Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 181


__ADS_3

Happy reading


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Langit mulai menggelap, angin sore bertiup dingin di area pemakaman. Reyhan berdiri di depan batu nisan, memegang keranjang bunga. Dia menatap batu nisan itu, lalu duduk di atasnya.


"Pa, aku datang mengunjungimu," ujarnya.


"Seperti biasa, aku akan datang ke sini jika aku merindukan putrimu." Dia menghela napas berat, "hari ini, aku seperti melihatnya di mall. Dia masih tetap cantik seperti dulu." Reyhan terkekeh pelan, tetapi di detik berikutnya wajahnya kembali muram.


"Entah itu memang dia, entah halusinasiku saja karena aku sangat merindukannya." Reyhan melepas kacamatanya lalu menyusut sudut matanya yang kini berair.


"Jika saja aku bisa memutar waktu, mungkin aku tidak akan meninggalkannya hari itu. Aku tidak akan memberi kesempatan pria lain untuk merayunya dan membawanya pergi dari hidupku."


"Hm, bukankah seharusnya aku membencinya?" Reyhan tersenyum kecut, "tidak Pa, aku tidak bisa membencinya. Rasa cintaku yang berlebihan mengalahkan rasa benci dan marahku padanya." Reyhan mengusap wajahnya, dan mengambil keranjang bunga yang dia bawa tadi. Dia berniat menaburkan bunga di atas nisan itu. Namun, saat hendak menabur bunga, dia baru menyadari sudah ada taburan bunga di atas nisan mertuanya itu. Bunga yang masih segar, pertanda baru saja ada yang datang mengunjungi nisan mertuanya.


Reyhan tersentak. "Jangan bilang kalau putrimu yang tadi ke sini mengunjungimu." Dia lekas berdiri dan memutar tubuhnya. Mengarahkan pandangannya ke segala arah. Namun, tidak terlihat siapa pun di sana, hanya hamparan luas batu-batu nisan yang telah menghijau karena ditumbuhi rerumputan.


Reyhan segera meraih ponsel dari saku jasnya sembari berlari menuju parkiran mobil, berharap Diana masih berada di sana.


"Jo, kau periksa di sana apa ada tanda-tanda keberadaan Diana."


"Maksud Tuan, Nona Diana? Memangnya ada apa, Tuan?"


"Ya, kau periksa saja! Nanti aku jelaskan." Memasukkan kembali ponselnya dan segera menuju tempat Jonathan.


"Bagaimana?" tanyanya pada Jonathan saat sudah sampai di sana.


Jonathan menggeleng. "Maaf Tuan, saya tidak menemukan nona," jawabnya tersengal. Usia yang sudah tidak muda lagi membuat staminanya tidak sekuat dulu.


Reyhan terlihat kecewa. "Sudahlah, kita pulang saja. Mungkin itu memang bukan dia."


Jonathan membukakan pintu untuknya, lalu dia menuju kursi kemudi setelah menutup pintu untuk Reyhan.


"Jika Tuan memang menginginkan nona kembali, kenapa tidak memberi saya perintah untuk mencari nona dan membawanya pulang ke rumah, Tuan?" ujar Jonathan sembari fokus menyetir.


Reyhan nampak gusar. "Aku hanya ingin melihatnya saja. Aku tidak mau memaksakan keinginanku lagi padanya." Dia menghela napas berat. "Aku hanya ingin dia pulang ke rumah atas kemauannya sendiri bukan paksaan dari siapa pun."


"Apa benar di sini tempatnya?" Reyhan yang masih berada di dalam mobilnya memperhatikan restoran dua lantai yang letaknya bersebrangan dengan pantai.


"Sepertinya benar Tuan, ini sudah sesuai dengan titik lokasinya." Jonathan mencocokkan lagi dengan alamat yang dikirimkan ke ponselnya.

__ADS_1


"Kita langsung masuk apa saya hubungi dulu Tuan Hartadi untuk mengecek kebenarannya, Tuan?"


"Tunggu!" Reyhan memajukan badannya, "kau lihat di sana." Menunjuk wanita dan pria yang baru keluar dari restoran itu.


"Bukankah, itu Tuan Bayu dengan noβ€”na, Tuan?" Jonathan menjawab ragu. Apalagi melihat ekspresi Reyhan, wajah Reyhan seketika berubah merah padam.


Mereka dengan jelas melihat Diana yang tersenyum lebar saat keluar bersama Bayu dari restoran itu. Bayu masuk ke dalam mobil, sedangkan Diana yang masih di luar membungkukkan badan dan mencondongkan sedikit kepalanya lewat jendela di pintu kemudi sebentar. Setelah itu, melambai begitu mobil Bayu meninggalkannya dan dia masuk kembali ke dalam restoran.


Reyhan mengepalkan tangannya geram. "Jadi, di sini selama ini dia bersembunyi," desisnya.


"Apa Tuan ingin saya menemui nona dan membawanya pada, Tuan?"


"Tidak Jo, aku tidak sudi menerima barang bekas," sarkas Reyhan.


Jonathan tersentak. *A*pa yang akan terjadi jika tuan tahu tentang Laura dan Rangga? batinnya.


"Lalu, apa Tuan ingin membatalkan undangan makan siangnya?"


"Tidak Jo, justru aku semakin bersemangat untuk acara makan siang ini." Reyhan tersenyum dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Diana yang sedang duduk di depan layar komputernya, merasa cemas saat salah seorang karyawannya mengetuk pintu ruangannya dan memberi kabar kalau ada seorang pelanggan yang ingin bertemu dengannya. Namun, begitu diberitahu kalau pelanggan itu adalah Tuan dan Nyonya Hartadi seketika wajahnya berubah ceria kembali. Mereka adalah orang terpandang di kota itu dan sudah menjadi langganan di restorannya.


Diana bergegas menuju ruangan yang ditunjukkan karyawannya tadi. Bibirnya tidak berhenti tersenyum mengingat pujian yang akan dia terima kembali dari pasangan itu. Ya, Tuan dan Nyonya Hartadi kerap memuji hasil masakan dari koki restorannya.


Namun, semua tidak seperti yang Diana bayangkan. Senyumnya lenyap ketika dia sudah sampai di depan pintu ruangan tamunya. Matanya sempat beradu dengan mata Jonathan dan dia sangat yakin pria yang kini duduk membelakanginya adalah ....


"Nah, akhirnya yang ditunggu datang juga." Nyonya Hartadi berdiri dan tersenyum ke arah Diana.


"Kemarilah, Tuan Reyhan ingin bertemu denganmu."


Degh!


Diana terpaku untuk beberapa saat. Dia merasa kakinya gemetaran, tetapi perlahan dia berusaha mendekat ke arah mereka. Udara di sekitarnya terasa mencekiknya kini, apalagi begitu nama Reyhan disebut, tubuhnya langsung menegang. Bibirnya terasa kaku bahkan untuk menggerakkan bola matanya rasanya sangat susah.


"Oh, siapa namanya?" Reyhan memutar tubuhnya ke arah Diana.


Suara berat Reyhan membuat kerinduan di hati Diana meluap, dia benar-benar merindukan pria ini. Sangat merindukannya. Namun, apakah Reyhan sudah tidak mengenalinya? Pria ini bertanya siapa namanya tadi. Ya, mungkin pria ini sudah melupakannya. 20 tahun bukan waktu yang singkat, apalagi fisik mereka sudah banyak yang berubah.


Akan tetapi, meski sudah selama itu, Diana masih bisa mengenali Reyhan. Memang wajahnya sudah nampak sedikit kerutan dan rambut yang sudah mulai memutih, tetapi Diana tetap mengenalinya.


"Namanya Diana, Tuan." Tuan Hartadi menjawab, "betulkan Nyonya Diana?" Melirik Diana untuk mencari pembenaran.

__ADS_1


"Iβ€”iya Tuan," jawab Diana gugup. Matanya kini beradu dengan mata elang milik Reyhan. Mata paling tajam di dunia ini, menurut Diana. Mata yang paling dia rindukan sekaligus dia takuti.


Beberapa detik berlalu, menciptakan keheningan di ruang itu. Reyhan masih menatap tajam ke arah Diana, sedangkan Diana kini sudah menunduk, dia tidak kuasa menahan perasaannya jika harus terus menatap mata Reyhan. Sementara Jonathan sudah berdiri, berjaga-jaga jika Reyhan tidak bisa menguasai emosinya dan berbuat sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri.


"Diana?" Akhirnya Reyhan bersuara lagi, "nama itu mengingatkanku akan seseorang." Sudut bibirnya tersungging sebelah.


"Benarkah? Kalau boleh kami tahu siapa, Tuan? Apakah seseorang yang istimewa?" goda Tuan Hartadi.


"Bukan!" jawab Reyhan cepat, "dia cuma sampah!" sarkasnya.


"Uh! Kenangan buruk rupanya," cicit Nyonya Hartadi.


Diana sontak mengangkat wajahnya, matanya kini bertemu lagi dengan mata Reyhan. Diana hampir menangis, melihat orang yang sangat dia rindukan itu kini menatapnya dengan penuh kebencian. Jika saja dia boleh egois, dia ingin mengatakan yang sejujurnya pada Reyhan.


Mungkinkah jika mengetahui yang sebenarnya, pria ini akan memaafkannya dan memeluknya sekarang?


Reyhan bangkit, berjalan mendekati Diana, kedua tangannya sudah dimasukkan ke dalam saku celana, kebiasaan Reyhan yang tidak pernah berubah dari dulu. Dia menyeringai memandang Diana dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Siapa tadi namamu?"


"Diana, Tuan." Menggigit bibir bawahnya kelu. Ya, Tuhan! Harusnya Diana memeluk Reyhan sekarang dan mengatakan dia sangat merindukannya. Amat sangat merindukannya.


"Ah, ya itu. Maaf, aku tidak sanggup mengucapkannya."


Segitu bencikah kamu sampai tidak mau menyebut namaku?


"Namamu mengingatkanku pada sampah itu!" tatap Reyhan sinis, "oya, ngomong-ngomong, jika aku memberimu restoran yang jauh lebih besar dari ini, apa kau bersedia meninggalkan suamimu demi aku?"


Semua orang yang ada di ruangan itu terlihat kaget dengan ucapan Reyhan barusan, terutama Diana. Diana mengernyitkan, mencoba memahami maksud Reyhan.


"Ciihh! Hahahaaa." Reyhan tertawa sendiri. Tawa yang membuat mereka yang berada di ruangan itu bergidik ngeri.


"Maaf Nyonya Di ... emm ... aku hanya bercanda," ujarnya tanpa rasa bersalah, "aku bukan tipe pria penyuka barang bekas."


Ucapan Reyhan begitu pedas, begitu menyakitkan. Diana bagai ditusuk berkali-kali mendengar kata demi kata yang diucapkan Reyhan untuknya. Dia sudah tidak sanggup jika harus mendengar lebih banyak lagi kata-kata keji yang keluar dari bibir Reyhan. Air matanya pun sudah menggenang di pelupuk matanya. Jika dia berada lebih lama lagi, mungkin semua orang di sana akan melihat dia menangis.


"Maaf Tuan dan Nyonya jika sudah selesai saya permisi. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Terima kasih atas kedatangan Anda semua ke restoran saya."


Diana bergegas meninggalkan ruangan itu tanpa mendengar jawaban dari mereka. Dia berlari sembari menangis, tidak perduli jika kini para tamu dan karyawannya sedang memperhatikannya. Dadanya bergemuruh hebat. Ucapan Reyhan bagaikan ombak di lautan yang datang tiba-tiba menerjangnya lalu menghempaskannya kembali ke batu karang. Sakit. Itu yang dia rasakan sekarang. Bagaimana bisa pria yang sangat dia cintai dan rindukan mengatakan hal sekeji itu padanya. Mengatainya sampah, barang bekas, kata-kata itu benar-benar melukai hati Diana.


😒😒😒😒😒

__ADS_1


Satu kata untuk Reyhan dan Diana dongπŸ₯Ί


__ADS_2