Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 112. PEMERIKSAAN SERIUS


__ADS_3

"Hallo..." Dara mengangkat telpon, dokter Niko memanggil di layar susah dua kali, saat handphone Dara di tinggalkannya di atas meja ruang keluarga. Dia sibuk menyiapkan makan siang Windu, di hari kedua setelah kedatangan dokter Niko, keadaan Windu sedikit membaik. Hanya selera makannya belum pulih benar.


Pagi tadi Dokter Niko mengirimkan asisten pribadinya untuk mengambil sampel urine milik Windu untuk di bawa ke Lab. Gelagat dokter Niko sedikit banyak membuat Dara menjadi cemas lagi.


"Ya, ada apa, dok?"


"Bagaimana jika hari ini, Windu di bawa saja ke rumah sakit tempat saya praktek?"


"Apakah ada sesuatu?"


"Bukan begitu, hanya saja aku rasa Windu memang harus menjalani pemeriksaan lengkap. Jangan kamy perdulikan keengganannya untuk ke dokter. Windu memang sangat manja dari dulu dengan mamanya, dia juga sedikit trauma dengan sakit yang di derita mamanya, sehingga berusaha menyembunyikan sakitnya selama ini di depan orang lain. Meskipun dia bukan anak kecil lagi, tapi seperti itulah Windu." Dokter Niko tampak aneh saat menyampaikan kalimat itu.


"Dok..." Suara Dara sedikit tertahan. Diliriknya suster pengasuh Sunny, sang bayi itu sedang tertidur pulas dalam box bayi yang ada di ruang keluarga, memang menjadi salah satu tempat Sunny bermain setelah mandi atau menyusu, menunggu dia terlelap.


Dara memberi isyarat pada suster pengasuh untuk menjaga Sunny sementara dia pindah teras samping, mencari tempat untuk berbicara.


"Apakah suami saya baik-baik saja?" Dara bertanya kemudian, suaranya sedikit bergetar.


"Oh, sepertinya Windu memang harus di periksa lengkap."


"Dokter, saya tahu, ada sesuatu yang belum di sampaikan oleh dokter tentang suami saya. Dari hasil pemeriksaan urine yang diminta dokter, apakah ada sesuatu?"


"Nak Dara..."


"Dok...saya percaya dokter Niko bisa menjelaskan sesuatu padaku, setidaknya, mengurangi penasaranku."

__ADS_1


Suara helaan nafas Dokter Niko membuat Dara semakin tegang.


"Aku baru saja memeriksa kembali riwayat kesehatan Windu dari masa kecilnya." Dokter Niko berbicara dengan suara yang di buat tenang.


"Bawalah Windu ke rumah sakit Si****, aku menunggu di sini. Tadi juga sudah berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam terkait hasil labnya. Untuk hal yang lain, bisa kita bicarakan di sini. Tidak usah terlalu kuatir. Kita hanya ingin Windu cepat sembuh kembali. Meremehkan segala sesuatu juga tidak baik." Dokter Niko, adalah sahabat baik mama Windu dan papa Windu, mereka sudah mengenal lama bahkan dari Windu masih kanak-kanak. Kadang, dia tidak berbicara sebagai dokter saja tetapi juga sebagai orang tua.


"Baiklah..." Dara menyahut, dia tak akan mendesak dokter Niko untuk menjawabnya lagi. Tapi dia percaya pada dokter Niko, Windu memang tidak bisa dibiarkan dengan keras kepalanya yang menolak di bawa ke rumah sakit.


...***...


Dara duduk di depan dokter Niko, sementara Windu ternyata di sarankan untuk di rawat inap sementara di rencanakan persiapan untuk pencitraan CT urogram pada keesokan harinya.


Dara berhasil membujuk papi Sunny yang keras kepala ini ke rumah sakit setelah Papa Windu turun tangan berbicara padanya.


"Win, papa hanya punya kamu dan Dara, jangan membuat papa kuatir padamu. Dokter Niko sudah mengatakan, pengobatanmu mungkin perlu sedikit intesif." Ujar Papa dengan pias yang tak bisa berbohong jika, laki-laki berumur itu tampak cemas.


"Jangan membantah papa! Dokter Niko memintaku untuk melakukan pemeriksaan CT urogram, kamu kira dokter Niko sedang main-main denganmu?" Wajah papa memerah.


Dara mendengar hal itu segera memanggil Fitri untuk menyiapkan koper dan beberapa potong pakaian.


"Aku akan mengantar Kak Win ke rumah sakit." Dara hanya berbicara sedikit, dia sudah tak ingin berdebat. Yang ada di kepalanya adalah menemui dokter Niko. Dia tahu ada sebuah rahasia yang diketahui oleh dokter Niko tentang Windu tetapi dia belum mengatakan apapun pada Dara.


"Semua tidak seserius yang papa fikirkan. Dara yang terlalu berlebihan."


"Istrimu tidak berlebihan! Dia melakukan hal yang benar. Sebagai istrinya sudah sepantasnya dia mbawamu ke rumah sakit, bahkan jika perlu menyeretmu! Jangan menjadi keras kepala, sebagai orang yang dewasa kamu benar-benar bersikap kekanakan. Pergilah ke dokter Niko, ikuti saja setiap nasihatnya. Dia tentu lebih tahu apa yang seharusnya di lakukan." Papa Windu berbalik, sementara Windu memegang bagian perutnya sedikit meringis. Nyeri yang disembunyikannya selama ini datang lagi.

__ADS_1


"Dara, kabari papa perkembangannya, papa akan ke rumah sakit jika perlu."


Dara menganggukkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja, pa." Windu menggigit bibirnya. Dan Windu tak akan bisa membantah lagi jika sang papa sudah tak mau mendengarnya lagi. Itu tandanya, pendapat Windu bukan hal penting lagi baginya.


"Ada apa dengan suamiku, dok?" Dara duduk tegak di depan Dokter Niko seolah siap mendengar apapun meski sebenarnya dia sedang tegang. luar biasa. Windu berada di ruang VVIP, ditinggalkannya sejenak untuk menemui dokter Niko.


"Dara, sebenarnya aku belum bisa mengatakan apapun padamu, karena ini hanya kecurigaan saja, tetapi banyak kemungkinan bisa terjadi. Aku mencurigai gejala yang dirasakan Windu mungkin sudah berlangsung cukup lama belakangan ini, tetapi sepertinya ini bukan sekedar infeksi saluran ureter biasa." Dokter Niko menghela nafasnya sejenak.


"Apakah parah, dok? suami saya tidak terlihat parah...dia tidak apa-apa..." Dara menyahut dengan gemetar.


"Menurut Dokter spesialis yang menanganinya, ada kehadiran refluks urine dari kandung kemih ke ureter, yang dapat menyebabkan peningkatan risiko infeksi saluran kemih serta jaringan parut di ginjal. Ini disebut sebagai VUR (vesicoureteral reflux). Hal ini sepertinya berhubungan dengan fungsi ginjalnya."


Dara menatap Dokter Niko tak berkedip.


"Kita melakukan serangkaian tes tadi, termasuk tes darah dan urine untuk melihat tingkat kreatinin, dan estimasi GFR.


Besok mungkin akan dilakukan pemindaian aliran ginjal untuk mengkonfirmasi obstruksi dan CT Urogram tentu saja untuk melihat keakuratannya. Tetapi, jangan takut...ini belum pasti. Hanya papamu menyetujui pemeriksaan menyeluruh di lakukan untuk Windu."



(Jangan kuatir Reder, penyakit ini untuk membuktikan seberapa besar dan setia Dara pada suaminya, sebesar apa akhirnya Windu terikat sampai seumur hidup pada Dara, istrinya🙏☺️)


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...

__ADS_1


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2