Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 113 AKU AKAN MENJAGAMU


__ADS_3

"Sayang, aku tidak mau kita terlalu lama di sini." Windu tampak kesal melihat kepada Dara, dia tak senang selang infus yang menganggu gerakannya.


"Kita akan melakukan pemeriksaan besok." Dara memalingkan wajahnya, dia baru saja tiba setelah pulang sebentar, memerah ASI untuk Sunny dan meninggalkan bayinya itu bersama dengan suster pengasuhnya di bawah pengawasan Mbak Parmi.


Dia juga mengambilkan beberapa perlengkapan termasuk baju ganti Windu yang di anggap perlu.


Dara membawa makanan kesukaan Windu, sebelum tepat tengah malam suaminya itu harus berpuasa.


"Kenapa aku diperlakukan seperti orang sekarat. Aku hanya tidak enak badan tetapi harus menginap begini. Kasihan Sunny harus tinggal di rumah sendiri." Windu masih mengoceh.


"Papi Sunny sayang, bisakah tidak memikirkan yang lain dulu selain kesehatanmu?" Dara menepuk-nepuk sofa bed tempatnya tidur malam ini sambil menjaga sang suami. Papa Windu baru saja pulang bersama sopir mereka, Belum terlalu malam untuk tidur.


"Kamu mau ku buatkan minuman hangat, atau mungkin makan sesuatu?" Tanya Dara, dia benar-benar menghindari kontak mata dengan Windu.


Pembicaraannya dengan Dokter spesialis yang menangani Windu tadi sore sedikit mengganggunya, tak pernah dia se khawatir ini pada suaminya itu.


"Aku tidak ingin makan apa-apa sekarang, aku hanya tidak suka dengan situasi ini."


"Tidak ada yang suka jika kita sedang dalam keadaan sakit." Dara menyela.


"Aku tidak apa-apa sayang, aku benar-benar tak nyaman telah membuatmu cemas begitu."


"Sebaiknya, kamu tidak usah memikirkan oran lain. Fikirkan untuk supaya besok semua periksaan lancar, dan semua baik-baik saja" Dara mendekati tempat tidur Windu, memeriksa botol infus yang madih setengah isinya itu.


"Kemarilah..." Windu menarik Dara, hingga istrinya itu hampir tertelungkup di atas dadanya.


"Aku melihat kamu begitu tegang, sampai-sampai wajahmu kaku begitu. Sebenarnya ada apa? Dokter mengatakan apa padamu?"


Dara terdiam sesaat, lalu menggelengkan kepalanya sambil berusaha tersenyum.


"Dokter tak mengatakan apa-apa, beliau cuma bilang, kamu hanya perlu diperiksa lengkap. Supaya kamu cepat di beri obat dan tindakan yang tepat."

__ADS_1


"Tapi, wajahmu tak biasanya..."


"Aku hanya kefikiran Sunny." Jawaban Dara sepertinya hanya untuk pengalihan dari perasaannya sendiri.


"Kamu boleh pulang jika kamu cemas pada anak kita. Aku baik-baik saja kok di sini."


"Tapi aku ingin tetap di sini, aku nau menemanimu."


Windu menarik tubuh istrinya itu ke pelukannya, di elusnya lembut kepala Dara.


"Aku baik-baik saja sayang...tidak perlu kuatir, hanya mungkin aku sedikit membutuhkan istirahat. "


Dara hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap memeluk tubuh suaminya yang terbaring.


Tak pernah Dara secemas ini kepada suaminya itu.


"Aku akan menjagamu." Bisik Dara dengan suara parau.


Windu sudah kebali ke ruangan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan. Dara pun sudah menyempatkan untuk menemani Windu makan siang bersama. Meskipun makan siang itu sudah sedikit kesorean. Entah pengaruh obat atau mungkin kelelahan, Windu akhirnya tertidur juga.


Baru saja Dara akan duduk dan menelpon ke rumah, seorang perawat memanggil Dara untuk datang ke ruangan dokter Niko.


Setelah beberapa jam berlalu, entah mengapa Dara menjadi gugup luar biasa.


"Duduklah..." Wajah dokter Niko terlihat tenang tapi Dara tak yakin dengan ketenangan wajah dokter Niko.


Dara duduk dengan dada yang berdegup, menatap lurus pada dokter yang telah menjadi sahabat lama keluarga Danuar ini.


"Bagaimana dengan hasil pemeriksaan suami saya?" Tanya Dara mendahului, sedikit tidak sabar.


Dokter Niko tidak langsung menjawab, dia seperti sedikit berhati-hati, sementara tangannya memegang map besar di tangannya.

__ADS_1


"Dara...banyak hal yang mungkin tidak sesuai dengan harapan kita tetapi tetap saja segala sesuatu akan ada jalan keluarnya."


Dokter Niko seolah tidak sedang berbicara sebagai seorang dokter, lebih kepada posisinya sebagai sahabat dari keluarga Danuar.


"Dari hasil pemindaian hari ini, sepertinya memang ginjal Windu bermasalah."


"Bermasalah?" Dara duduk denfan tegang.


"Aku tidak bisa menyampaikan secara detail tentang hasil citra pada pemeriksaan, karena itu ranahnya dokter Frans sebagai dokter spesialis ginjal yang menangani Windu. Hal ini nanti bisa di sampaikan oleh dokter Frans. Tapi...aku sebagai dokter keluarga, merasa perlu untuk bertemu denganmu lebih dulu."


Dokter Niko menatap tajam pada Dara yang tak berkedip menatap dokter itu.


"Kita belum tahu lebih dalam dan jelas perihal penyakit yang di derita Windu ini, tetapi apapun itu nantinya, aku harap sebagai istri dan satu-satunya orang yang terdekat dengan Windu selain ayahnya dan aku yakin adalah yang paling kuat dan bijak menghadapi masalah ini. Aku berharap sekali, kamu menjadi kekuatan bagi mereka untuk tetap optimis. Karena Pak Danuar tak bisa bertahan jika terjadi sesuatu pada anaknya itu."


Dara mendengarkan dengan seksama tanpa menyela meskipun matanya tiba-tiba terasa perih, dia tak pernah menerima begitu panjang nasehat sebelum mendengar hasil analisa penyakit.


"Apakah ini benar-benar serius, dok?" Tanya Dara dengan bibir gemetar.


"Aku akan mengantarmu menemui dokter Frans, untuk mendengarnya lebih jelas." Dokter paruh baya berpenampilan sederhana itu berdiri dari duduknya.


"Ikutlah denganku." Dokter Niko berjalan, di ikuti Dara yang segera berdiri dan mengikuti menuju pintu,


"Berjanjilah padaku...untuk tetap tenang dengan apapun yang kamu dengar, kita akan tetap mencarikan jalan terbaik untuk Windu." Dokter Niko berucap sembari membuka pintu ruangannya, dia akan membawa Dara pada Dokter Frans, spesialis ginjal.


Dara tak berbicara tapi isi kepalanya mendadak menjadi kosong, dia tak bisa berfikir apa-apa.



...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...

__ADS_1


__ADS_2