Di Antara Dua Hati

Di Antara Dua Hati
Bab 185


__ADS_3

Happy reading


💕💕💕💕💕


Diana baru membuka mata saat Reyhan keluar dari ruang ganti. Dia perlahan bangkit, lalu duduk bersandar di ranjang. "Jam berapa sekarang? Kenapa kau sudah siap-siap ke kantor?" tanyanya lemah.


"Kau sudah bangun." Reyhan melangkah ke cermin, membenarkan posisi dasinya. Dia melirik Diana dari pantulan di cermin. Melihat wajah Diana yang pucat, dia memutuskan mendekatinya dan duduk di sisi ranjang dekat Diana.


"Ini baru jam tujuh, kau masih pusing?" Reyhan menyentuh kening Diana kemudian beralih ke leher. "Sudah tidak sepanas tadi malam," gumamnya.


"Hm, aku udah gak apa-apa." Diana tersenyum tipis. Semalam dia memang sempat pusing dan demam, tetapi pagi ini dia merasa sudah lebih baik. "Kau akan berangkat sekarang? Biar aku siapkan sarapan." Diana sudah menyibak selimut hendak ke pantry menyiapkan sarapan, tetapi dicegah Reyhan.


"Sudah, kau di kamar saja. Tidak usah memikirkan sarapanku, di bawah banyak pelayan. Kau pikir untuk apa aku menggaji mereka."


Diana terkekeh pelan. Dia menyukai sikap Reyhan yang seperti itu. Arogan. Sudah sembilan tahun sejak kepulangannya kembali ke rumah Reyhan. Umur mereka semakin bertambah, wajah mereka sudah semakin menua, dan cinta Diana untuk Reyhan juga semakin bertambah. Begitu juga dengan Reyhan, dia masih memperlakukan Diana dengan mesra walaupun mereka kini telah memiliki cucu. Ya, enam tahun lalu Cinta telah menikah dan memiliki seorang putri, tetapi Diana dan Reyhan yang mengasuhnya sesuai kesepakatan Reyhan dengan suami Cinta.


"Aku hanya ingin melayani suamiku."


Reyhan terdengar berdecak. Dia berusaha membaringkan tubuh Diana sebelum wanita itu protes kembali. "Tidak perlu, kau masih sakit, wajahmu masih pucat. Beristirahatlah, melayaniku bisa besok. Yang penting kau harus benar-benar sembuh dulu."


"Tapi Rey—"


Tok! Tok! Tok!


"Ayah, Ibu?"


Terdengar suara Rangga dari balik pintu kamar mereka.


Reyhan dan Diana saling pandang. "Seperti suara Rangga," gumam Diana.


"Ayah, Ibu, kalian sudah bangun?" Suara itu terdengar tidak sabar.


"Tumben Rangga gedor-gedor kita sepagi ini." Diana mengernyit heran.


"Biar aku yang bukain, kau diamlah di sini."


Reyhan segera menuju pintu dan benar saja Rangga sudah berdiri di sana. Putranya itu terlihat gusar.

__ADS_1


"Ayah—"


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Sunny?"


"Tidak Yah, bukan Sunny."


"Lalu? Kenapa kau ribut sepagi ini?"


"Begini Yah, aku harus berangkat ke Singapura sekarang."


"Kenapa mendadak? Bukannya kemarin kau bilang minggu depan?" Ada nada kesal yang Rangga tangkap dari suara Reyhan.


Reyhan masih merindukan putranya itu setelah lima tahun mereka tinggal berjauhan. Lima tahun lalu Rangga mengalami kecelakaan parah dan sejak saat itu Laura memutuskan mengajak Rangga tinggal bersamanya di Singapura. Apalagi sekarang Rangga akan membawa serta istrinya ke Singapura juga. Tentu saja rumah besar Reyhan akan semakin kosong dan dia akan semakin kesepian.


"Tadi rencananya begitu Yah, tapi barusan Ayah Jonathan meneleponku, katanya Ben ditahan polisi. Aku harus ke sana membantu Ayah Jonathan menyelesaikan masalah Ben," terang Rangga dengan wajah panik dan serba salah.


"Memangnya ada masalah apa sampai Ben ditahan polisi?"


"Aku juga belum tahu pasti Yah, Ayah Jonathan bilang ada yang melaporkan Ben atas tuduhan penculikan dan penganiayaan."


"Benarkah? Setahu ayah, Ben itu tidak badung sepertimu, bagaimana bisa dia menculik dan menganiaya."


"Memangnya siapa yang Ben culik?"


"Seorang gadis—"


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️


Sore ini di taman belakang, Reyhan dan Diana duduk di atas ayunan. Angin sepoi-sepoi menyapu wajah mereka. Reyhan menidurkan kepalanya di pangkuan Diana, memejamkan mata, menikmati sentuhan jemari Diana yang menyusuri garis-garis wajahnya.

__ADS_1


"Kau tidak bosan memandang wajah keriput ini," cibir Reyhan yang menyadari sejak tadi Diana tersenyum sendiri memandangi wajahnya yang telah dipenuhi kerutan.


"Aku tidak pernah bosan memandangmu, tidak akan pernah. Semasih Tuhan memberi aku waktu untuk memandangmu, semasih mata ini bisa memandangmu, aku akan terus memandangmu."


Reyhan segera membuka mata, lalu bangkit perlahan. Dia terkekeh pelan seraya menghela Diana ke dalam rengkuhannya. "Diana Larasati, terima kasih atas empat puluh tahun kebersamaan kita, terima kasih telah bersedia menjadi istri dari pria arogan sepertiku, menemani pria tua ini di sisa-sisa akhir hidupnya. Aku mencintaimu. Mencintaimu sampai akhir hayatku." Reyhan mengecup lembut dahi Diana.


"Aku juga." Diana mendongak memerhatikan siluet Reyhan. Umur Reyhan sudah mencapai tujuh puluh tahun. Rambut telah memutih sepenuhnya dan kulit wajah yang telah keriput. Namun, wajah tua itu tetap menawan apalagi senyumnya. Diana tidak akan pernah bosan melihat senyum Reyhan.


Kalau saja dulu Diana tidak mengindahkan keinginan Sandra dan tetap kukuh menikah dengan Bayu daripada duda satu anak ini, mungkin dia tidak akan sebahagia sekarang.


Diana bersyukur memiliki segalanya sekarang. Cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan.


Diana bersyukur memiliki papa seperti Surya yang sangat menyayanginya. Dia bersyukur memiliki mama seperti Soraya karena biar bagaimanapun juga, Soraya yang secara tidak sengaja membuka jalannya bertemu Reyhan. Dia bersyukur memiliki tante seperti Sandra, walaupun perintahnya terdengar kejam di awal, tetapi berkat dia, Diana memiliki Reyhan yang menjadi sumber kebahagiannya.


Terakhir yang membuat Diana bersyukur dan yang akan selalu dia syukuri, tentu saja menjadi istri dari seorang Reyhan Aditya Wijaya.


"Oma, Opa." Seorang gadis berparas ayu dengan dimples di kedua pipinya tersenyum mendekati Reyhan dan Diana.


Reyhan dan Diana segera menoleh dan balas tersenyum. "Ada apa, Sayang?" jawab Reyhan.


"Bunda, meminta Opa sama Oma ke ruang tengah. Calon suamiku dan keluarganya sudah datang," ujar gadis itu malu-malu.


Reyhan dan Diana saling pandang, lalu saling melempar senyum bahagia. Sebentar lagi anggota keluarga mereka akan bertambah karena putri pertama Cinta akan menikah.


Reyhan bangkit lebih dulu, lalu mengulurkan tangan pada Diana. "Ayo, kita sambut calon suami cucu kita yang akan memberi kita cicit."


Ada yang bilang, di mana pun kita berada jika ditakdirkan untuk berjodoh pasti akan dipertemukan. Meskipun mereka berada di belahan bumi yang berbeda, takdir akan mempertemukan dan menyatukan yang berhak bersama.


End


❤️❤️❤️❤️❤️


Akhirnya novel ini end juga, huufftt lega rasanya🤭 terima kasih ya readers tersayang yang sudah menemani dan mendukung novel ini dari awal sampai akhir. Lope2 sekebon toge deh pokoknya ❤️❤️❤️❤️❤️ makasi banyak2 all🤗.


Ditunggu karya aku berikutnya ya guys. Jika tidak ada halangan awal bulan aku mulai up. Jangan lupa di favoritin ya karena nanti aku umumin novel terbaru aku di sini🤗Dan besok aku up extra part untuk Diana.


Nah untuk yang pingin tahu kisah Ben, adiknya Rangga yang ketua BEM yang ditahan polisi itu bisa berkunjung ke novel aku yang berjudul "Kamulah Takdirku" tapi siapin tissu yang banyak ya karena kalian akan mewek dari awal.

__ADS_1



Ok, guys sampai ketemu besok😉


__ADS_2