Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 34


__ADS_3

Mobil yang membawa Nadia dan kekuarganya, berhenti di depan sebuah mall besar.


Rosti dan bu Warsih tak henti-hentinya berdecak kagum.


"Waah baru kali ini iBu melihat mall. Ternyata besar dan ramai ya?" ucap bu Warsih sambil terus memngagumi barang- barang mahal yang terpajang di sana.


"Kalian boleh membeli baju, tapi jangan yang mahal- mahal ya."


"Kamu bayarin ya Nad!" ucap bu Warsih memohon. Nadia hanya mengangguk.


Nadia dan Toni duduk menunggu bu Warsih dan Rosti yang masih memilih barang yang akan di belinya.


Karna keasyikan berbelanja, Bu Warsih dan Rosti tersesat. Ia lupa dimana tadi Nadia menunggunya.


"Bagaimana ini? gara-gara kau, kesialan jadi mengikutiku." bu Warsih menghardik menantunya.


"Maaf Bu," Rosti memegang kedua telinganya.


"Kamu tlpon Toni, bilang kita tidak tau jalan ketempatnya!" perintahnya.


Berkali-kali Rosti menelpon suaminya, tapi karna suasana yang ramai dan bising, membuat Toni tidakmenysdari kalau ponselnya berdering.


bu Warsih dan Rosti kebingungan.


Sedangkan Nadia mulai gelisah karna Ibu dan adik iparnya yak jua nampak.


"Kemana saja mereka" ucpp Nadia mulai tak sabar.


"Coba kamu telpon istrimu itu Ton!"


"Tidak di angkat mbak, dasar udik! dia pasti masih asik memilih barang,hingga tidak mendengar panggilanku." Toni mulai emosi.


"Bagaimana ini Ton, mbak takut mas Pras sudah sampai duluan. Dan dia tau kalau kita semua pergi jalan-jalan." sesal Nadia. Nadia dan adiknya mulai berpencar mencari bu Warsih dan Rosti.


"Apa keluarga Ibu tadinya disini? Mungkin mereka justru sedang mencari kalian." kata seorang security yang menolong bu Warsih.


"Kalian tunggu saja disini, mereka pasti balik kok" terang securiti itu.


Benar saja. Tak berapa lama Nadia dan Toni datang ketempat itu.


"Kalian kemana saja?" tanya Toni dengan suara keras.


Rosti yang ketakutan, bersembunyi di balik badan Nadia.


Saat itu seorang pramuniaga mendekati bu Warsih.


"Mohon maaf ibu, di mohon membayar barang-barangnya di kasir." ucap seorang perempuan cantik.


Bu Warsih melirik kearah Nadia.


"Dimana mbak?" tanya Nadia sopan.


"Di kasir Ibu.. Mari!" Nadia terhenyak di tempampatnya berdiri.


Barang bu Warsih dan Rosti totalnya enam juta lima ratus.


"Pakai uang cah atau kredit card?


Pertanyaan kasir menyadarkan lamunanya.


" Pakai kartu saja Mbak." Nadia berusaha menguasai dirinya.

__ADS_1


"Awas kalian! Untng di sini rame, kalau tidaak habis kalian!" sungutnya dalam hati.


Sepanjang perjalanan pulang Nadia hanya diam saja. Membuat bu Warsih gelisah.


"Maafkan kami Nad, ibu yang salah. Ibu tidak kira- kira saat belanja." ucapnya penuh penyesalan.


"Apa yang akan ku katakan pada mas Pras nanti?" bathin Nadia gundah.


Benar seperti dugaanya.


Mobil Pras sudah nongkrong di garasi.


Dengan hati was-was, Nadia melangkah masuk.


Di lihatnya Pras sedang menonton tv sambil minum secangkir kopi.


"Mas, kapan pulangnya?" tanya Nadia gugup.


"Baru saja. Anak-anak sangat puas bermain hari ini tanpa ibunya." sindir Pras.


Nadia menelan ludahnya dengan susah payah.


"Maaf.. " hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.


"Apalagi kalau mas Pras tau belanjaan ibu sampai segitu. Bisa semakin marah dia." bathin Nadia.


Pagi harinya...


"Mar, mana kopi saya?" tanya Pras pada gadis itu.


"Sudah di depan tv pak." jawabnya sambil berlalu.


"Maar.. Mana sarapan ku?" tanya Toni.


"Maaar.. Di mana baju hangatku? Kemarin aku jemur. kamu kan yang mgangkat jemuran?" tuduh bu Warsih.


"Memang saya yang angkat eyang. Tapi saya letakkan di ruang setrika." jawab Mar sambil membuatkan nasi goreng buat Toni.


"Pokoknya ambilin sekarang! Saya tidak mau tau!" bentak bu Wsrsih.


Setelah itu datang Rosti sambil menggaruk-garuk badanya.


"Mar, masak apa? Saya lapar." ucapnya sambil cengengesan.


"Kalau mau makan, sudah siap di meja makan mbak," ucap Mar panik.


"Aku tidak mau makan bersama mas Pras, soalnya kalau mau nambah, malu." ucap Rosti lugu.


"Mar, anak-anak sudah siap?" tanya Pras menghampiri Mar.


Rosti langsung menyingkir saat melihat Pras.


"Nasi goreng buat siapa Mar? Kamu kan sudah masak banyak di meja makan?" tanya Pras.


Belum sempat Mar menjawab, bu Warsih datang dengan marah -marah.


"Dasar pembantu lelet..! Aku suruh ambilin baju saja lama seka-li." bu Warsih menjadi gugup saat melihat Pras ada di situ.


"Ooh jadi begini kehebohan kalian setiap pagi? Bu, Mar ini bukan babu seperti yang babu bilang. Dan apa ini? Siapa yang pesan nasi goreng ini?" mata pras menyapu bu Warsih Toni dan Rosti.


"Mar sudah masak banyak di meja makan. Hargailah sedikit!"

__ADS_1


Ketiganya hanya menunduk. Tak berani menatap mata Pras yang sedang gusar.


"Kamu Ton, kalau mau sesuatu jangan minta Mar. Tugasnya sudah sangat banyak, suruh istrimu yang tidak ada kerjaan itu."


Mar berlinang air mata mendengar pembelaan majikannya itu.


"Saya saja yang menggajinya tak pernah menganggapnya pembantu." sindir Pras lagi.


Bu Warsih, Toni dan Rosti hanya bisa menunduk malu.


Nadia yang baru bangun, tertegun melihat keributan di dapur.


"Ada apa sih Mas?" tanyanya penuh selidik.


"Tanya saja pada mereka? Gara-gara mereka yang sok jadi majikan. Kayla dan Nayla belum siap sampai jam segini." omel Pras jengkel.


"Kamu ngapain saja Mar, masih ingat kan tugas-tugas yang saya sebutkan dulu?"


Mar mengangguk ketakutan.


"Kamu jangan marahin anak malang itu!" sentak Pras. Nadia menatap suaminya heran.


"Mas, aku tidak boleh menegur Mar. Tapi mas Pras bisa marah pada mereka," Nadia menunjuk ibu dan adiknya.


Bu Warsih dan Toni merasa besar kepala karna di bela oleh Nadia.


"Tidak usah di perpanjang. Kamu Mar, tidak usah kerjakan yang bukan tugasmu, siapapun yang menyuruhmu!"


Mar mengangguk tanda mengerti.


Keributan pagi itu berhenti saat Pras sudah berangkat kekantor.


"Kenapa sih mas Pras makin hari makin sensi," ucapnya kesal.


Ting sebuah notif masuk ke ponselnya.


Mata Nadia melebar saat membaca pesan itu.


[Nad, kita tertipu. Ternyata dukun yang berkedok ustad itu sudah di tangkap polisi]


Pesan dari Lena itu membuat kepalanya tiba-tiba pusing.


Ia terduduk lesu di sofa.


"Ustadz palsu? di tangkap polisi? Lau uang dan perhiasanku?"


Nadia memegangi kepalanya.


Di tengah kebingunganya. Ponselnya berdering lagi.


"Susi?" gumamnya.


"Iya Sus, ada apa? Hari ini aku tidak bisa keluar. Kepalaku pusing," keluhnya.


"Kau sakit Nad?" suara Susi lagi.


"tidak, i- iya," jawabnya gugup.


"Bagaimana? Kira kira bisa nggak kamu usahain uang lima ratus juta itu? Keuntunganya sangat menggiurkan lho."


"Aku pikir dulu ya Sus. Nanti kalau gimana gimana, aku kabari." Nadia menutup telponya.

__ADS_1


" Dimana aku dapat uang sebanyak itu?" pikirnya.


💕Hai, maaf lama up nya🙏🙏


__ADS_2