
"Astaga istriku ini sedang cemburu, ya?" Windu hampir tergelak, menatap sang istri seperti sedang menatap sesuatu yang langka.
Lima tahun dia menikah dengan Dara, tak pernah dia melihat mimik Dara begitu penasarannya.
"Siapa bilang aku lagi cemburu? aku hanya lagi bertanya, perempuan menelpon suamiku jam 9 malam, nomornya tidak unknow, ternyata asistennya, dan aku belum tahu apa-apa tentang itu. Kalau aku ingin tahu sedikit, apa aku salah?" Dara bertanya dengan santainya, tak nampak menggebu meski kalimatnya terdengar panjang.
"Sayang, kamu harus tanyakan ini pada Ricky..." Akhirnya Windu menyerah mencoba menjelaskan tentang asisten barunya itu, dia benar-benar tak pernah di situasi ini.
Dara hanya tersenyum kecil, menelan makanan yang di kunyahnya sembari menunggu Windu menjawabnya tadi.
"Akh, kak Win...santai saja aku hanya bertanya." Senyum kecil Dara melebar, ibu hamil ini tampak tak terbebani apa-apa.
...***...
"Aku tak mau kamu menghubungiku pada waktu-waktu yang bukan jam kerja, apa lagi jika itu tidak penting." Windu menanda tangan beberapa lembar kesepakatan yang di serahkan oleh Fuji.
"Maksud bapak?" Gadis cantik ini bertanya, tetap sambil berdiri tegak di depan meja kerja bosnya itu.
"Kalau tidak mendesak sekali tidak perlu menghubungi aku. Apalagi kalau aku sedang berada di rumah. kalau hanya soal memberitahukan jadwalku pagi besoknya, bisa kamu kirim lewat message, aku akan membacanya."
Windu melirik pada Fuji, dia memang sangat menawan, tapi Windu sama sekali tidak tertarik pada gadis muda itu.
Fuji mengenakan dress putih di atas lutut dengan balutan blazer, tanpak begitu sempurna dengan tubuh rampingnya.
"That was my family time. Personal effects." Lanjutnya sambil memberikan map di tangannya pada Fuji.
"Oh, maaf pak, saya akan mengingatnya." Jawab Fuji sambil membungkuk.
"Terimakasih sudah mengerti." Windu membuang mukanya, dia berusaha tidak melihat pada asisten pribadinya itu. Bukan karena dia jengah tetapi dia memang tidak ingin membuat kontak yang berlebihan.
Sesuatu mungkin saja terjadi jika keadaan di dramatisir sedemikian rupa, karena itulah Windu tak menginginkannya.
"Apakah Ricky sudah menjelaskan pekerjaanmu selama menjadi asistenku?"
"Ya, pak."
"Jika ada klien atau kolega yang ingin membuat pertemuan, jadwalkan tidak boleh mendadak...paling tidak sehari setelah membuat janji."
__ADS_1
"Iya, pak..."
"Kecuali ada hal yang mendesak dan segera di tangani, di luar itu aku tidak suka melakukan meeting mendadak dengan siapapun."
"Baik, pak."
"Ingatkan aku pada jam lunch, untuk pulang."
"Ya, pak..."
"Jangan masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu."
"Baik, pak..."
"Dari tadi kami hanya menjawab, Ya pak...baik pak...apakah kamu hanya punya kosa kata itu saja?" Windu mengangkat wajahnya, mendelik pada Fuji.
"A...saya harus menjawab bagaimana?" Fuji tampak begitu polos dengan kebingungannya sendiri.
Windu menatap Fuji sesaat, lalu menatap ke kertas yang ada di mejanya.
"Lupakanlah..."
"Maaf, jika saya salah pak..." Fuji membungkukkan badannya, raut wajahnya terlihat tegang.
"Ya, terserah kamu lah, yang penting kamu ingat apa yang menjadi peraturanku." Windu memberi isyarat supaya Fuji keluar dari ruangannya.
"Permisi, pak." Fuji berbalik dan bersiap melangkah.
"Satu hal lagi." Suara Windu menghentikan langkahnya.
"Ya, pak..."
"Tolong gunakan pakaian yang sopan, aku tidak suka perempuan yang bekerja denganku menggunakan rok di atas lutut dan terlalu seksi. Selain tidak enak jika kita bertemu klien dan kolega, aku tidak ingin ada kesan yang tidak baik padamu sebagai asistenku."
Wajah Fuji seketika memerah seperti kepiting rebus, selama dia bekerja di bagian kearsipan tidak pernah ada orang yang menegurnya soal berpakaian.
"Ma...maaf, pak..." Fuji menggigit bibir merahnya, rasanya dia baru saja di tampar oleh seseorang.
"Baiklah, ambilkan aku secangkir kopi hitam, less sugar...aku sedang ingin minum kopi, aku rasa aku kurang tidur tadi malam." Windu memberi perintah halus, seakan mengurangi rasa malau yang kini bertengger di perasaan Fuji, easisten barunya itu.
__ADS_1
Fuji membungkuk sesaat menyembunyikan wajahnya yang kemerahan itu lalu segera berlalu dari ruangan itu dengan tergesa. Windu sama sekali tidak menoleh padanya.
...***...
Hari ke empat Fuji bekerja sebagai asisten Windu, perempuan itu berusaha sebaik mungkin menarik perhatian Windu, sang bos yang sangat fenomenal itu karena track record, sikapnya yang dingin dan tak banyak bicara benar-benar laki-laki impian para perempuan di gedung besar tempat mereka bekerja.
Bahkan Fuji dan beberapa teman ganknya di bagian arsip bertaruh untuk bisa membuat bos mereka itu berbicara pada mereka.
"Bagaimana setelah kamu bekerja sebagai asistennya? Rasanya bagaimana?" Si centil Eva menyilangkan kakinya di kursi tunggu lobby, hari ini dia dan Keke, kembang bagian arsip itu melakukan pertemuan makan siang bersama Fuji si Lucky Girl yang telah terpilih menjadi asisten sang bos idola mereka itu di cafe lantai bawah gedung perusahaan.
Tempat itu berada di samping lobby, dengan kaca bening sebagai dinding sehingga mereka bisa menikmati pemandangan arah pekarangan gedung hingga jalan raya. Tempat ini adalah tempat favorit para karyawan nongkrong waktu istirahat.
Mereka berdua sedang menunggu Fuji menyelesaikan beberapa pekerjaannya jadi duduk di kursi tamu lobby.
"Pak Windu itu benar-benar es kutub utara." Keluh Fuji sambil menggeleng-geleng kepalanya, menulis sesuatu di buku notesnya, mencoret dengan dengan gemas seolah dia sedang melihat bosnya di lembaran kertas itu
"Kalian berbicara banyak, kan?" Tanya Keke dengan penasaran.
"Dia selalu berusaha menghindar berbicara di luar konteks, bahkan aku sampai sekarang tak pernah lebih dari 10 menit dalam ruangannya setiap dia memanggil jika ada perlu."Jawab Fuji.
"Astaga...dia benar-benar sedingin itu?" Eva melotot tak kalah gemasnya.
"Luar biasa bos tampan kita itu, aku penasaran secantik apa isterinya itu, sampai-sampai dia tak tertarik mrlihat perempuan secantik kamu." Keke nyengir.
"Sekarang aku malah tidak boleh menggunakan rok span pendek, pak Windu itu benar-benar, deh..." Fuji merengut dengan wajah kesal.
"Ha...ha...ha...kamu sekarang harus melepas gelar seksi girlmu, sebaiknya semua pakaianmu itu di wariskan kepada aku dan Eva saja." Keke ngakak melihat wajah Fuji yang kesal itu.
Tawa Keke seketika terhenti saat sebuah mobil mewah Lexus LC 500 pada berwarna warna Merah Metalik yang berkilauan di bawah sinar matahari siang.
Mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama gedung. Mata ketiga perempuan itu melotot saat pintu mobil mewah itu terbuka otomatis, dan seorang perempuan cantik keluar dari dalamnya, terlihat anggun dengan kepala yang terangkat penuh percaya diri.
"Dia...dia siapa?" Keke melongo dengan terpana.
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikanš...
...I love you allā¤ļø...
__ADS_1