
Happy reading
đź’•đź’•đź’•đź’•đź’•
Diana terbaring di atas ranjang dengan posisi miring. Satu tangan menopang kepalanya, sedang tangan satunya sibuk mengusap-usap rambut Rangga. Sesekali dia mengecup kening bocah yang sedang tertidur lelap itu. Diana masih tersenyum memandangi wajah terlelap Rangga sampai akhirnya pintu kamar terbuka.
"Kau akan cepat tua jika wajahmu seperti itu terus." Reyhan muncul dari balik pintu lalu menutupnya kembali.
"Bagaimana?" tanya Diana tidak sabar. Dia langsung bangkit dan mendudukkan dirinya. “Apa sekretaris Jo sudah pulang?” sambungnya saat Reyhan melangkah memasuki kamar.
“He—em,” jawab Reyhan singkat sembari melepas kancing kemejanya.
“Lalu, papa?”
“Papa sudah tidur di kamarnya.”
“Terus bagaimana? Apa yang akan kalian lakukan?” Diana terlihat tidak sabar.
“Aku ganti baju dulu.” Reyhan mengabaikan ucapan Diana dan langsung masuk ke ruang ganti.
Selang beberapa menit Reyhan keluar dari ruang ganti sudah berganti memakai piyama tidurnya. Dia mendekati Diana yang kini duduk bersandar pada leher ranjang. "Kau kenapa belum tidur?"
__ADS_1
Diana menggeser duduknya agar Reyhan bisa duduk di sebelahnya. “Perasaanku tidak tenang, bagaimana aku bisa tidur? Apa yang kalian bicarakan tadi? Bagaimana pendapat papa?” cerca Diana dengan pertanyaan bertubi-tubi. Dia mendongak agar bisa menatap Reyhan. Wajahnya tampak gelisah, terlihat ketakutan dari sorot mata Diana.
Reyhan membuang napas dalam sembari merangkul bahunya. “Kamu tidak perlu memikirkan itu, biar aku dan Jonathan yang mengurusnya.” Mengecup puncak kepala Diana lembut.
Diana melingkarkan tangannya ke perut Reyhan dan membenamkan pipinya di dada bidang suaminya itu. “Aku hanya takut jika Laura membuktikan ucapannya.”
“Rangga itu putra kita. Kamu ibunya. Laura tidak akan bisa mengambilnya darimu,” tegas Reyhan meyakinkan Diana.
“Laura adalah ibu kandungnya, dia yang mengandung dan melahirkan Rangga.”
Diana menggigit bibir bawahnya kelu. Laura, wanita yang melahirkan Rangga, ibu kandung Rangga adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dia pungkiri. Seperti kata pepatah 'darah lebih kental daripada air'. Hubungan darah akan selalu lebih utama. Pandangan Diana menjadi berkabut mengingat kenyataan itu.
“Bagaimana kalau pengadilan menyetujui upaya hukum verzet yang diajukan Laura?"
“Aku benar-benar takut kalau ....” Air mata Diana kini sudah mengalir di kedua pipinya. Entah kenapa dia masih merasa gelisah.
“Dia tidak akan bisa mengambil Rangga dari kita, percayalah padaku!” Mengusap air mata Diana. “Kamu pikir aku dan papa akan membiarkan hal itu terjadi.”
Diana kembali menyusupkan wajahnya ke dada Reyhan. “Ya, aku percaya padamu. Aku hanya takut jika harus berpisah dari Rangga. Apalagi Laura bilang akan membawa Rangga pergi LN bersamanya.” Diana kembali terisak. Membayangkan berpisah jauh dengan Rangga, sungguh Diana tidak sanggup.
“Sudahlah, jangan berpikiran jauh seperti itu. Itu tidak akan pernah terjadi. Sekarang tidurlah, ini sudah hampir larut malam. Besok aku harus kembali ke kantor.” Reyhan melonggarkan pelukannya, kemudian mengecup kening Diana.
__ADS_1
Diana membalikkan badan menghadap Rangga. Diciumnya kening dan pipi bocah laki-laki itu sebelum akhirnya dia merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata sembari memeluk Rangga.
Reyhan menarik selimut untuk menyelimuti tubuh mereka, mematikan lampu sebelum merebahkan tubuhnya. Meletakkan punggung tangan di atas dahi, pandangannya lurus menatap langit-langit kamar. Terdengar dia menghembuskan napas kasar berkali-kali. Dari awal dia memang menduga hal ini pasti akan terjadi, tapi dia tidak menyangka Laura akan menggunakan Rangga sebagai alat untuk meraih ambisinya.
Sementara itu,
Di dalam mobil yang sedang melaju, Jonathan meraih ponselnya dan mendial nomor seseorang.
“Kamu di mana? Bisa kita bertemu sekarang?” katanya setelah terdengar jawaban dari seberang.
“....”
“Kenapa? Apa kamu takut bertemu denganku?” Jonathan menyeringai, “Ayolah, aku hanya ingin bernostalgia denganmu.”
“....”
“Baik aku ke sana sekarang.” Jonathan mematikan ponselnya kemudian melajukan mobilnya lebih cepat.
❤️❤️❤️❤️❤️
Keterangan:
__ADS_1
Verstek : putusan pengadilan yang dijatuhkan apabila tergugat dalam kasus perceraian tidak hadir atau tidak juga mewakilkan pada kuasanya untuk menghadiri sidang meskipun sudah dipanggil secara patut.
Verzet : upaya perlawanan terhadap putusan verstek.