Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
PART. 12


__ADS_3

Tiba di rumahnya, Bradd langsung memberitahu Teresa, kalau nanti malam akan kedatangan tamu istimewa. Bradd meminta Teresa untuk menyiapkan makan malam untuk mereka. Setelah itu Bradd menemui Jenny di kamar tidur.


Berulangkali Bradd mengetuk pintu, dan memanggil, tapi tidak ada respon dari dalam kamar Jenny.


Bradd mencoba memutar handel pintu, dan ternyata tidak terkunci. Bradd melongok ke dalam kamar, di atas ranjang tampak Jenny berbaring dengan telinga tertutup headseat. Kedua kakinya di naikan, dan menjejak dinding kamar. Jemari tangannya menjentik-jentik seakan tengah mengikuti irama lagu.


Celana pendek berwarna kuning yang ia pakai, terlihat mempertontonkan kedua kaki, dan pahanya yang mulus. Bradd menghembuskan napas, melihat tingkah putrinya. Perlahan Bradd mendekat, dicopotnya headseat di kedua telinga Jenny, membuat Jenny terlonjak bangun, karena rasa kaget luar biasa.


"Daddy!" Jenny terlongo sejenak, saat tahu itu perbuatan daddynya. Lalu ia berusaha merebut headsetnya kembali dari tangan Bradd. Tapi, Bradd mengacungkan headset itu setinggi jangkauan tangannya.


"Daddy!" Jenny yang berdiri di atas ranjang tentu saja bisa menggapai headseat di tangan Bradd.


Namun saat tangan Jenny menyentuh headset di tangan Bradd, Bradd bergerak mundur, Jenny ingin melompat satu langkah di atas ranjang, agar kembali bisa meraih headsetnya. Tapi kaki Jenny lepas dari pijakannya, kaki Jenny menyentuh tepi ranjang, dan hal itu membuat Jenny jatuh terjerambab, tepat ke arah Bradd. Bradd yang tidak siap menerima beban tubuh Jenny, jatuh terjengkang ke belakang, punggungnya mendarat di atas lantai kamar, yang untungnya beralaskan karpet tebal. Namun tidak urung, wajah Bradd meringis juga, karena merasakan sakit di bagian belakang tubuhnya.


Parahnya lagi, sudah jatuh, tubuh Bradd ditimpa tubuh Jenny pula. Sesaat, tidak ada satupun dari mereka yang bergerak. Jenny memejamkan matanya, membiarkan telinganya menganalisa degup jantung Bradd, yang terdengar berpacu cepat. Sama cepat, dengan degup jantungnya sendiri. Bradd masih terdiam, dengan kedua tangan mengembang di kedua sisi tubuhnya. Headseat, masih dipegang oleh salah satu tangannya.


Bradd tidak mampu bergerak, ia bahkan berusaha menahan napasnya. Tidak bisa ia pungkiri, tekanan gunung kembar milik Jenny, membuat perasaannya bergetar liar. Perasaan yang sebenarnya kerap datang akhir-akhir ini, namun berusaha ia halau pergi.


'Bradd, dia putrimu, singkirkan perasaan yang tidak pantas untuk kamu miliki!'


"Daddy," panggil Jenny, tanpa merubah posisi tubuhnya, yang tengkurap di atas tubuh besar Bradd.


"Ehmm," Bradd menjawab dengan gumaman. Jenny diam, matanya masih terpejam, tangannya juga masih ia biarkan jatuh di kedua sisi tubuh Bradd.


"Waktu kecil, aku sering tidur di atas tubuh Daddy, seperti ini, aku benarkan, Daddy?"


"Hmmm," Bradd kembali menjawab dengan menggumam.

__ADS_1


"Daddy, bolehkah setiap malam, aku tidur seperti ini?"


Bradd cukup bingung dengan pertanyaan putrinya. Ia tidak mengerti kenapa Jenny menanyakan hal seperti ini.


"Jenny, kamu bukan gadis kecil lagi.... "


"Tapi, bukankah aku masih sama, masih tetap putri Daddy juga. Apa aku tidak boleh lagi bermanja seperti ini?" Jenny mengangkat kepalanya, ia berusaha menatap wajah Bradd, dan hal itu membuat dada Jenny semakin menekan tubuh Bradd.


"Tentu saja kamu masih putri Daddy, Jenny. Tapi kamu bukan gadis kecil lagi, tubuhmu terlalu berat untuk Daddy, Daddy bisa susah bernapas, kalau kamu terlalu lama begini."


"Aku rasa, tubuhku pasti lebih kecil dari wanita yang Daddy tiduri. Aku pikir, pasti wanita itu juga suka berbaring seperti ini di atas tubuh Daddy." Nada suara Jenny terdengar bagai tengah merajuk.


"Hhhhh, jangan memikirkan hal seperti itu, ayo turun dari atas badan Daddy! Kita akan kedatangan tamu penting untuk makan malam bersama kita di sini." Bradd menepuk pinggul Jenny pelan.


"Tepukan Daddy, membuat aku mengantuk." Bukannya bangun, Jenny justru kembali menempelkan kepala di dada Bradd. Ia memejamkan matanya, kesempatan seperti ini sangat sulit terjadi kini. Dan, Jenny sadar ia bukan anak kecil lagi, yang ingin di manja seperti dulu, tapi ia ingin dimanja sebagai Jenny, gadis yang beranjak dewasa, yang mulai merasakan cinta yang berbeda, pada ayah angkatnya.


"Dulu, saat aku kecil, aku sering dimandikan Daddy, kenapa sekarang tidak pernah lagi, Daddy?"


"Ya Tuhan, Jenny pertanyaan macam apa itu. Kamu sudah beranjak dewasa, tidak mungkin lagi aku membantumu mandikan? Owhhh ini mungkin efek dari seringnya kamu menonton film dewasa, iyakan!?"


Jenny terlompat duduk, matanya menyipit menatap Bradd. Sedang Bradd meringis, karena Jenny duduk tepat di bawah perutnya


"Daddy tahu darimana?"


"Tahu saja, ayolah turun dari atas tubuh Daddy, kita harus bersiap untuk menyambut tamu." Bradd bangun dari berbaring. Jenny masih diposisinya, hal itu membuat jarak mereka sangat dekat.


Mata Jenny menatap wajah Bradd dengan lekat. Bradd berusaha mengabaikan tatapan Jenny. Tapi, ia tersenyum untuk putrinya. Ditepuk kedua pipi Jenny dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Ayo mandi, jangan membuat malu Daddy di depan tamu kita."


Mata Jenny masih lekat menatap wajah Bradd, tatapannya tertuju ke bibir daddynya itu. Fantasi liarnya akan ciuman penuh gelora bermain di benaknya.


"Jenny, apa lagi? Ayo cepat mandi!" Bradd mengangkat Jenny di bagian ketiak, ia pindahkan tubuh Jenny ke atas lantai. Bradd bangkit dari duduknya.


"Daddy juga harus mandi, ingat jangan menbuat tamu kita menunggu, paham Jenny!?"


Kepala Jenny mendongak, menatap Bradd yang berdiri tegak di hadapannya.


"Siapa tamunya, Daddy?"


"Nanti juga kamu akan tahu, cepatlah mandi ya"


"Siap Daddy," kepala Jenny mengangguk.


"Daddy mandi dulu ya" Bradd menuju pintu.


"Daddy," panggilan Jenny membuat Bradd menolehkan kepala.


Jenny tersenyum, "i love you, Daddy" ucapnya.


"Daddy juga mencintaimu, Sayang" jawab Bradd, lalu ia meneruskan niatnya untuk membuka pintu, dan ke luar dari dalam kamar Jenny. Meninggalkan Jenny yang memegang dadanya, merasakan getaran perasaannya. Getaran yang sudah lama ia rasa, namun ia bingung cara untuk mengungkapkannya.


"Ehmmn, i love you, daddy."


Jenny menekuk kedua kakinya, ia peluk kedua kakinya, bibirnya tersenyum, saat imajinasi liar mulai menuntun pikirannya, pada nikmatnya bercinta dengan Bradd.

__ADS_1


🌼🌼🍍🌼🌼


__ADS_2