Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
BAB 110. ADA APA DENGANMU?


__ADS_3

Dara menggeliat, berusaha membuka mata, ketika tangis bayi memekik di telinganya.


"Sayang...Dimas bangun, ya...?" Dara bertanya tanpa membuka matanya.


"Uhm..."Windu hanya menjawab pendek, dia masih terbaring dengan mata tertutup.


Dara telah melahirkan seorang bayi laki-laki dua bulan sebelumnya, dengan proses normal. Dara memang memilih melahirkan secara normal dan dengan perjuangan yang hampir membuat Windu menangis saat Dara mengalami kontraksi dari sore sampai menjelang subuh.


Kisah melahirkan itu begitu alot, sampai-sampai Dara menggigit tangan sang suami sampai berdarah, Dara melahirkan dengan normal seperti permintaan Dara sendiri, meskipun Windu menawarkan lewat operasi Caesar saja.


"Aku tidak mempunyai kendala apa-apa kata dokter untuk bisa melahirkan normal. Jadi aku memilih persalinan normal saja." Begitulah kalimat Dara yang memang tak bisa di goyahkan jika dia sudah memutuskan.


Dan sepanjang proses pra persalinan sampai persalinan, Windu selalu berada di samping Dara. Dengan begitu dia semakinmengerti betapa beratnya perjuangan seorang ibu dalam melahirkan bayi ke dunia.


"Untuk melahirkan seorang anak, seorang ibu merasakan sakit yang luar biasa, ibarat hanya berpegang pada sehelai rambut. Nyawa adalah taruhannya. Tetapi dia akan melupakan rasa sakit dan penderitaan saat telah bertemu dengan wajah buah hatinya." Mama Windu pernah mengucapkan ini, dan setelah melihat bagaimana perjuangan Dara, Windu benar-benar mempercayainya.


Kenangan itu akan di ingat Windu sepanjang hidupnya, bagaimana dia begitu takut dan tegang bahkan membuat kakinya lemas hampir tak bisa bergerak. Melihat istrinya melahirkan membuatnya semakin mencintai Dara melebihi apapun juga.


Karena itulah setelah Dara melahirkan, Windu siaga satu dalam urusan membantu Dara mengurus "Sunny Darwin Danuar", bayi mereka.


Sunny berarti cahaya, Darwin gabungan dari nama Windu Dan Dara. Nama itu di berikan oleh Windu pada putra pertamanya yang tampan itu.



...***...

__ADS_1


Dara bangun dan mendatangi bayi yang berada di dalam boxnya. Wajah Sunny memerah karena menangis.


Di usia dua bulan, pertumbuhan Sunny terlihat pesat, meski dia anteng-anteng saja tidak terlalu rewel tetapi kalau dia merasa lapar atau buang air maka tangisannya sangat keras, bahkan wajahnya sampai memerah.


"Sayang, kamu kenapa?" Dara hendak mengangkat Sunny dan memeriksa pampers bayinya yang ternyata sudah penuh. Sunny mungkin merasa terlalu lembab sehingga tak nyaman.


"Papi, bisakah kamu ambilkan pampers Sunny?" Dara bertanya sambil menoleh pada Windu, biasanya sang suami segera bangun kalau mendengar tangis bayinya.


Windu tampak tak bergeming, tak seperti biasanya jika soal Sunny dia siaga satu bahkan dalam keadaan tidur sekalipun dia akan segera bangun.


Dara akhirnya mengurus Sunny sendiri, tak lagi berusaha mengganggu Windu.


Beberapa hari ini Windu memang sedikit tidak fit, Dara takut Windu kelelahan karena over protektif dalam mengurus Sunny.


Mereka tak kurang pembantu, bahkan ada seorang suster yang siap sedia mengurus Sunny, tapi Windu semaksimal mungkin selalu berusaha mengurus Sunny semampunya jika malam.


"Ada apa denganmu?" Dara mengantarkan bubur untuk Windu, paginya bahkan dia tidak ingin turun dari tempat tidur.


Pagi-pagi Dara membuatkan bubur ayam spesial untuk Windu, dia sedikit cemas dengan suaminya yang terlihat seperti sedang tidak sehat.


"Kita ke Dokter, ya? Atau nanti ku telponkan dokter Niko?" Dara memberikan mangkok bubur bersama nampannya menggunakan sebuah meja kecil ke atas tempat tidur yang biasa di gunakan Windu sarapan saat datang manjanya pada Dara.


"Aku baik-baik saja. Hanya mungkin sedikit kelelahan atau mungkin sistem imunku lagi turun." Windu menyahut sambil berusaha duduk tegak.


"Ini biasa saja, kalau kelelahan memang seperti ini...tapi nanti baik sendiri." Windu menyuap buburnya dan berusaha tersenyum pada Dara meskipun wajahnya sedikit pucat.

__ADS_1


"Mama dulu bilang, sejak beranjak dewasa kak Win adalah orang yang paling sulit di bawa ke dokter. Harus di paksa dulu, biar mau bertemu dokter. Sejak mama meninggal, rasanya belum pernah sekalipun Kak Win ke dokter." Dara melirik Windu.


"Untuk apa aku ke dokter, sayang? Masa orang sehat di suruh berobat." Seloroh Windu.


"Tapi akhir-akhir ini, kak Win sepertinya sedang tidak terlalu sehat."


"Aku akan segera pulih sayang, hanya kecapekan saja."


"Mulai hari ini, papi Sunny tidak usah ikut bangun malam-malam.


Biar aku saja yang mengurus Sunny." Dara melipat selimut dari sebelah Windu.


Sunny sudah di antarnya ke bawah untuk di mandikan oleh Suster sementara dia turun ke dapur untuk memasak tadi.


"Ugh...." Windu tiba-tiba membekap mulutnya sendiri.


"Ada apa denganmu?" Tanya Dara berpaling menatap Windu dengan sigap, matanya berbinar cemas.


Windu tak menjawab, tetapi wajahnya menunjukkan rasa mual yang di tahan dan dia tidak sedang baik-baik saja.


"Aku akan panggilkan dokter Niko!"


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...

__ADS_1


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2