
Happy reading
đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•
Laura mengumpat lantaran kerumunan orang-orang menghalangi jalannya. Dengan kesal dia menghentikan mobilnya, lalu keluar dan membanting pintu. Dia bermaksud membubarkan kerumunan itu.
"Ada apa sih ini? Kalian menghalangi jalan ta ...." Ucapannya seketika terhenti, tubuhnya gemetar melihat Diana bersimpuh dengan berlinang air mata, memeluk tubuh Rangga yang berlumuran darah.
“Rangga!” teriaknya histeris. Laura melompat dan berjongkok di depan tubuh Rangga. “Diana apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan terhadap putraku?” bentaknya dengan bercucuran air mata.
“Kita harus segera bawa Rangga ke rumah sakit, Laura!” ucap dengan bibir bergetar.
"Naik ke mobilku."
Diana segera menggendong tubuh Rangga dan berlari menyusul Laura menuju mobilnya. Sementara, pengemudi mobil yang menabrak Rangga sudah diamankan warga komplek yang ada di lokasi kejadian selama menunggu polisi datang.
__ADS_1
“Ya, Tuhan, cepat Laura! Lebih cepat lagi!” jerit Diana dari kursi penumpang. Air matanya tidak berhenti bercucuran dan pakaiannya sudah dipenuhi noda darah milik Rangga. “Rangga dalam bahaya!” tangisnya semakin menjadi melihat Rangga kini tersengal.
“Aku juga tau itu bodoh. Kita juga harus hati-hati bukan asal ngebut,” maki Laura di sela isak tangisnya.
“Tuhan, tolong beri putraku kekuatan,” ucap Diana lirih. “Maafkan ibu Sayang, maafkan ibu. Harusnya ibu tidak meninggalkanmu. Kamu harus bertahan ya Sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Putra ibu kuat ya, ibu sayang sama Rangga. Bertahan ya Sayang, ibu mohon bertahan.” Diana terus merancau sembari mendekap dan mencium wajah Rangga yang sudah berlumuran darah.
Setibanya di rumah sakit, Diana melompat turun dan berlari menuju UGD.
“Dokter!” Diana berteriak kencang dari luar UGD. Pintu UGD terbuka. “Dokter tolong anak saya!” teriaknya lagi pada pria berjas putih dan seorang berseragam perawat.
“Nyonya silahkan tunggu di luar dulu ya,” kata salah satu perawat sembari ingin menutup pintu.
“Tapi Sus, putra saya ....” Diana ingin protes.
“Tenang Nyonya, dokter akan menanganinya. Nyonya silahkan tunggu di luar dan berdoa untuk putranya,” perintah perawat itu lagi.
__ADS_1
Diana ingin protes lagi, tetapi perawat itu keburu menutup pintu. Dengan lemas akhirnya dia duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan UGD sembari terus mengucap doa.
“Bagaimana Rangga?” tanya Laura saat datang dari memarkir mobil.
“Belum tau, dokter masih menanganinya.” Air matanya mengalir lagi.
“Sebenarnya ada apa sih? Kenapa bisa terjadi seperti ini?” Menatap Diana dengan geram.
“Aku juga tidak tau Laura, kejadiannya begitu cepat.” Bibirnya gemetar, matanya bergerak panik. “Kami tadinya duduk di kursi dekat pohon menunggumu, tiba-tiba aku merasa sangat pusing. Aku mual dan ingin muntah. Jadi, aku bangun sebentar dari kursi itu. Aku tidak tau kapan Rangga ikut turun hingga ....” Diana tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi. Dia menangis kencang dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
“Kamu ibu yang tidak becus! Karena kebodohanmu Rangga jadi begini!” maki Laura dengan berlinang air mata.
Laura benar, aku memang tidak becus! Aku memang bodoh! Karena kebodohanku, sekarang Rangga jadi seperti ini. Rangga putraku ... bagaimana aku akan mengatakannya pada Tuan Reyhan?
Diana memaki dirinya dalam hati. Kekesalannya bertambah karena menyadari kini dia tidak membawa ponselnya. Bagaimana caranya dia mengabari Reyhan?
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️