
Gadis itu cemberut, lalu asal mencomot makan yang ada di depannya yang ternyata martabak manis. Coklat dari martabak itu melumer di ujung bibirnya sampai belepotan. Kayla terus memakan dengan kesal karena pembalasan Kenzo barusan.
Tapi, aksi ngambeknya itu malah justru memancing kejahilan Kenzo lagi dan lagi.
Tangan pemuda itu terulur menyentuh ujung bibir Kayla membuat gadis itu terhenyak menatapnya. Ibu jari Kenzo menyapu coklat yang belepotan di ujung bibir Kayla, lalu dijilatnya sendiri di hadapan gadis itu.
"Manis," desisnya membuat Kayla semakin tak karuan. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat ini karena perlakuan Kenzo.
Apa hati Kayla akan luluh oleh pemuda yang bernama Kenzo?
Bukankah dulunya mereka musuhan?
Haish, sudahlah!
Menurut pepatah, lupakan masa lalu untuk sambut masa depan.
Apakah Kayla bisa melakukannya?
Oh May,
"Apa-apaan sih, Ken?!" wajahnya terlihat berpaling ke arah lain sebab pipinya sudah merona. "Sa-sana pulang! Ini udah malem," Kayla mengusir Kenzo namun tak ingin menatap wajah tampan di hadapannya.
Kenzo semakin terkekeh melihat tingkah Kayla yang menurutnya sangat-sangat lucu dan menggemaskan. Tangan nakal itu kembali mencubit kedua pipinya gemas sampai memerah. "Uluh-uluh, pacar aku lagi ngambek atau gimana? Kok nggak mau ngadep sini sih," desisnya terus menggoda.
"Ih, kamu ngapain sih cubit pipi mulu!" ketus Kayla sembari menepis keras tangan Kenzo yang terus menjawel pipinya gemas.
"Abis kamu lucu," selorohnya terus menggoda.
Kayla berdecak, "hemh. Biasanya juga elu gue, kenapa jadi aku kamu?"
"Pengen aja. Kenapa? Nggak boleh?" tanya Kenzo.
"Bukan nggak boleh, tapi jadi aneh!" sahut Kayla sebal.
Dan ... drama pun kembali terjadi di antara keduanya diiringi canda tawa dari Kenzo yang terus terkekeh sebab berhasil menggoda Kayla. Sementara gadis itu hanya bisa ngambek sembari memukul lengan atau paha pemuda itu.
Ketika sedang tertawa, tiba-tiba seekor tikus melompat dari atas palang-palang dan jatuh tepat di pundak Kayla hingga gadis itu menjerit ketakutan.
Tubuh Kayla terasa kaku ketika sebuah benda jatuh tepat di bahunya. "A-apa ini, Markoho?" Kayla tidak mau menoleh sebab merasakan kuku-kuku panjang menusuk di balik kaos oblong yang ia kenakan.
__ADS_1
Kenzo terlihat menahan tawa, namun pemuda itu menampilkan wajah serius di hadapan Kayla. "Onah. Bentuknya itu mirip dengan hewan pengerat, berkumis tipis kek si Saprol, bibirnya monyong dengan gigi-gigi kecil tapi tajam." ucapnya membuat Kayla menegang. "Mm ... Mungkin juga emang hewan pengerat sih!" lanjutnya kemudian membuat Kayla semakin bergidik ketakutan.
"Yang bener kamu, jelek!" seru Kayla dengan nada bergetar. Kenzo hanya mengangguk sebagai jawaban dengan wajah dibuat sesedih mungkin hingga Kayla sontak membulatkan matanya sempurna. Gadis itu pun perlahan menoleh ... dan ternyata .... "Aaaaarrrrggghhh ... tikuuuuuuuuuuusss!" ia pun melompat-lompat setelah menepis keras tikus tersebut dari pundaknya. "Huaaaaa, Markoho!"
Kenzo tertawa terbahak melihat gadis di hadapannya itu melompat-lompat karena ketakutan. Ia malah terus mempermainkan Kayla dengan menunjuk tikus yang berlarian ke sana-kemari yang mungkin kebingungan juga karena takut. "Itu tikusnya nyamperin ... itu ... itu ... Hahaha."
Tawanya mengudara sembari menggerakkan jari yang menunjuk-nunjuk ke arah tikus yang tengah berlarian.
Namun, tawa itu seketika terhenti karena Kayla melompat ke pangkuannya dengan menghadap depan. "Argh, Markoho. Aku takut tikus tahu," rengek Kayla yang berada dalam gendongan Kenzo.
Kedua tangan Kayla memeluk erat leher Kenzo dengan kedua kaki melingkar di pinggang pemuda itu. Wajahnya pun menyusup di antara ceruknya dengan nafas memburu.
Glek
Kenzo menelan ludahnya secara kasar sebab merasakan perasaan tak nyaman saat ini. Tubuhnya menegang seketika saat tubuh bagian depan Kayla menempel dengan tubuhnya serta nafas gadis itu menyapu sekitar lehernya.
Walaupun sama-sama memakai pakaian, tapi Kenzo bisa merasakan tonjolan itu menyentuh bagian dadanya.
"Umm, gede juga!" gumamnya tanpa sadar.
"Apa?" Kayla mendongakkan kepala menatap wajah tampan itu hingga membuatnya gelagapan.
Kenzo menggelengkan kepala. "I-itu tikusnya lumayan gede," celetuknya asal. "Ya udah, turun lu! Gue mau balik," ketusnya sembari melepaskan pegangan Kayla di lehernya.
"Elu serius minta gue nginep di sini?" Kayla mengangguk, sedangkan Kenzo menyeringai. "Nggak takut? Gue lebih galak dari tikus lho!" ujarnya sembari menaik-turunkan alisnya diiringi senyum culas.
Kayla menggelengkan kepala. "Pokoknya aku nggak mau ditinggal sendiri. Lebih baik digigit kamu dari pada digigit tikus," celetuknya tanpa sadar.
Wajah Kenzo terlihat berbinar. "Serius? Ya udah, gue gigit sekarang aja!" seketika Kayla tersadar saat wajah Kenzo menyusup di antara ceruknya, mendaratkan kecupan di sana.
Gadis itu segera turun dari gendongan Kenzo dan mundur beberapa langkah. "Ih, dasar mesum!" Kenzo hanya terkekeh menanggapi ejekan Kayla.
Malam semakin larut, namun keduanya tidak bisa memejamkan mata. Kayla yang takut akan kedatangan tikus lagi, hingga memaksa Kenzo untuk menemaninya.
Keduanya mengobrol hingga tak terasa waktu menunjukan tengah malam dan tanpa sadar mata keduanya pun terpejam.
Akhirnya, mereka berdua tidur dengan Kenzo yang bersandar di dinding dan Kayla bersandar di bahu pemuda itu.
•
__ADS_1
"Gimana Onah? Apa lu udah inget?" seloroh Kenzo menggoda dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Kayla hanya mendengus kesal setelah mengingatnya. "Huh, aku cuma gak sadar kalo tertidur di pangkuanmu!" ketusnya sebal karena Kenzo terus tersenyum. "Udah sana pulang! Aku mau siap-siap berangkat sekolah," usirnya kemudian.
"Idih, lu ngusir gue? Ckk, gak tahu terima kasih lu!" ketus Kenzo.
Kayla tidak menanggapi dan hanya menarik tangan Kenzo agar berdiri lalu mendorongnya keluar kamar.
"Setidaknya ngasih sarapan dulu buat gue tanda terima kasih, karena elu udah gue jagain semaleman sampai leher gue pegel." oceh Kenzo mencoba menawar pada Kayla.
Tapi Kayla terus mendorong tubuh jangkung Kenzo sampai ke luar kamar sambil berkata, "Bo ... do ... a ... mat!" ditutupnya pintu kamar itu dengan sekali sentak.
Kenzo mengetuk-ngetuk pintu kamar Kayla dengan keras.
Tok tok tok
"Ckk, Onah ... Markonah. Ya elah, lu gak tahu terima kasih ya jadi orang!" teriak Kenzo di balik pintu yang tertutup. "Astaga, gadis ini menyebalkan juga. Nyesel gue udah nungguin semaleman!" gerutunya masih terdengar ke dalam kamar.
Tak lama, pintu kamar Kayla terbuka kembali membuat bibir Kenzo melengkungkan senyuman. "Akhirnya lu sadar juga ka ...!"
Pluk
Jaket jeans itu mendarat tepat di wajah Kenzo dan tak lupa kunci motor juga ikut dilemparnya. "Pulang sana, udah siang!" Kayla melangkah ke kamar mandi setelah berkata.
Senyum Kenzo kembali memudar seiring hati yang dongkol. "Dasar Markonah, gak punya perasaan banget lu!" Kenzo menggerutu kesal.
Kakinya melangkah turun dari lantai dua kontrakan Kayla. Motornya perlahan keluar dari parkiran kontrakan dan melaju kencang di jalan beraspal menuju rumahnya.
Satu jam berlalu, sampailah ia di rumah besar milik keluarganya.
Pak satpam sudah nangkring di depan pintu pagar rumah dan membukakan pintu untuk anak majikannya itu.
"Pagi Den Kenzo!" sapa pak satpam sopan.
"Pagi, Pak Joko!" Kenzo mengangguk sedikit. "Oh iya, Pak. Mommy udah berangkat kerja belom?" tanya Kenzo setelah memarkirkan motor sportnya.
"Nyonya Mommy sudah berangkat ke Rumah Sakit, Den, kalau Nona Khanza baru saja keluar!" sahut pak satpam lalu melanjutkan perkataannya hingga menghentikan langkah Kenzo. "Itu ... anu, Den. Tuan Daddy akan pulang hari ini, jadi Nyonya Mommy berpesan agar Den Kenzo tidak ke mana-mana!"
Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Kenzo. Sepertinya ia tidak senang atas kedatangan sang ayah. "Nyesel gue balik," gumamnya masih bisa didengar pak satpam. Langkah kakinya melebar, memasuki rumah besar itu setelah mengangguk lemah kepada pak satpam.
__ADS_1
Pak Joko hanya menggelengkan kepalanya melihat anak majikannya itu. "Hemh, kasihan pemuda itu harus selalu tertekan.
...Bersambung ......