
"Fuji, aku akan mengambil semua materi dan agenda pekerjaan suamiku dari kamarmu sekarang karena mulai hari ini, akulah asisten dari pak Windu putra Danuar!" Dara berkata dengan tegas.
"Kak Win, tunggulah di sini sebentar " Dara tak menunggu Windu menjawab, dia menarik tangan Fuji, sebelum sempat Windu menyetujuinya.
Dengan menggandeng Fuji, Dara membawanya melintasi ruangan resto itu, setengah menyeret meski dengan sikap yang tak kentara, menghindari perhatian orang.
"Bu Dara..." Fuji tak bisa menolaknya karena cengkeraman di lengannya begitu menekan seperti sebuah isyarat, jika kamu berani macam-macam maka aku akan mempermalukanmu.
"Bruk!"
Dara mendorong Fuji ke arah pintu kamar Fuji yang berada tepat di sebelah kamar Windu dan Dara, di lantai dasar hotel dengan pelataran belakangnya adalah lantai itu.
"Buka pintunya!"
Fuji terpaksa menuruti, saat melihat dua orang bodyguard Dara berada di belakang Dara, entah kapan sudah mengambil posisi di sana. Dua orang itu seperti perangko yang menempel pada Dara, membuat Fuji benar-benar tak berkutik.
Dengan tangan bergetar dia menempelkan cardlock kamarnya, pintu itu terbuka.
"Masuklah!" Perintah Dara, tak pernah dia menjadi orang yang semurka ini, meski berusaha di bendungnya.
Dia hanya pernah merasa semarah ini adalah pada saat Windu menghinanya bertahun-tahun yang lewat diawal pernikahan mereka.
"Nyonya..." Seorang dari pengawal Dara tampak menahan Dara yang akan masuk, tetapi Dara mengangkat tangannya.
"Aku akan baik-baik saja."
"Tapi, Tuan Windu menyuruh kami..."
__ADS_1
"Tunggulah di luar, aku bisa menjaga diriku." Potong Dara, lalu membanting pintu itu dengan suara yang cukup keras.
"Bu Dara, aku bisa menjelaskan apa yang terjadi tadi malam, sebenarnya aku..."
"PLAK!!!"
Sebuah tamparan di layangkan Dara tepat pada pipi sebelah kiri Fuji yang berdiri di depannya, memotong kalimat yang keluar dari bibir perempuan muda itu.
"Akh..." Fuji yang terkejut, terjajar beberapa langkah hampir jatuh, dia memegang pipinya yang terasa seperti terbakar itu.
"Tamparan itu adalah pertanda bahwa kesabaranku sudah habis padamu!" Ujar Dara dengan wajah yang dingin. Lalu dengan perlahan dia mendekati Fuji yang masih memegang pipinya dengan biji mata yang sebesar kelereng seolah mau melompat dari rongganya.
"PLAK!!!"
Tamparan kedua singgah di pipi kanan Fuji dan ini lebih keras dari sebelumnya, sekarang Fuji benar-benar terjatuh di lantai kamar hotel, jemari Dara seperti sebuah lukisan di pipinya, membekas seperti sebuah cap.
"Dan tamparan kedua ini adalah sebuah peringatan bahwa berani mengganggu rumah tanggaku, aku tak akan tinggal diam!" Dara maju menghampiri Fuji yang meringis sambil memegang pipinya.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku telah bersikap baik padamu tadi malam, meski darahku mendidih melihat bagaimana dirimu berusaha menjebak suamiku dalam rayuan setanmu itu. Aku tadinya berfikir kamu mengerti posisimu dan menyesalinya," Dara menatap tajam pada Fuji, menusuk melewati bola mata yang nanar melihat padanya.
"Tapi berbicara denganmu ternyata lebih sulit dari yang kukira, bahkan kamu ternyata tak bisa mengerti bahasa manusia sehingga pagi ini tanpa rasa malu kamu tetap berani mengangkat wajahnu untuk melihatku. Orang sepertimu tak pantas di beri kesempatan!" Dara mengacungkan jari telunjuknya dengan geram di depan wajah Diah.
Dara tiba-tiba berjalan ke arah lemari tempat pakaian, dia menarik beberapa potongan pakaian Fuji yang ada di dalamnya.
"Kemasi barangmu sekarang! Aku menunggumu melakukannya, aku tak akan membiarkanmu berada di tempat ini lebih lama lagi." Dara menghempaskan dirinya di sebuah kursi dan menyilangkan kakinya. Tangannya juga bersilang di dadanya.
"Aku punya banyak waktu sepanjang hari ini untuk menunggumu pergi." Ucapnya dengan dagu terangkat.
__ADS_1
Fuji menegakkan badannya, sekarang dia mengumpulkan semua keberaniannya.
"Seorang istri tak selamanya bisa mempertahankan suaminya, karena tidak hanya aku yang mungkin punya keinginan untuk berada di posisi anda. Jadi aku akan mengingat tamparan ini, saat anda mengalaminya." Fuji mengambil baju-baju yang di hambur Dara, airmatanya keluar karena dadanya yang bergemuruh tapi dia tak berdaya melawan, karena memang dialah yang bersalah.
"Jangan bangga menjadi seorang pelakor, karena jika suami orang memilihmu bukan karena cinta, hanya sebagai pelampiasan syahwat saja. Kalaupun akhirnya terus bersama, itu hanya karena keterpaksaan pria yang sulit mengendalikan hawa nafsunya. Tapi untuk cinta, mungkin kamu harus mengemis sepanjang hidupmu dengan menjual harga dirimu menjadi pemuas nafsu saja bukan atas ketulusan cinta." Dara terkekeh dengan raut mengejek.
"Kalau seorang istri bisa mempertahankan suaminya, kenapa banyak perempuan yang di tinggalkan hanya demi perempuan lain? Hah?!"
Fuji menyela dengan penuh dendam sambil memasukkannya dengan sembarangan ke dalam kopernya. Dia merasa tidak hanya di hina oleh Dara tapi di rendahkan oleh Windu.
"Aku heran, mengapa kamu begitu menginginkan suamiku?" Wajah Dara sedikit melunak tapi terpicing penuh selidik.
Fuji tak menjawab, wajahnya memerah, sambil mengumpulkan barang-barangnya, dia tak mungkin mencari masalah lagi dengan Dara karena ada dua orang pengawal pribadi Dara di belakang pintu, dia akan di seret seoerti pesakitan jika berani menyentuh istri mantan bosnya itu.
"Aku tahu kamu hanya sekedar terobsesi, tetapi seharusnya kamu menghentikannya sebelum mempermalukan dirimu, Fuji. Entah itu suamiku atau suami orang lain, tak ada yang layak di rampas oleh siapapun. Seharusnya kecantikanmu tidak kamu kemas dengan kebodohan. Bahagia tak berarti sampai harus mengambil hak milik orang lain. Percayalah, akan ada orang yang lebih mencintaimu dan menghargai dirimu." Dara menghela nafasnya, sikap kerasnya itu sedikit menguap.
"Ingatlah satu hal, mengambil suami orang hanya akan ada penghinaan yang kamu terima dan kalau dia meresponmu berati kalian adalah pasangan yang salah. Pasangan yang kau rebut pun tidak akan pernah memandangmu sebagai wanita terhormat. Ia akan menjadikanmu wanita pelarian, tak ada cinta dari mengorbankan perasaan orang lain." Dara berdiri dari duduknya.
"Fuji, aku tidak sekeras ini pada orang jika bukan karena mempertahankan milikku. Apapun cerita sebenarnya, bagaimanapun kondisi maupun perasaanmu, seharusnya kamu lebih menghormati dirimu sendiri. Jangan terlalu berharap akan ada yang bersimpati padamu jika kamu terus-terusan berusaha mencuri kebahagiaan orang. Bersikukuh merebut seseorang dari pasangannya hanya akan menganugerahimu cap kotor, perebut pasangan orang, dan berbagai julukan mengerikan lainnya, Bukankah itu memalukan? Jika kamu tidak merasa malu, maka aku rasa kewarasanmu patut dipertanyakan."
Dara berdiri dan mengambil setumpuk map di atas meja yang berisikan materi pertemuan dan agenda Windu yang di pegang Fuji selaku asisten Windu.
"Aku akan mengurus suamiku selama di sini, jadi pergilah! Nanti aku akan memeriksa ke Lobby jika kamu belum check out pagi ini maka jangan heran jika aku akan berbuat yang lebih kejam lagi!" Dara melangkah ke arah pintu tanpa menoleh, dalam keadaan hamil emosinya benar-benar menggelegak jika dia tidak ingat untuk bersikap terhormat mungkin Fuji telah di jambak dan di seretnya. Bumil yang cemburu memang benar-benar berbahaya!
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...