
Di teras rumah nenek Arimbi, tampak Kayla, Devian dan Bagas sedang berdiri serta bersiap untuk mengetuk pintu. Mereka masih ragu, apa benar jika Kenzo ada di sana? Mengingat tempat itu jauh dari keramaian serta kemewahan, tidak memungkinkan untuk pemuda seorang Kenzo betah di sana, pikir Kayla ragu.
Namun, pernyataan Bagas selanjutnya membuat Kayla menoleh. "Kenzo kalau kabur dari rumah mesti ke mari. Tapi, kalo dia di sini lalu di mana motornya? Kok gue gak lihat sih!" Bagas celingukan mencari.
Plak
"Woi! Bukan cuma elu aja, kita juga gak liatin motor si Sultan di mari karena emang motornya kagak ada." sembur Devian kesal setelah menggeplak kepala Bagas.
Yang dipukul tentunya marah sembari protes. "Asem lu somplak. Pala gue nih difitrahin ama Emak tiap taon, lu maen geplak aja!" Bagas mengelus kepalanya.
"Udah sih ah, ngapain sih ribut mulu. Ini udah malem dan ini di tempatnya orang. Jangan bikin rusuh!" lerai Kayla kepada keduanya. "Lebih baik kita ketuk pintunya supaya tahu kalau Kenzo ada di sini atau enggak! Kalau gak ada, kita bisa pulang ke rumah lagi secepatnya." tutur Kayla.
Bagas dan Devian menoleh. "Elu aja Kay yang ngetuk pintunya!"
"Kok aku, sih. Aku kan gak kenal Neneknya," ujar Kayla.
"Elu kan tadi yang bilang kalau kita harus tahu ada enggaknya si Ken di sini. Lagian, ini udah malem kan," Kayla mengangguk. "Ya udah buruan," ujar keduanya serempak.
Dengan ragu-ragu, Kayla terpaksa mengetuk pintu rumah nenek Arimbi.
Tok tok tok ...
"Permisi!" Kayla mengetuk pintu sembari melirik terus ke arah Bagas dan Devian yang mengangguk.
Cukup lama Kayla mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam hingga ia pun terus mengulang ketukan sambil berteriak memanggil si pemilik rumah.
Suara berat samar-samar terdengar menyahuti, "Sebentar!"
Langkah kaki semakin mendekat untuk membuka pintu, tangannya perlahan menyentuh handle dan menariknya. Seketika, pintu terbuka dengan tarikan dari dalam secara perlahan menampakkan sosok seorang pemuda yang sedang dicari mereka.
__ADS_1
Sesaat mereka terhenyak dengan penampilan si pembuka pintu. Wajah pucat terlihat lemah dengan tubuh dibalut jaket tebal serta selimut yang menggulungnya.
"Kenzo? Kamu sakit?" Kayla terlihat panik segera mendekat dan menyentuh wajahnya dengan telapak tangan. "Panas banget," desisnya sembari menatap lekat wajah tampan di hadapannya tersebut.
Mata Kenzo langsung terbuka mendengar suara yang selalu ingin didengarnya. "Onah!"
Kepala Kenzo mendongak menatap wajah cantik di hadapannya setelah matanya perlahan terbuka sesaat mendengar suara yang selalu dirindukannya.
Markonah, nama panggilan gadis kesayangan Kenzo yang tomboi dan galak tapi imut. Dia selalu merindukan gadis tomboinya itu setiap saat dan selalu ingin bersama dengannya. Namun dua hari ini dirinya tidak bertemu dengan gadis kesayangannya sebab sesuatu sedang terjadi di rumah waktu itu hingga menyebabkan Kenzo harus pergi dari rumah dan tinggal di rumah neneknya.
Kenzo terjatuh karena tubuhnya yang lemah, serta kepala terasa berat dengan suhu tubuh tinggi, dan matanya sayu dengan bibir memucat.
"Kenzo!" seru ketiganya berhamburan menghampiri.
Kayla langsung menangkap tubuh jangkung Kenzo sebelum kepalanya terbentur kerasnya lantai. "Ken ... Kenzo, kamu kenapa?" terlihat raut wajah cemas dari gadis itu. "Markoho ... bangun!" Ia terus menepuk pipi Kenzo secara berulang agar pemuda itu sadar.
Kayla mengusap wajah tampan yang terlihat pucat pasi itu. "Ayo, kita angkat ke sofa!" pintanya pada kedua pemuda itu.
Bagas segera mengangkat tubuh Kenzo di bagian kakinya dan Devian langsung mengangkat bagian bahu diikuti Kayla yang memegangi kepala.
Setelah tubuh lemah itu dibaringkan di atas sofa panjang, ketiganya berusaha membuat Kenzo sadar dengan berbagai cara. "Ken ... Kenzo... bangun lu!" tak ada respon apapun dari si pemilik nama. "Nek ... Nenek!" Devian berlari mencari nenek Arimbi di dalam rumah, mulai dari kamar, dapur, dan kamar mandi, namun pemuda itu tidak dapat menemukan si pemilik rumah.
Bagas terus mengusap-usap tangan dan kaki Kenzo, sedangkan Kayla memijat pelan kepalanya. "Ken. Bangun dong, jangan bikin aku takut!" Kayla terlihat sangat khawatir dengan keadaan Kenzo saat ini.
Devian kembali setelah berkeliling rumah nenek. "Dia di rumah sendirian, gaes!" teriaknya dengan nafas terengah karena kelelahan setelah berlarian.
Kayla dan Bagas terkejut mendengar perkataan Devian. "Ke mana Nenek? Kenapa si Ken bisa di rumah sendirian?" ketiganya saling menatap satu sama lain.
Devian kembali berujar. "Tapi gue yakin tadi ada Nenek di sini, soalnya tungku kayu masih menyala bekas memasak keknya." jelas Devian.
__ADS_1
"Kira-kira, Nenek ke mana ya?!" tatapan mata Bagas mengarah kearah Devian.
"Mana gue tahu, dodol. Gue kan bareng elu kemari nya," sahut Devian kesal.
"Gue bukan nanya elu, tapi lagi mikir sendiri." Bagas mengelak.
"Hemh!" Devian melengos kesal.
Melihat kedua pemuda itu ribut, Kayla melerai kembali pertengkaran mereka. Ia menyuruh salah satunya untuk mengambilkan air hangat yang akan dipakai mengompres agar suhu tubuh Kenzo kembali normal, tidak panas seperti sekarang.
"Oke!" Devian berucap singkat kemudian melangkahkan kaki menuju ke dapur.
Selepas kepergian Devian ke dapur, Kayla segera mengeluarkan minyak aroma terapy dari dalam tasnya. Minyak tersebut dioleskan sedikit di atas bibir di bawah hidung Kenzo agar baunya terhirup.
"Kay, ini airnya!" Devian menyerahkan baskom kecil berisikan air hangat yang tadi diambilnya dari dapur.
Dengan segera Kayla menerima baskom berisikan air hangat itu, kemudian mengambil sapu tangan dari dalam tasnya. Setelah itu, ia mencelupkan sapu tangan kedalam baskom berisikan air hangat tersebut lalu menempelkannya di dahi Kenzo setelah ia memerasnya.
Gadis itu melakukannya berulang sampai dahi Kenzo terasa sedikit dingin, tak sepanas tadi. Tangannya menggosok-gosok tangan dingin Kenzo supaya sedikit menghangat. "Bangun dong, Markoho!" desisnya pelan.
Entah mengapa melihat kondisi Kenzo saat ini membuat Kayla ingin menangis. Ia mengingat pernyataan Kenzo tempo hari yang mengatakan bahwa pemuda itu mencintai dan menyayanginya. Kenzo menyatakan perasaannya terhadap Kayla namun gadis itu belum sempat menjawab pernyataan tersebut.
Buliran cairan bening meluncur dari manik mata Kayla tanpa disengaja. Cairan bening itu menetes ke bawah membasahi pipi Kenzo sampai si empunya mengerutkan kelopak mata.
Mata Kenzo perlahan terbuka menatap wajah cantik di hadapannya. Sedikit demi sedikit ia membuka mata sampai sempurna. Tangannya terulur menyentuh wajah Kayla dan mengusap air matanya. "Jangan nangis, Onah! Gue masih hidup," suara lirih itu masih bisa didengar jelas oleh Kayla.
Kayla sontak mendongakkan wajah menatap si empunya tangan yang menempel di wajahnya. "Markoho!" senyum Kenzo perlahan mengembang setelah mendengar panggilan sayang dari si pemilik suara yang selalu dirindukannya.
...Bersambung ......
__ADS_1