan akhir, dan jalan terbaik bagi mereka.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?"
Jenny menatap Bradd, seakan meminta Bradd yang menjawab pertanyaan Bill.
__ADS_1
"Secepat yang bisa Bill"
"Baiklah, aku akan mengatur semuanya, agar kalian berdua bisa menjalani hari kalian seperti biasa. Kalian setujukan?"
"Ya," Bradd, dan Jenny menjawab bersamaan.
🌼🌼🍍🌼🌼
Bradd, dan Jenny mengantarkan Bill sampai ke mobilnya. Setelah mobil Bill menjauh, mereka berdua saling pandang.
"Kenapa kamu tidak memberitahu kalau kamu sudah tahu semuanya sejak lama, Jenny?" terdengar nada kecewa dalam suara Bradd.
"Apakah itu ada bedanya, Daddy?"
Bradd menghela napasnya, ia memilih diam sambil meneruskan langkah masuk ke dalam rumah, lalu menaiki tangga menuju lantai atas. Jenny menaiki tangga dengan cepat, dihadang langkah Bradd, dengan berdiri di hadapan Bradd.
"Apa itu ada bedanya, Daddy?" Jenny mengulangi pertanyaannya, ia menatap Bradd yang berdiri dua anak tangga di bawahnya. Bradd menundukan kepala sejenak, lalu diangkat kepalanya, dibalas tatapan Jenny yang menikam manik matanya.
"Tidak Jenny, tidak ada yang berbeda, atau berubah, karena selamanya, kamu tetaplah putri kesayangan Daddy. Meski Daddy bukan ayah kandungmu, ataupun ayah tirimu." Jawaban Bradd bagai pisau yang menikam ulu hati Jenny. Ia berharap, Bradd bisa memandangnya sebagai Jenny, wanita dewasa yang membutuhkan cinta, dan perhatian dari Bradd, sebagai seorang pria. Bukan lagi, sebagai gadis kecil yang ingin dimanjakan daddynya.
"Sebaiknya kamu masuk ke kamarmu, istirahat, tidur, jangan menonton film dewasa terus. Itu tidak baik untuk kesehatanmu. Tidak baik juga untuk pikiranmu, jangan dewasa sebelum waktunya, Jenny."
"Aku sudah dewasa Daddy, cukup dewasa untuk menjadi seorang istri, cukup dewasa untuk bercinta dengan seorang pria, cukup dewasa untuk memilik anak! Akan aku buktikan semua ucapanku, kalau kita sudah menikah nanti!" Jenny berteriak kesal di hadapan wajah Bradd, lalu ia berlari menaiki tangga, dan terdengar suara debam pintu yang dihempaskan.
Bradd menarik napasnya, ia bingung dengan perasaan Jenny kepadanya, juga bingung dengan perasaannya sendiri. Satu hal yang pasti bagi Bradd, akan banyak masalah yang pasti nanti akan menghadang mereka.
__ADS_1
🌼🌼🍍BERSAMBUNG🍍🌼🌼