
Usaha Khanza untuk membujuk Kayla ternyata membuahkan hasil. Gadis itu akhirnya setuju untuk menjadi asisten pribadi Khanza dan menangani semua pekerjaan Khanza jika dirinya tidak ada di tempatnya.
Memang benar sudah ada Vincent yang menghandle semua pekerjaan wanita tersebut, namun Khanza memerlukan asisten satu lagi untuk ditempatkan di butik dan toko yang baru saja dibelinya kemarin bersama Vincent.
Bukan tempat yang berada di area perumahan itu, melainkan tempat yang strategis dan dapat dipastikan ramai pengunjung.
Kayla sangat senang mendapatkan pekerjaan dengan mudah tanpa susah payah menyiapkan ijazah dan surat-surat lamaran lainnya. Apalagi menjadi asisten pribadi sang Bos. Huuh, siapa yang menyangka jika nasibnya seberuntung itu.
Sesungguhnya Khanza telah menyelidiki identitas Kayla dan mencari informasi luar dalam tentang gadis tersebut. Sungguh hatinya sedih saat mengetahui jika kehidupan Kayla sangat miris. Ayah dan ibunya meninggal saat usia Kayla tujuh tahun karena kecelakaan pesawat. Semenjak itulah dia tinggal bersama paman dan saudari sepupunya di rumah peninggalan orang tua Kayla. Tapi belum lama ini, gadis itu keluar dari rumah karena tak tahan dengan perlakuan pasangan ayah dan anak itu lalu sekarang Kayla tinggal sendirian di sebuah kontrakan kecil.
"Kakak menyelediki tentang kehidupanku sampai sejauh ini?!" Kayla tidak percaya terhadap wanita cantik di hadapannya.
Khanza nyengir menampilkan deretan gigi putihnya. "Maaf ya, bukan maksud Kakak menyelidiki kamu tanpa sebab. Kakak cuma simpati dan kagum aja sama kepribadian kamu yang tegar dan kuat saat menerima semua cobaan hidup," sahutnya menjelaskan. Ia tahu Kayla pasti akan marah, maka dari itu ia sudah menyiapkan jawaban yang mungkin akan Kayla pertanyakan.
Kayla tersenyum sembari mengangguk. "Terima kasih banyak atas kebaikan Kak Khanza. Aku nggak tahu harus bales kek gimana," cetusnya.
"Cukup dengan memberikan kesetiaanmu padaku, maka aku akan mempercayai apapun yang kamu katakan!" ujar Khanza serius.
Kayla segera memeluk Khanza dengan sangat bahagia. "Makasih ya. Kak. Makasih atas kesempatan ini. Aku janji akan bekerja sebaik mungkin dan nggak akan ngecewain Kak Khanza ... Emm maksudku Nona Khanza," ralatnya segera.
Khanza melotot sebelum membalas pelukan Kayla. "Hei. Kalo kita sedang berdua dan ngobrol santai kek gini, sebaiknya kamu panggil Kakak aja karena aku juga suka kalo dipanggil gitu."
"Umm, baiklah Kak Khanza!"
Kedua wanita beda usia itu pun tersenyum sembari berpelukan.
Dalam hati Khanza sangat senang bisa membuat senyum Kayla terukir indah seperti itu, sebab dirinya telah mengetahui betapa perihnya hidup yang dijalani Kayla semenjak kecil. Jika dirinya mengalami hal tersebut, mungkin ia tidak akan sanggup bertahan.
Mulai dari hari itu, Kayla bekerja di tempat Khanza sebagai asisten pribadinya yaitu mengawasi para pekerja di butik. Ia pun membantu yang lain saat pesanan harus segera dikirim. Kayla juga terkadang melayani pelanggan secara langsung dengan sabar dan ramah.
__ADS_1
Sikap ramah dan santun Kayla membuat para pelanggan senang hingga mereka pun memuji Kayla.
Gadis itu teramat senang dan bersyukur sebab Tuhan mempertemukan dirinya dengan wanita cantik yang baik hati bernama Khanza Alberto.
Eh, ngomong-ngomong kenapa namanya Khanza Alberto? Apa dia ada hubungannya dengan Kenzo Alberto? Apa mereka bersaudara? Apa mereka ... Ah, sebaiknya Kayla segera bertanya agar tidak penasaran lagi.
Tapi, sopan tidak ya menantakan hal itu padanya?
Hemh, mungkin aja itu kebetulan! Tepisnya jauh-jauh.
Kayla tidak ingin memikirkan hal apapun selain pekerjaan dan uang yang akan dihasilkannya untuk biaya kuliah. Walaupun dirinya belum resmi selesai sekolah menengah, tapi ia tetap harus mencari uang untuk biaya melanjutkan pendidikan.
\=\=\=\=\=\=
Malam itu Kayla pulang sangat larut sebab pekerjaan di toko sedang banyak-banyaknya karena ada pesanan mendadak hingga mengharuskan semua pekerja bekerja lembur.
Tubuhnya sangat lelah dengan wajah yang lesu. Kayla berjalan menaiki anak tangga satu-persatu.
Tidak lupa Kayla pun membersihkan tubuh agar bisa tidur dengan nyaman. Sudah cukup lama ia terbaring, namun matanya tidak mau terpejam seolah tak ada rasa kantuk yang menghinggapi. Padahal, ia sudah sangat kelelahan malam ini.
Lirikan mata tertuju ke arah jam dinding yang menggantung di atas pintu kamar kontrakan.
Tek ... tek ... tek
Bunyi khas dari langkah jarum jam setiap bergerak detiknya.
Perkataan Khanza masih bersemayam di pikiran Kayla sampai saat ini.
"Ambilah kartu ini sebagai hadiah dariku. Kamu enggak bisa menolak atau mengembalikan kartu ini kepadaku sebab kamu udah aku anggap seperti adikku sendiri. Ingat Kayla, bekerjalah sungguh-sungguh maka kamu bisa menikmati apapun yang kamu inginkan. Tapi, kalo kamu membuatku kecewa, maka bersiap-siaplah menggantu rugi semua yang akuberikan kepadamu termasuk kepercayaanku,"
__ADS_1
Kata demi kata yang terlontar dari mulut Khanza terus berputar hingga Kayla menerbitkan senyum ceria. "Aku nggak boleh bikin Kak Khanza kecewa. Semangat Kayla!"
Tangan Kayla memegang sebuah kartu kredit yang diberikan Khanza kepadanya. Kartu limited yang berjumlah tanpa batas itu, kini berada di tangan seorang gadis miskin sepertinya.
"Kak Khanza udah memberiku semua yang aku butuhkan. Aku harus lebih giat lagi." tekadnya dalam hati.
Kayla bersiap untuk tertidur sebab malam sudah semakin larut. Ia tidak inginsampai bangun kesiangan karena dirinya yang bergadang. Kayla pun mencoba memejamkan mata, namun matanya kembali terbuka sampai langsung terduduk setelah mendengar suara yang tidak asing baginya.
"Markonah!" panggilan akrab seseorang mengejutkannya.
Kayla terhenyak ketika suara Kenzo terdengar. "Markoho? Ah, enggak! Pasti ini mimpi," tepisnya. Mata Kayla mengerjap beberapa kali sembari menajamkan pendengarannya.
"Onah sayang!" kembali suara itu terdengar hingga Kayla menyapu seluruh ruangan. "Elu gak dateng waktu gue panggil, tapi giliran Frans yang manggil elu langsung dateng!" keluhan Kenzo terdengar sangat jelas.
Kayla berdiri untuk mencari sumber suara yang nyaris membuatnya jantungan. Pasalnya, sekarang sudah larut malam dan tempat ini adalah kontrakan khusus wanita. Jadi, Kayla takut kalau ibu Pariyem tahu bahwa ada seorang pemuda di kontrakannya. Bisa-bisa, Kayla ditendang Bu Pariyem sambil salto di jalan.
"Kenzo ... Ken ... ish ... Markoho ... kamu di mana?" Kayla berbisik untuk memanggilnya agar tidak ada orang yang mendengar.
Namun Kenzo malah berteriak saat menyahutinya, "Gue di sini!"
Kenzo terlihat sedang duduk anteng di kamar Kayla sambil tersenyum ke arahnya hingga membuat jantung Kayla nyaris copot.
"Haish ... Markoho!"
Kayla tidak percaya kenapa Kenzo bisa masuk ke kamarnya, padahal kamarnya di kunci. Dan kenapa tadi dia tak melihat keberadaan Kenzo sebelumnya?
Haish, nggak mungkin pokoknya!
"Ini mimpi ... ini mimpi ...!" Kayla tersenyum datar memandang wajah tanpan Kenzo.
__ADS_1
Kenzo merangkak mendekati Kayla yang sedang membaca mantra sambil tersenyum ke arahnya. "Menurut lu!" bisikan Kenzo seketika membuatnya tersadar jika diirinya sedang ...
...Bersambung ......